21/3/20268 min readFR

Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan Rahmat terhadap HewanTemukan bagaimana Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menunjukkan kasih sayang terhadap hewan melalui Sunnah, dengan kisah-kisah menyentuh tentang burung-burung, bagal, dan makhluk-makhluk yang terlantar di Fez.

Skiredj Library of Tijani Studies

Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan Rahmat terhadap Hewan: Sebuah Teladan Kenabian tentang Kasih Sayang

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Sayyidina Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Di antara pertanyaan mulia yang diajukan oleh para pengamal jalan Tijani ialah ini: bagaimana Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, memperlakukan hewan, burung, dan makhluk hidup lainnya? Jawabannya sekaligus indah dan memberi pelajaran. Kehidupannya menunjukkan bahwa rahmat dalam Islam tidak terbatas pada manusia semata. Ia meliputi setiap makhluk hidup.

Artikel ini menyajikan satu sisi penting dari kepribadian Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī: kelembutannya, kasih sayangnya, dan kepedulian mendalamnya terhadap hewan. Ia juga menunjukkan bagaimana rahmat ini tidak lain adalah kelanjutan dari Sunnah Nabi.

Rahmat sebagai bagian dari warisan kenabian Syekh

Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, dikenal dengan rahmat dalam setiap ranah. Kelembutannya kepada manusia sudah sangat dikenal, dan sikapnya terhadap orang-orang yang berada dalam pemeliharaannya merupakan teladan. Namun, rahmatnya juga tampak pada cara ia memperlakukan hewan, baik hewan ternak, burung, maupun makhluk lainnya.

Orang-orang yang mengenalnya bersaksi bahwa kasih sayangnya dalam perkara ini luar biasa. Salah seorang ulama yang dekat dengan tradisi jalan tersebut mengatakan bahwa Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī telah mencapai derajat yang menakjubkan dalam rahmat, sebuah derajat yang mencerminkan warisan mendalam dari Rasulullah, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya.

Ini tidak mengherankan. Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, dan para wali Allah mewarisi dari rahmat itu sesuai dengan maqam mereka.

Seekor burung tidak boleh dibiarkan sendirian dalam penderitaan

Salah satu peristiwa yang mencolok berkaitan dengan sebuah hadiah yang dibawa kepada Syekh di Fez. Seorang syarif yang mulia, Sidi Musa ibn Ma‘zuz, pernah datang ke rumah Syekh dengan membawa seekor burung air sebagai hadiah. Seorang pelayan mengambil burung itu dan menempatkannya di dalam baskom air di halaman.

Ketika Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, memandang ke arah baskom dan melihat burung itu bergerak di sana sendirian, ia segera menegur salah seorang pelayannya dan berkata—secara makna:

Lihatlah itu. Jika ia jantan, maka carikan baginya betina. Jika ia betina, maka carikan baginya jantan, karena ia tersakiti bila sendirian tanpa pasangan.

Pelayan itu memeriksa burung tersebut dan mendapati bahwa ia betina. Ia kemudian langsung pergi ke pasar untuk membeli seekor burung jantan dan membawanya kembali, lalu menempatkannya di sisi burung betina, persis sebagaimana yang diminta Syekh.

Kisah ini mengagumkan karena beberapa alasan. Pertama, ia menunjukkan bahwa Syekh tidak memandang hewan sebagai sekadar benda. Ia mengenali keadaan mereka dan kebutuhan mereka. Kedua, ia menunjukkan kepekaan yang halus: kesepian dan kesusahan bukan hanya kenyataan manusiawi. Ketiga, ia memantulkan rahmat yang berakar pada bashirah (kejernihan pandang), bukan semata-mata perasaan.

Diriwayatkan bahwa ketika seseorang menyatakan keheranan atas kepedulian semacam itu, Syekh menjawab dengan cara yang menunjukkan bahwa tidak setiap kebenaran hidup tertulis dalam buku-buku. Ada hal-hal yang diketahui melalui kebijaksanaan yang hidup, penyucian ruhani, dan rahmat.

Menolak membebani bagal yang kelelahan

Kisah terkenal lainnya menunjukkan penolakan Syekh untuk mengambil manfaat dari penderitaan hewan.

Suatu hari di Fez, Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, hendak memindahkan sebagian barang miliknya dan meminta seorang pengangkut. Datanglah seorang lelaki dengan seekor bagal yang sudah dipenuhi muatan ikatan-ikatan hasil pertanian yang berat. Hewan itu lemah, terluka, kurus, dan tampak jelas kelelahan.

Begitu Syekh melihat keadaan bagal itu, ia berpaling darinya. Ia menegur pemiliknya atas perlakuan buruk terhadap hewan tersebut dan karena menaruh beban sedemikian besar pada seekor makhluk yang sudah dihimpit kesukaran.

Sang pemilik bersikeras dan tetap menawarkan untuk membawa barang-barang Syekh. Namun Syekh menolak dan mengucapkan sebuah ungkapan yang terkenal dalam bahasa Arab Maroko yang maknanya adalah:

Ia sudah cukup dengan bebannya sendiri; aku tidak akan menambahkan bebanku kepadanya juga.

Kalimat ini merangkum seluruh satu etika. Syekh tidak sekadar menolak kekejaman. Ia menolak kemudahan yang dibeli dengan rasa sakit makhluk lain. Ia tidak membiarkan kebutuhannya sendiri menambah penderitaan seekor hewan yang telah dilanda kesusahan.

Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjelaskan perkara tersebut melalui Sunnah Nabi, dengan mengingatkan hadits masyhur bahwa Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, memasuki sebuah kebun dan mendapati seekor unta menangis. Rasulullah, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, mengusap air matanya dan menanyakan siapa pemiliknya. Lalu beliau berkata kepada pemiliknya:

Tidakkah engkau takut kepada Allah mengenai hewan ini yang Allah tempatkan dalam kepemilikanmu? Ia mengadu kepadaku bahwa engkau membiarkannya lapar dan memaksanya bekerja terlalu berat.

Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī jelas hidup dengan standar kenabian ini.

Merawat hewan yang terlantar dan sekarat

Kisah ketiga bahkan lebih mengharukan.

Pada suatu kesempatan, Syekh sedang kembali dari luar tembok Fez bersama beberapa pelayannya.Near salah satu gerbang kota, ia melihat seekor hewan tergeletak di tempat pembuangan sampah. Hewan itu masih hidup, tetapi nyaris saja. Ia sangat lemah, amat kurus, sakit, dan dekat dengan kematian.

Pemiliknya telah membuangnya di sana demi kemudahan yang egoistis, tampaknya karena takut akan biaya untuk menyingkirkannya dengan semestinya jika ia mati di dalam kota.

Ketika sang Syekh melihat hewan itu, ia bertanya siapa pemiliknya. Setelah mengetahui rinciannya, ia sangat berduka atas apa yang telah dilakukan. Lalu ia menoleh kepada salah seorang pelayannya dan berkata secara makna:

Berikanlah ia makanan dan air sampai ia mati. Tidak halal membiarkannya begini dalam kelaparan.

Sang pelayan kemudian terus merawat hewan itu, memberinya makan dan minum hingga Allah menetapkan kematiannya.

Peristiwa ini menyingkap kejernihan moral sang Syekh. Bahkan ketika hewan itu sudah di luar kemungkinan pulih, rahmat tetap merupakan haknya. Fakta bahwa ia lemah, tersisih, dan dekat mati tidak menggugurkan haknya untuk dirawat. Bahkan sebaliknya, kelemahannya menjadikan rahmat kian mendesak.

Kasih sayangnya berakar pada Sunnah

Kisah-kisah ini bukan keanehan yang berdiri sendiri. Ia merupakan ungkapan dari pemahaman yang sangat Islami tentang rahmat.

Perilaku sang Syekh mengikuti secara langsung ajaran Nabi, shalawat dan salam atas beliau. Islam tidak membenarkan kekejaman terhadap hewan. Ia melarang penelantaran, penganiayaan, pembebanan yang tidak perlu, pembiaran lapar, dan sikap tak peduli terhadap penderitaan.

Hadis yang masyhur menyatakan bahwa seorang perempuan masuk Neraka karena seekor kucing yang ia kurung: ia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya makan dari makhluk-makhluk di bumi.

Hadis sahih lainnya mengisahkan seorang laki-laki yang menemukan seekor anjing kehausan, terengah-engah di dekat sebuah sumur. Ia turun ke dalam sumur, memenuhi sepatunya dengan air, lalu memberi anjing itu minum. Allah menerima perbuatan itu, mensyukurinya, dan mengampuninya. Ketika para Sahabat bertanya apakah ada pahala dalam berbuat baik kepada hewan, Nabi, shalawat dan salam atas beliau, menjawab:

Pada setiap makhluk hidup yang memiliki hati yang basah terdapat pahala.

Ini adalah salah satu landasan paling jelas dari rahmat Islam terhadap hewan. Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī mewujudkan ajaran ini dalam praktik.

Apa yang diajarkan kisah-kisah ini kepada kita hari ini

Riwayat-riwayat ini bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah pelajaran untuk masa kini.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa:

hewan bukanlah alat tanpa hak

mempekerjakan mereka secara berlebihan atau menelantarkan mereka adalah tercela secara moral

memberi makan dan minum mereka adalah amal berpahala

rahmat mesti meluas bahkan kepada makhluk yang lemah, ditinggalkan, atau sekarat

spiritualitas sejati tidak pernah terpisah dari kasih sayang

mengikuti Sunnah mencakup kelembutan kepada seluruh makhluk hidup

Seseorang boleh jadi banyak berbicara tentang agama, ibadah, dan zikir, namun gagal dalam ujian rahmat. Tetapi para wali Allah mengajarkan dengan teladan hidup. Spiritualitas mereka tampak dalam shalat, zikir, kejujuran, kerendahan hati, dan juga dalam cara mereka memperlakukan yang rentan.

Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sebagai teladan rahmat yang hidup

Bagi kita, sebagai kaum Tijani, kisah-kisah ini memperdalam pemahaman kita tentang watak sang Syekh. Ia bukan hanya seorang guru ilmu ruhani dan zikir Ilahi. Ia juga seorang lelaki yang hatinya hidup oleh kelembutan, keadilan, dan rahmat.

Kasih sayangnya kepada hewan bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ia adalah perpanjangan dari kesetiaannya kepada Rasulullah, shalawat dan salam atas beliau. Itulah sebabnya hidupnya tetap memberi pelajaran. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan rahmat, bukan kekerasan hati.

Sebuah jalan yang mengaku mencintai Nabi mesti mencerminkan rahmat Nabi. Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī melakukan persis hal itu.

Kesimpulan

Kehidupan Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, menunjukkan bahwa rahmat kepada hewan bukanlah perkara sekunder dalam Islam. Ia bagian dari iman, bagian dari akhlak, dan bagian dari warisan kenabian.

Entah itu seekor burung yang kesepian, seekor bagal yang kelelahan, atau seekor binatang sekarat yang ditelantarkan pemiliknya, sang Syekh menanggapinya dengan perhatian, kasih sayang, dan kesungguhan moral. Ia menolak kekejaman. Ia menolak ketidakpedulian. Ia menolak menambah beban pada sesuatu yang sudah terbebani.

Dalam hal ini, sebagaimana dalam begitu banyak perkara lainnya, ia mengikuti Sunnah kakeknya yang mulia, Sayyidina Muhammad, shalawat dan salam atas beliau.

+++