82 wisdoms

Tijani Wisdoms

Selected sayings of Shaykh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, drawn from the foundational books of the Path.

Wisdom of the day
Dan tobat kaum khusus ialah kembali dari segala sesuatu kepada Allah dengan berlepas diri dari seluruh selain-Nya. Hadis menunjukkan tobat ini dengan sabdanya صلى الله عليه وسلم: ((Berhijrahlah kepadaku dari dunia dan apa yang ada di dalamnya)). Dan ayat pun menunjukkan tobat ini. Ia سبحانه وتعالى berfirman: (Maka berlarilah kalian kepada Allah; sesungguhnya aku bagi kalian dari-Nya adalah pemberi peringatan yang nyata; dan janganlah kalian menjadikan bersama Allah tuhan yang lain) ayat.

Les Perles des significations, t. 2, p. 587

The Pearls of Meanings, Vol. II

View book
1The Pearls of Meanings, Vol. II
Dan tobat kaum khusus ialah kembali dari segala sesuatu kepada Allah dengan berlepas diri dari seluruh selain-Nya. Hadis menunjukkan tobat ini dengan sabdanya صلى الله عليه وسلم: ((Berhijrahlah kepadaku dari dunia dan apa yang ada di dalamnya)). Dan ayat pun menunjukkan tobat ini. Ia سبحانه وتعالى berfirman: (Maka berlarilah kalian kepada Allah; sesungguhnya aku bagi kalian dari-Nya adalah pemberi peringatan yang nyata; dan janganlah kalian menjadikan bersama Allah tuhan yang lain) ayat.

Source: Les Perles des significations, t. 2, p. 587

View book
2The Pearls of Meanings, Vol. I
Al-Qur’an adalah zikir yang paling utama, namun suluk dengannya disyaratkan bahwa pembacanya harus menakar dirinya dalam dirinya sendiri: bahwa ia menyaksikan dirinya, pada waktu tilawah, bahwa Rabb Subḥānahu wa Ta‘ālā-lah yang membacakannya kepadanya dan ia mendengarkan. Maka jika keadaan ini terus menetap padanya dan ia bersifat dengannya, niscaya ia tersambung dengan fanā’ yang sempurna; dan itulah pintu sampai kepada Allah Ta‘ālā. Wassalām.

Source: Les Perles des significations, t. 1, p. 339

View book
3The Pearls of Meanings, Vol. I
Sesungguhnya siapa yang mengambil wirid kami dan mendengar apa yang ada di dalamnya tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, serta bahwa suatu maksiat tidak membahayakannya; sesungguhnya siapa yang mendengar hal itu lalu melemparkan dirinya ke dalam kemaksiatan kepada Allah karena apa yang ia dengar, dan menjadikan hal itu sebagai jerat menuju rasa aman dari hukuman Allah atas kemaksiatannya, niscaya Allah memakaikan pada hatinya kebencian kepada kami hingga ia mencaci kami. Maka apabila ia mencaci kami, Allah mematikannya dalam keadaan kafir. Maka waspadalah kalian dari maksiat kepada Allah dan dari hukuman-Nya. Dan siapa di antara kalian yang Allah tetapkan menimpanya suatu dosa—sedangkan seorang hamba tidak ma‘ṣūm—maka janganlah ia mendekatinya kecuali dengan hati yang menangis, takut terhadap hukuman Allah. Wassalām.

Source: Les Perles des significations, t. 1, p. 268

View book
4The Pearls of Meanings, Vol. II
Dan jauhilah kalian—dan kepada Allah tempat berlindung—mengenakan jubah rasa aman dari makar Allah dalam bergelimang dosa, dengan keyakinan seorang hamba bahwa ia aman dari Allah akan mengambilnya karena hal itu; karena sesungguhnya siapa yang berdiri pada posisi ini di hadapan al-Ḥaqq Ta‘ālā dan terus-menerus di atasnya, maka itu adalah pertanda bahwa ia akan mati sebagai kafir—dan kepada Allah Ta‘ālā tempat berlindung.

Source: Les Perles des significations, t. 2, p. 764

View book
5Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Ada tiga perkara yang memutus murid dari kami: mengambil wirid di atas wirid kami, menziarahi para wali, dan meninggalkan wirid.

Source: Le bienfait ahmadien, article 63

View book
6Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Duduk bersama orang-orang yang membenci adalah racun yang merayap pada diri pemiliknya.Dan termasuk dalam makna ini:Pilihlah bagi dirimu orang yang taat = sesungguhnya tabiat mencuri tabiat

Source: Le bienfait ahmadien, article 67

View book
7Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Seandainya kalian mengetahui keutamaan yang ada dalam wazifah, niscaya kalian akan mendatanginya dengan merangkak.Sebabnya: bahwa sebagian saudara terasa berat baginya datang untuk wazifah karena lanjut usianya, berat badannya, dan jauhnya rumahnya; dan ketika itu musim adalah musim dingin; maka ia mengemukakan uzur tentang keadaannya kepada sayyidinā—raḍiya Allāhu ‘anhu—maka beliau menyebutkannya.

Source: Le bienfait ahmadien, article 127

View book
8Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Seandainya para pembesar kaum ‘ārifīn mengetahui keutamaan yang ada di zawiyah, niscaya mereka akan mendirikan tenda-tenda mereka di atasnya.

Source: Le bienfait ahmadien, article 128

View book
9Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Makna “lā ilāha illā Allāh” ialah: tiada sesembahan yang benar selain Allah. Adapun ucapan sebagian mereka: “tiada yang merasa cukup (mustaghnī),” itu bukanlah yang dimaksud oleh Syāri‘ ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam, karena di dalamnya tidak ada tuntutan untuk beribadah kepada Allah. Dan maksud beliau ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam adalah agar manusia diajak untuk beribadah kepada Allah Ta‘ālā.

Source: Le bienfait ahmadien, article 177

View book
10Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa menghendaki istiqamah pada zaman ini, maka ia seperti orang yang hendak membangun tangga ke langit.Sebabnya: bahwa sebagian أهل البيت memintanya agar beliau mendoakan untuknya dengan istiqamah. Maka beliau berkata kepadanya: “Allah menghadap kepadamu dengan karunia-Nya dan keridaan-Nya.” Lalu beliau ditanya: mengapa beliau tidak mendoakan dengan istiqamah? Maka beliau menyebutkan hal itu. Lalu permintaan istiqamah itu diulang kepadanya, maka beliau berkata kepadanya: “Aku telah berkata kepadamu: Allah menghadap kepadamu dengan karunia-Nya dan keridaan-Nya—engkau dalam keadaan istiqamah atau bengkok; apabila Dia menghadap dengan karunia-Nya dan keridaan-Nya, Dia—Subḥānahu—tidak memedulikan istiqamahmu dan tidak pula kebengkokanmu. Dan setelah manusia dapat istiqamah pada zaman ini, ia tidak mendapatkan orang bersama siapa ia dapat istiqamah.”

Source: Le bienfait ahmadien, article 182

View book
11The Pearls of Meanings, Vol. II
Ketidaktahuan terhadap Allah Ta‘ālā adalah kekufuran yang terang-terangan, yang telah disepakati bahwa pelakunya akan kekal di neraka selama-lamanya; dan ketidaktahuan terhadap Allah Ta‘ālā adalah ma‘rifat kepada Allah Ta‘ālā itu sendiri, dan iman yang murni, yang telah disepakati bahwa pelakunya akan kekal di surga selama-lamanya. Adapun ketidaktahuan yang merupakan kekufuran itu sendiri, maka ia adalah ketidaktahuan terhadap martabat ketuhanan-Nya, terhadap apa yang menjadi hak-Nya berupa segala kesempurnaan, kelaziman-kelaziman, dan konsekuensi-konsekuensinya, serta terhadap apa yang Dia Mahasuci darinya berupa berbagai sisi kemustahilan; maka inilah kekufuran kepada Allah itu sendiri. Adapun ketidaktahuan yang kedua: maka ia adalah ketidaktahuan terhadap hakikat yang merupakan kunh (inti terdalam) Zat dari segi Zat itu sendiri sebagaimana adanya; karena ketidaktahuan ini adalah iman yang murni dan kesempurnaan ma‘rifat kepada Allah, sebab hakikat ketidakmampuan untuk menangkap ma‘rifat terhadap kunh itu adalah hakikat iman kepada Allah. Dan barang siapa mengaku mengetahui kunh, maka sungguh ia telah kafir (Jawāhir al-Ma‘ānī. 2: 668)

Source: جواهر المعاني. 2: 668

View book
12The Pearls of Meanings, Vol. I
Sesungguhnya al-Ism al-A‘ẓam ialah yang khusus bagi Zat, tidak selain-Nya; dan ia adalah nama al-iḥāṭah (yang meliputi segala sesuatu). Ia tidak terwujud dengan seluruh kandungannya kecuali pada satu orang dalam sepanjang masa, yaitu al-fard al-jāmi‘ (individu yang menghimpun). Inilah al-ism al-bāṭin. Adapun al-Ism al-A‘ẓam yang ẓāhir, maka ia adalah nama martabat, yang menghimpun martabat ulūhiyyah dari sifat-sifat Ilah dan ma’lūhāt-Nya (segala yang diilahikan/menjadi objek pengilahian). Di bawahnya ada martabat asmā’ at-tashtīt (nama-nama yang memecah-rinci), dan dari nama-nama inilah limpahan-limpahan para wali. Maka siapa yang merealisasikan suatu sifat, limpahannya sesuai dengan nama itu. Dari sini, maqām-maqām mereka menjadi berbeda-beda, demikian pula aḥwāl mereka. Dan seluruh limpahan martabat itu hanyalah sebagian dari limpahan Ism adz-Dzāt al-Akbar. (Jawāhir al-Ma‘ānī. 1: 170)

Source: جواهر المعاني. 1: 170

View book
13The Pearls of Meanings, Vol. I
Makhluk pertama yang Allah Ta‘ālā wujudkan dari ḥaḍrah al-ghayb ialah ruh Sayyidunā Muḥammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian Allah mengembangbiakkan ruh-ruh alam semesta dari ruh beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan “ruh” di sini adalah kaifiyyah (kualitas/cara keberadaan) yang dengannya bahan kehidupan ada di dalam jasad-jasad. Dan Dia menciptakan dari ruh beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam jasad-jasad bercahaya, seperti para malaikat dan yang menyerupai mereka. Adapun jasad-jasad yang kasar lagi gelap, maka sesungguhnya ia diciptakan dari nisbah kedua dari ruh beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Karena bagi ruh beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam ada dua nisbah yang beliau limpahkan atas seluruh wujud: nisbah pertama, nisbah cahaya murni; darinya diciptakan seluruh ruh dan jasad-jasad bercahaya yang tiada kegelapan padanya. Dan nisbah kedua dari nisbah ruh beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah nisbah kegelapan; dan dari nisbah ini tercipta jasad-jasad gelap seperti setan-setan, dan seluruh jasad-jasad yang kasar, serta Jahīm dan tingkatan-tingkatannya (darakat-darakatnya) (Jawāhir al-Ma‘ānī. 1: 285)

Source: جواهر المعاني. 1: 285

View book
14The Pearls of Meanings, Vol. I
Adapun pengutamaan al-Qur’an atas seluruh kalam berupa zikir-zikir, selawat atas Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan selainnya dari perkataan, maka itu suatu perkara yang lebih jelas daripada matahari, sebagaimana diketahui dalam penelaahan-penelaahan syariat dan pokok-pokoknya. Atsar-atsar yang sahih telah bersaksi dengannya. Dan pengutamaannya dari dua sisi: sisi pertama, bahwa ia adalah kalam Zat Yang Mahasuci yang bersifat dengan keagungan dan kejalalan; maka pada martabat ini tidak ada kalam yang menandinginya. Dan sisi kedua: apa yang ditunjukkannya berupa ilmu-ilmu, ma‘rifat-ma‘rifat, keindahan adab, jalan-jalan petunjuk, kemuliaan akhlak, hukum-hukum ilahiah, dan sifat-sifat yang luhur, yang tidak disifati dengannya kecuali orang-orang rabbānī; maka pada martabat ini juga tidak ada kalam yang menandinginya dalam menunjukkan perkara-perkara tersebut. (Jawāhir al-Ma‘ānī. 1: 335)

Source: جواهر المعاني. 1: 335

View book
15The Pearls of Meanings, Vol. I
Pemilik mahabbah iman, apabila ia terus-menerus menghadapkan diri dengannya kepada Allah Ta‘ālā, dan hatinya menetapi hal itu, ia berpindah darinya menuju mahabbah atas karunia-karunia (āلاء) dan nikmat-nikmat, karena ia lebih tinggi darinya. Dan pemilik mahabbah atas karunia-karunia dan nikmat-nikmat, apabila ia terus-menerus bergantung dengannya, dan menghadapkan hati kepada Allah melalui jalannya, hal itu akan mengantarkannya kepada mahabbah sifat-sifat; maka ia pun berpindah kepadanya ketika itu, dan ia lebih tinggi darinya. Dan pemilik mahabbah sifat-sifat, apabila ia terus-menerus menghadapkan diri dengannya kepada Allah Ta‘ālā, serta lurus perjalanannya dan suluknya, ia berpindah darinya menuju mahabbah Zat, dan itulah yang lebih tinggi, dan itulah tujuan yang paling puncak. Dan kapan ia sampai kepada mahabbah Zat—maksudku, ia hanya mencium sekelumit “aroma” darinya saja—ia berpindah menuju fanā’, setingkat demi setingkat. Maka urusannya pada awalnya ialah zuhūl (lupa/lenyap perhatian) dari segala wujud (al-akwān), kemudian sukr (mabuk rohani), kemudian ghaybah dan fanā’, dengan kesadarannya akan fanā’, lalu menuju fanā’ al-fanā’, yaitu bahwa ia tidak merasakan sesuatu pun—dalam rasa-sadar, perhatian, indera, dan pertimbangan—dan akalnya serta wahamnya lenyap, dan jumlah serta kuantitasnya hancur-lebur; maka tidak tersisa إلا الحق بالحق للحق في الحق (kecuali al-Ḥaqq dengan al-Ḥaqq, bagi al-Ḥaqq, di dalam al-Ḥaqq). Dan itulah maqām al-fatḥ dan al-bidāyah, yakni awal ma‘rifat. Dan pemiliknya, apabila ia sadar dari “mabuknya”—maksudnya fanā’—ia mulai menaiki dan mendaki maqām-maqām untuk selama-lamanya tanpa akhir. (Jawāhir al-Ma‘ānī. 1: 357)

Source: جواهر المعاني. 1: 357

View book
16The Pearls of Meanings, Vol. I
Ṭahārah itu dua: ṭahārah aṣliyyah dan ṭahārah ‘araḍiyyah. Adapun ṭahārah aṣliyyah, maka ia ada pada seluruh maujūdāt, secara global dan terperinci; sumber arah dan asal-usulnya dari rahasia Nama-Nya al-Quddūs. Karena Nama-Nya al-Quddūs menampakkan diri (mutajallī) pada setiap zarrah dari wujud. Dan al-Quddūs adalah Yang Mahasuci, Yang sempurna, dari segala kekurangan. Ia berkata dalam al-Asmā’ al-Idrīsiyyah: “Yā Quddūs, Yang suci dari setiap keburukan; maka tiada sesuatu pun yang menandingi-Nya dari seluruh makhluk-Nya, dengan kelembutan-Nya.” Maka dalam wujud tidak ada إلا yang suci lagi sempurna, karena tajallī Nama-Nya al-Quddūs atas setiap zarrah; maka segala yang Dia ciptakan, Dia menampakkan diri padanya dengan Nama-Nya al-Quddūs. Seandainya penajisan terjadi pada satu zarrah dari wujud, niscaya terjadi نقص (kekurangan) pada sifat-sifat-Nya yang sempurna, yaitu al-quds (kesucian) dari segala kekurangan; dan dengan itu menjadi konsekuen penonaktifan (ta‘ṭīl) ulūhiyyah. Padahal ulūhiyyah mencakup setiap zarrah, karena ulūhiyyah adalah martabat yang menghimpun lagi meliputi Allah Ta‘ālā dalam seluruh maujūdāt. Maka dalam wujud tidak ada إلا yang masuk di bawah ulūhiyyah dengan tunduk, merendah, beribadah, bertasbih, dan bersujud. Seandainya suatu zarrah najis, tidak sah baginya untuk menghadapkan diri untuk beribadah kepada-Nya, bersujud kepada-Nya, dan bertasbih kepada-Nya. Maka ṭahārah mencakupnya dari sisi liputan ulūhiyyah dan tajallī Nama-Nya al-Quddūs atas seluruhnya; inilah ṭahārah aṣliyyah..... Adapun ṭahārah ‘araḍiyyah ialah apa yang dinyatakan oleh-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam syariat-Nya, yaitu firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu نجس (najis)”; dan apa yang ditunjukkan oleh para rasul berupa kewaspadaan terhadap hal-hal yang terkena najis—maksudnya yang dihukumi najis secara syar‘i, bukan secara asal—ketika ibadah. Karena najisnya itu ‘āriḍah (insidental), bukan dzātiyyah (hakiki-essensial), sebab ia tetap ada dengan tetapnya syariat, yang merupakan konsekuensi dari perintah dan larangan. Maka apabila sangkakala ditiup dan hukum syariat lenyap, seluruh benda berpindah kepada ṭahārah aṣliyyah. Syariat itu ‘āriḍ (sementara), keberlangsungannya dengan keberlangsungan negeri ini; maka apabila sangkakala ditiup lenyaplah syariat, dan segala sesuatu berpindah kepada asalnya, maka tidak tersisa lagi taklīf (beban kewajiban) (Jawāhir al-Ma‘ānī.1: 358-359)

Source: جواهر المعاني. 1: 358-359

View book
17The Pearls of Meanings, Vol. I
Ketahuilah bahwa dosa-dosa dalam hak para nabi—yang berupa menerjang apa yang secara syar‘i dilarang—adalah mustahil terjadi pada diri mereka; tidak mungkin terbayangkan berasal dari mereka, karena telah tetap bagi mereka kemaksuman dari segala dosa, baik yang halus maupun yang besar. Adapun yang darinya terjadilah ampunan pada hak mereka—shalawat dan salam atas mereka—ialah perkara-perkara yang keluar dari para nabi pada lisan kebolehan syar‘iyyah, namun ia tercakup oleh tuntutan untuk meninggalkan dari satu segi yang bersifat global, bukan tegas-eksplisit. Dan tuntutan untuk meninggalkan di sini bukanlah yang haram secara syar‘i; melainkan diminta meninggalkan perkara itu—meskipun pada dirinya mubah—sebagai penyucian, karena luhur kedudukan mereka dari ternodai oleh keterlibatan dengan mubah tersebut (جواهر المعاني. 1: 383)

Source: جواهر المعاني. 1: 383

View book
18The Pearls of Meanings, Vol. II
Diriwayatkan dalam hadis yang mulia: ((Sesungguhnya barang siapa membaca Surah al-Ikhlash seratus ribu kali, Allah membebaskannya dari neraka, dan Dia membangkitkan seorang penyeru yang menyeru pada hari Kiamat: “Barang siapa mempunyai piutang atas si fulan, hendaklah ia datang kepadaku, akan kutunaikan untuknya”)); hendaklah ia mengerjakan semampunya setiap hari hingga sempurna; dan membacanya disertai basmalah pada setiap kali, serta menghadap kiblat, dan tidak berbicara pada waktu zikir. Di dalamnya ada bilangan: tiga puluh tiga ribu salkah, dan tiga ratus salkah, dan tiga puluh tiga salkah, dan tiga salkah; dan di dalamnya ada sepuluh ribu istana di surga. (جواهر المعاني. 2: 598)

Source: جواهر المعاني. 2: 598

View book
19The Pearls of Meanings, Vol. II
Pengembaraan ruh-ruh para lelaki (ahlullah) dan penyaksian mereka itu bertingkat-tingkat; di antara mereka ada yang batasnya alam al-mulk, yaitu dari langit dunia sampai bumi—maka ini yang paling kecil di antara mereka. Di antara mereka ada yang sampai ke alam al-malakut, yaitu dari langit ketujuh sampai ke sini. Di antara mereka ada yang berujung pengetahuannya sampai ke alam al-jabarut, yaitu dari ‘Arsy sampai ke sini. Dan di antara mereka ada yang ruhnya menembus lingkaran hijau, dan keluar dari bola alam; mereka itulah para pembesar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka semata-mata dengan karunia dan kemurahan-Nya. Amin. (جواهر المعاني. 2: 651)

Source: جواهر المعاني. 2: 651

View book
20The Pearls of Meanings, Vol. II
Cinta makhluk kepada Allah سبحانه وتعالى terbagi menjadi empat bagian: bagian pertama: cinta mereka kepada pahala. Bagian kedua: cinta mereka kepada anugerah-anugerah dan nikmat-nikmat-Nya. Bagian ketiga: cinta mereka kepada kesempurnaan dan keindahan yang ada pada-Nya. Bagian keempat: cinta mereka kepada Zat Yang Mahatinggi. Adapun cinta mereka kepada pahala, maka ia telah diketahui; demikian pula cinta mereka kepada anugerah-anugerah dan nikmat-nikmat-Nya. Dua cinta ini, bagi kebanyakan orang beriman ada bagian dan jatah darinya; namun kedua cinta itu bisa lenyap dengan lenyapnya sebab keduanya. Adapun bagian ketiga, sebabnya tetap, yaitu apa yang ada pada Rabb kita berupa sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan; ini bagi para wali yang kecil (tingkatan awal), namun tidak mencapai martabat keempat, karena martabat keempat itu murni dari sebab-sebab, illat-illat, dan sifat-sifat. Ini tidaklah ada kecuali bagi orang yang dibukakan baginya, diangkat darinya hijab, dan ia menyaksikan rahasia-rahasia nama-nama dan sifat-sifat, karunia-karunia, hakikat-hakikat, dan kesempurnaan-kesempurnaan. (جواهر المعاني. 2: 675)

Source: جواهر المعاني. 2: 675

View book
21The Pearls of Meanings, Vol. II
Kami memohon kepada Allah—Mahabesar kekuasaan-Nya dan Mahatinggi keagungan-Nya—agar Dia memandang kepada kalian semua dengan pandangan cinta, keridaan, dan pemeliharaan, serta pelimpahan karunia, pemilihan, dan pengistimewaan; hingga Dia tidak menyisakan bagi kalian suatu kebaikan pun dari kebaikan-kebaikan agama, dunia, dan akhirat, melainkan Dia memberikannya kepada kalian darinya bagian dan jatah yang paling besar; dan Dia tidak membiarkan bagi kalian suatu keburukan pun dari keburukan-keburukan agama, dunia, dan akhirat, melainkan Dia menjauhkan kalian darinya dan melindungi kalian darinya; hingga Dia tidak membiarkan bagi kalian dosa besar dan dosa kecil, melainkan Dia menenggelamkannya ke dalam lautan ampunan dan kemurahan-Nya; hingga Dia tidak membiarkan bagi kalian suatu tuntutan karena dosa-dosa, melainkan Dia memaafkannya dan mengampuninya; hingga Dia tidak membiarkan bagi kalian suatu kebutuhan dan tuntutan—selain dalam kemaksiatan kepada Allah—melainkan Dia menyegerakan pemberian-Nya untuk kalian, serta menolong dan menguatkan kalian untuk mewujudkannya bila ia sesuai dengan ketetapan hukum yang terdahulu. Jika tidak sesuai dengan ketetapan hukum yang terdahulu, maka kami memohon kepada Allah agar mengganti untuk kalian dalam semua itu sesuatu yang lebih baik darinya dan lebih tinggi darinya (جواهر المعاني. 2: 763)

Source: جواهر المعاني. 2: 763

View book
22The Pearls of Meanings, Vol. II
Kami memohon kepada Allah Ta‘ala bagi kalian semua—yang umum maupun yang khusus—agar Dia melimpahkan kepada kalian lautan-lautan pemeliharaan dan cinta dari-Nya, serta keridaan dari-Nya سبحانه وتعالى, sesuai dengan apa yang telah Dia anugerahkan dari itu kepada para pembesar orang-orang arif di antara hamba-hamba-Nya dan para pemilik kekhususan, sehingga di sisi-Nya seluruh keburukan-keburukan kalian terhapus tanpa kalian dituntut karenanya; dan seluruh dosa-dosa kalian serta jejak-jejak kelalaian kalian diperlakukan dengan pemaafan dan pelampauan dari-Nya tanpa kalian dibalas karenanya. Dan kami memohon kepada-Nya سبحانه وتعالى agar Dia menuliskan kalian semua dalam diwan ahli kebahagiaan—yang tidak Dia tuliskan di dalamnya kecuali para pembesar wali-wali-Nya dan para pemilik kekhususan-Nya—dengan suatu cara yang di dalamnya tidak mungkin ada penghapusan dan tidak pula perubahan; dan agar Dia mencelaki mata batin kalian dengan cahaya-Nya yang Dia percikkan pada ruh-ruh di azal; agar Dia menghadapkan kepada kalian karunia-Nya di dunia dan akhirat; dan agar Dia memandang pada diri kalian dengan pandangan rahmat-Nya, yang barang siapa dipandang kepadanya dengannya, Dia memalingkan darinya seluruh hal yang dibenci di dunia dan akhirat. (جواهر المعاني. 2: 772)

Source: جواهر المعاني. 2: 772

View book
23The Pearls of Meanings, Vol. II
Ini; dan hendaklah dalam pengetahuan kalian bahwa seluruh hamba di negeri ini adalah sasaran anak panah musibah zaman: entah dengan musibah yang turun, atau dengan nikmat yang lenyap, atau dengan kekasih yang dirundung duka karena kematian atau kebinasaan, atau selain itu—dari hal-hal yang tidak ada batas bagi keseluruhan dan rinciannya. Maka siapa di antara kalian yang ditimpa semacam itu, bersabarlah, bersabarlah untuk meneguk kepahitannya; karena untuk itulah para hamba diturunkan di negeri ini. Dan siapa di antara kalian yang kuda (keteguhan)nya tersandung dari menanggung beratnya, dan melawan beban-bebannya yang datang menimpanya, maka hendaklah ia berpegang terus pada salah satu dari dua perkara—atau keduanya sekaligus, dan itu lebih sempurna. Pertama: terus-menerus membaca “Yā Laṭīf” seribu kali sehabis setiap salat, bila mampu; jika tidak, maka seribu kali di pagi hari dan seribu kali di sore hari; karena dengan itu akan cepat lepasnya dari musibahnya. Kedua: seratus kali salawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dengan “al-Fātiḥ li-mā ughliqa” الخ. Dan menghadiahkan pahalanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم bila mampu seratus kali sehabis setiap salat; jika tidak, maka seratus kali pagi dan seratus kali malam; dan ia berniat dengan keduanya, ... agar Allah Ta‘ala menyelamatkannya dari seluruh keterpurukannya, dan menyegerakan kelepasan dari kesempitannya; karena dengannya pertolongan akan cepat datang kepadanya dalam waktu yang paling cepat (جواهر المعاني. 2: 772)

Source: جواهر المعاني. 2: 772

View book
24The Pearls of Meanings, Vol. II
Maka yang aku nasihatkan kepadamu dan aku wasiatkan kepadamu—demi Allah ‘Azza wa Jalla—(ialah) dalam rahasiamu dan terang-teranganmu: menyucikan hatimu dari menyelisihi perintah-Nya; bersandar kepada Allah dengan hatimu; rida terhadap ketetapan-Nya dalam seluruh urusanmu; dan sabar atas arus takdir-takdir-Nya dalam setiap keadaanmu. Mintalah pertolongan untuk semua itu dengan memperbanyak zikir kepada Allah semampunya disertai kehadiran hatimu; karena ia adalah penolong bagimu atas seluruh yang aku wasiatkan kepadamu. Dan zikir kepada Allah yang paling besar manfaatnya, paling agung hasil dan pulangannya, ialah salawat atas Rasulullah صلى الله عليه وسلم disertai kehadiran hati; karena sesungguhnya ia menjamin seluruh tuntutan dunia dan akhirat, dalam menolak dan menarik (kebaikan) pada segala sesuatu. Dan sesungguhnya barang siapa memperbanyak mengamalkannya, ia termasuk sebesar-besar para pilihan Allah. (جواهر المعاني. 2: 774)

Source: جواهر المعاني. 2: 774

View book
25The Pearls of Meanings, Vol. II
Dan perkara kedua yang aku wasiatkan kepadamu ialah meninggalkan hal-hal yang haram secara syar‘i dalam urusan harta: dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal; karena sesungguhnya yang halal itu adalah poros yang di atasnya beredar orbit seluruh ibadah yang lain; siapa yang menyia-nyiakannya, ia telah menyia-nyiakan ibadah. Dan jangan sekali-kali engkau berkata, “Di mana menemukannya?” Karena sesungguhnya ia banyak terdapat di setiap negeri dan di setiap zaman; tetapi ia didapati dengan meneliti upaya menunaikan perintah Allah, lahir dan batin, serta memperhatikan daruratnya waktu bila tidak didapati halal yang tegas. Dan tempat ini memerlukan fikih yang halus (cermat) dan keluasan pengetahuan tentang hukum-hukum syar‘i; dan siapa yang demikian, tidaklah sulit baginya menemukan yang halal.(جواهر المعاني. 2: 775)

Source: جواهر المعاني. 2: 775

View book
26The Pearls of Meanings, Vol. II
Dan perkara yang tidak boleh tidak setelah ini—dan ia adalah permulaan segala urusan dan akhirnya—ialah keterikatan hati kepada Allah Ta‘ala, dengan mengungsi kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan meninggalkan segala selain-Nya, secara umum maupun khusus. Maka jika seorang hamba mampu menghijrahkan hatinya kepada Allah dari setiap sisi dan dalam setiap keadaan, dengan gerak hati yang terasa, maka itulah puncaknya. Namun jika ia tidak mampu, hendaklah ia senantiasa, setelah setiap salat, membaca doa ini tiga kali atau tujuh kali; kemudian ia melintaskannya pada hatinya di luar salat-salat, dan memaksa dirinya untuk berpegang kepadanya, niscaya hal itu menjadi suatu keadaan (ḥāl) baginya. Dan doa itu ialah ini: Ya Allah, kepada-Mu sandaranku; dengan-Mu tempat berlindungku; kepada-Mu tempatku mengungsi; kepada-Mu tawakkalku; dengan-Mu kepercayaanku; dan kepada daya dan kekuatan-Mu sandaranku; dan dengan seluruh jalannya ketetapan-ketetapan-Mu ridaku; dan dengan pengakuanku akan meluasnya Qayyūmiyyah-Mu pada segala sesuatu, dan mustahilnya keluarnya sesuatu—sekecil atau sebesar apa pun—dari ilmu dan kekuasaan-Mu, hingga sekejap saat diamku. Selesai. (جواهر المعاني. 2: 775)

Source: جواهر المعاني. 2: 775

View book
27The Pearls of Meanings, Vol. II
Kami memohon kepada Allah—Mahatinggi kemuliaan-Nya, Mahasuci sifat-sifat dan nama-nama-Nya—agar Dia melimpahkan kepada kalian di dunia lautan harta, kebaikan-kebaikan, dan keberkahan-keberkahan tanpa kekurangan; serta keselamatan yang sempurna dari keburukan makhluk dan dari kebutuhan kepada makhluk. Adapun akhirat, maka kami memohon kepada-Nya, Mahasuci Dia dan Mahatinggi, agar Dia memperlakukan kalian di sana seluruhnya—dan seluruh keluarga kalian—dengan perlakuan-Nya terhadap para pembesar kekasih-kekasih-Nya dan para pilihan-Nya dari kalangan wali-wali-Nya, dan para khusus hadirat-Nya, tanpa amal dari kalian, melainkan semata-mata karena anugerah-Nya; dan agar Dia melimpahkan kepada kalian lautan keridaan-Nya dan karunia-Nya di dunia dan akhirat; dan agar Dia bagi kalian di dunia dan pada setiap tempat dari tempat-tempat akhirat menjadi Pelindung, Penolong, Pencinta, Yang meridai, Yang melimpahkan karunia, dan Yang melapangkan dengan kelembutan; serta bagi segala keburukan, hal-hal yang dibenci, dan bahaya-bahaya menjadi Penolak dan Penyelamat; dan agar Dia mengenakan kepada kalian pakaian kemuliaan-Nya dan perhatian pemeliharaan-Nya di dunia dan akhirat; dan agar Dia memurnikan arah kalian kepada-Nya dan keterputusan hati-hati kalian kepada-Nya, seperti pemurnian-Nya bagi arah hati orang-orang ‘arif dan para ṣiddīq dari hamba-hamba-Nya; dan agar Dia menjadikan keterputusan hati-hati kalian kepada-Nya, Mahasuci Dia, seperti keterputusan hati para aqṭāb dari makhluk-Nya. (جواهر المعاني. 2: 794)

Source: جواهر المعاني. 2: 794

View book
28The Pearls of Meanings, Vol. II
Dan yang aku wasiatkan kepadamu—dan yang menjadi perjalananmu dan amalmu—ialah engkau menggantungkan hatimu kepada Allah semampumu; dan tetapkanlah hatimu untuk teguh menerima jalannya ketentuan-ketentuan ilahiah; dan jangan engkau membiasakan dirimu dengan kegelisahan terhadap urusan Allah, karena yang demikian itu membinasakan hamba di dunia dan akhirat. Dan bila kesempitan sangat menimpamu, dan perkara terasa menyempit bagimu, maka berlindunglah kepada Allah Ta‘ala, dan berdirilah pada posisimu di pintu kelembutan-Nya, dan mintalah kepada-Nya—dari kesempurnaan kelembutan-Nya—kelapangan bagi apa yang menyempit, dan lenyapnya apa yang sangat mencekam kesulitannya. Dan perbanyaklah perendahan diri dan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah Ta‘ala dalam hal itu. Dan hendaklah yang demikian itu darimu dalam keadaan hati yang menyendiri bersama Allah, terlepas dari segala kesibukan; seperti keadaan seorang perempuan tua yang tidak mempunyai selain seorang anak tunggal, yang diambil dari hadapannya untuk dipenggal kepalanya. Maka ia memohon pertolongan dengan Allah dan dengan manusia agar tersingkap apa yang menimpanya; sebab ia pada keadaan itu tidak memiliki kekhawatiran selain anaknya, dan hatinya tidak menoleh kepada sesuatu pun dari urusan dunia dan akhirat. Maka siapa yang berada dalam keadaan seperti ini, lalu berlari mengadu kepada Allah Ta‘ala ketika turun kesulitan dan kesengsaraan pada batas seperti ini, dan memanggil-Nya dengan Nama-Nya: al-Laṭīf, semampunya, niscaya kelapangan akan segera datang kepadanya pada waktu yang paling dekat. Namun jika tidak berada pada keadaan seperti ini, maka urusan itu menjadi lambat baginya. (جواهر المعاني. 2: 795)

Source: جواهر المعاني. 2: 795

View book
29The Pearls of Meanings, Vol. II
Sebuah wasiat bagi setiap orang yang hendak menasihati dirinya dan menasihati Rabbnya, yang berjalan sesuai sabda beliau صلّى الله عليه وسلّم: “Agama itu nasihat.” Mereka berkata: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Untuk Allah dan Rasul-Nya, untuk Kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin secara umum dan khusus.” Maka yang pertama dari itu ialah takwa kepada Allah yang tiada ilah selain Dia; yang terdapat dalam wasiat ‘Alī kepada anak-anaknya—رضي الله عنهم—yaitu bahwa ia berkata: “Wahai anak-anakku, aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah Yang Mahaagung dalam yang gaib dan yang nyata; mengucapkan kalimat kebenaran dalam ridha maupun marah; berlaku adil terhadap kawan dekat dan musuh; dan bersikap pertengahan dalam kaya maupun fakir,” kemudian setelah itu, berlari mengadu kepada Allah Ta‘ala, berlindung kepada-Nya dari himpitan setiap perkara yang menyusul, dan keterikatan hati kepada-Nya—Mahasuci Dia dan Mahatinggi—menurut kadar martabat pemiliknya; serta rasa malu kepada-Nya—Mahasuci Dia dan Mahatinggi—yang berjalan sesuai sabda beliau صلّى الله عليه وسلّم: “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka berkata: “Sesungguhnya kami malu, alhamdulillah.” Beliau bersabda: “Bukan demikian itu; tetapi malu ialah engkau menjaga kepala dan apa yang ia himpun, dan engkau menjaga perut dan apa yang ia kandung; dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan; dan siapa yang menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Maka siapa yang melakukan itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (جواهر المعاني. 2: 806)

Source: جواهر المعاني. 2: 806

View book
30Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Pokok ilmu setelah meluruskan iman ialah menghadap kepada Allah dan berfokus kepada-Nya, secara lahir dan hakikat; kemudian mempelajari tata cara amal-amal syar‘i berupa bersuci, salat, puasa, dan selainnya; lalu wajib atasnya mempelajari apa yang ia perlukan terkait keterlibatan dalam muamalah syar‘i berupa jual-beli, nikah, dan selain keduanya. (الجامع ....)

Source: الجامع ....

View book
31Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Adapun pengagungan, pemuliaan, ketundukan, dan kerendahan diri di bawah kedahsyatan pemaksaan (al-qahr), maka itu bagi Zat (Allah), dan wajib atas setiap makhluk, sekalipun ia tidak diperintah—baik hewan maupun benda mati, berakal maupun tidak berakal—karena semuanya beribadah kepada Allah dari sisi ini. Adapun ibadah dengan cara-cara dan bentuk-bentuk seperti rukuk, sujud, dan selain keduanya dari bentuk-bentuk yang terbatas, maka itu adalah karena perintah; seakan-akan Dia—Mahasuci Dia dan Mahatinggi—berfirman: “Kadar kalian tidak sampai pada ini, tetapi Aku melimpahkan karunia kepada kalian dengan mengangkat kadar kalian ke martabat-martabat ini; dan kalian tidak akan sampai kepadanya kecuali dengan perintah, maka Aku pun memerintahkan kalian dengannya.” (الجامع، الجزء الثاني، فَصْلٌ فِي مَا قَالَهُ سَيِّدُنَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عَدَدِ الأَنْفَاسِ وَالخَوَاطِرِ)

Source: الجامع، الجزء الثاني، فَصْلٌ فِي مَا قَالَهُ سَيِّدُنَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي عَدَدِ الأَنْفَاسِ وَالخَوَاطِرِ

View book
32Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Sebab pengharaman bangkai hewan darat adalah darah, karena ia beracun; dan setiap orang yang memakannya, Allah memalingkan hatinya kepada takwa, karena darah bangkai itu tidak keluar, melainkan membeku dalam dagingnya. Aku berkata kepadanya: “Demikian pula bangkai hewan laut, tidak ada perbedaan antara keduanya.” Ia berkata: “Hewan-hewan laut tidak tersentuh matahari dan udara karena terus-menerus masuknya ia ke dalam air; maka darahnya dingin, tabiatnya telah berubah, berbeda dengan hewan-hewan darat, karena darahnya ‘matang’ oleh panas matahari dan udara; maka tabiat itu sempurna padanya dan sebabnya kuat; maka setiap orang yang memakannya, Allah memalingkan hatinya dari takwa. Inilah sebab larangan memakannya. Dan salam.” (الجامع، الجزء الثاني، بَابٌ فِي مَسَائِلَ فِقْهِيَّةٍ)

Source: الجامع، الجزء الثاني، بَابٌ فِي مَسَائِلَ فِقْهِيَّةٍ

View book
33Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Sesungguhnya setiap wali, telapak kakinya berada di atas telapak kaki seorang nabi—yakni ia mengecap rasa nabi itu dan menghadap sebagaimana arah nabi itu—tanpa mencakup sepenuhnya apa yang ada pada nabi itu; melainkan ia memperoleh jatah dan bagian. (الجامع، الجزء الأول، فصل في أجوبة سيدنا رضي الله عنه عن بعض شطحات الأولياء رضي الله عنهم)

Source: الجامع، الجزء الأول، فصل في أجوبة سيدنا رضي الله عنه عن بعض شطحات الأولياء رضي الله عنهم

View book
34Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Manusia bukanlah ruh dan bukan pula jasad; melainkan ia adalah persepsi yang lahir di antara keduanya ketika keduanya berhimpun. (الجامع، الجزء الأول، فَصْلٌ: شَمْسٌ طَالِعَةٌ وَأَنْوَارٌ سَاطِعَةٌ)

Source: الجامع، الجزء الأول، فَصْلٌ: شَمْسٌ طَالِعَةٌ وَأَنْوَارٌ سَاطِعَةٌ

View book
35Al-Jāmiʿ — The Comprehensive Compendium
Bahwa kerasnya hati adalah sebesar-besarnya bala, dan Allah tidak menimpakan kepada seorang hamba sesuatu yang lebih berat darinya setelah kufur. Dan sebab-sebab kekerasan itu terbatas pada apa yang kusebutkan sekarang. Maka siapa yang menjauhi semuanya, hatinya akan menjadi lembut dengan pertolongan Allah, dan ia akan bangkit menuju keberuntungan. Dan sebab-sebab itu ialah: terus-menerus (iṣrār) atas dosa apa pun; panjang angan-angan; marah bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla; dengki terhadap kaum muslimin; cinta dunia; cinta kepemimpinan; melakukan hal yang tidak berguna, berupa ucapan atau perbuatan meskipun sedikit; banyak tertawa; banyak bergurau; gembira karena bagian-bagian dunia yang segera; gundah karena hilangnya; lalai dari zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla; dan sedikitnya berpikir tentang urusan akhirat seperti urusan kubur, urusan kiamat, berbagai macam kedahsyatan dan tempat-tempatnya, urusan neraka dan segala belenggu serta rantai-rantainya, dan urusan surga serta berbagai macam kenikmatan dan kesenangannya—dari bidadarinya dan istana-istananya—hingga selain itu. Maka kelalaian dari semua ini adalah sebab kekerasan; dan terjun bersama para ahli senda-gurau dan permainan dalam apa yang mereka jalani berupa ucapan dan perbuatan, serta mendengarkan pembicaraan mereka dan duduk bersama mereka tanpa kebutuhan syar‘i; dan bergaul dengan orang-orang bodoh seperti yang masih muda usia, akal, dan agama; serta memakan yang haram dan yang syubhat, kenyang, banyak minum air; dan banyak menuruti syahwat; dan banyak tidur; serta banyaknya pikiran hati pada selain zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan pada keadaan-keadaan akhirat—dari kubur dan sesudahnya; dan sedikitnya zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla; dan merasa puas terhadap diri sendiri dengan menganggap baik keadaannya. Maka ini dua puluh empat sifat; masing-masing darinya adalah sebab kekerasan hati.(Al-Jāmi‘, jilid pertama, bab tentang sebagian nasihat-nasihat beliau raḍiyallāhu ‘anhu)

Source: الجامع، الجزء الأول، فصل في بعض نصائحه رضي الله عنه

View book
36Bughyat al-Mustafīd
Dan aku mewasiatkan kepada siapa pun yang ditugaskan untuk memberikan wird, agar ia memaafkan saudara-saudara (ikhwān) atas kekeliruan, agar ia menghamparkan selendang pemaafannya di atas setiap cacat dan cela, agar ia menjauhi segala sesuatu yang menimbulkan dalam hati mereka kedengkian, aib, atau kebencian, agar ia berusaha mendamaikan hubungan di antara mereka, dan menghilangkan segala sesuatu yang menimbulkan kebencian dalam hati sebagian mereka terhadap sebagian yang lain; dan apabila api menyala di antara mereka, hendaklah ia segera memadamkannya. Hendaklah usahanya dalam hal itu ditujukan demi keridaan Allah Ta‘ālā, bukan demi suatu kepentingan lain yang melebihi itu. Dan hendaklah ia melarang orang yang dilihatnya berusaha menyebarkan adu domba di antara mereka, serta menegurnya dengan kelembutan dan perkataan yang lunak... Dan hendaklah ia menjauhkan diri dari memberati urusan dunia mereka, dan tidak menoleh kepada apa yang ada di tangan mereka, dengan keyakinan bahwa Allah Ta‘ālā-lah Yang memberi dan Yang menahan, Yang merendahkan dan Yang meninggikan (بغية المستفيد 2: 705)

Source: بغية المستفيد 2: 705

View book
37Bughyat al-Mustafīd
Hakikat ṭuma’nīnah dalam syariat ialah bahwa orang yang rukuk dan sujud, apabila telah sampai pada batas rukuk dan sujud, ia menenangkan diri pada keduanya selama kadar waktu ia bertasbih kepada Allah Ta‘ālā tiga kali tasbih; dan dalam hadis: itulah batas minimal rukuk dan sujud. (بغية المستفيد 2: 705)

Source: بغية المستفيد 2: 705

View book
38Rimāḥ — The Lances of the Party of the Merciful
Hamparkanlah sesuatu yang suci di atas apa yang kalian khawatirkan tidak suci, lalu duduklah di atasnya (bagi siapa yang hendak berdzikir). Dst.. (الرماح 1: الفصل 31)

Source: الرماح 1: الفصل 31

View book
39The Pearls of Meanings, Vol. I
Setiap orang dari para sahabat yang menyampaikan agama, tercatat pada lembarannya seluruh amal perbuatan orang-orang sesudahnya, dari masanya hingga akhir umat ini. Maka apabila ini dipahami, keutamaan para sahabat tidak mungkin dikejar oleh orang-orang setelah mereka, .... Kemudian beliau raḍiyallāhu ‘anhu memberikan sebuah perumpamaan tentang amal para sahabat dibanding selain mereka. Ia berkata: Amal kami dibanding amal mereka seperti jalannya seekor semut dibanding cepatnya terbang burung qaṭāh, (جواهر المعاني 1: 282)

Source: جواهر المعاني 1: 282

View book
40Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Apabila kalian mendengar dariku sesuatu, maka timbanglah dengan timbangan syariat; apa yang sesuai, ambillah; dan apa yang menyelisihi, tinggalkanlah. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 1)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 1

View book
41Kashf al-Ḥijāb — The Unveiling
Kelembutan (luṭf) itu ada dua: kelembutan khusus, yaitu yang ditunjukkan oleh firman-Nya Ta‘ālā [Mahahalus terhadap apa yang Dia kehendaki]; dan kelembutan umum, yaitu yang ditunjukkan oleh firman-Nya Ta‘ālā [Allah Mahahalus kepada hamba-hamba-Nya] (كشف الحجاب، لدى ترجمة العباس بن كيران)

Source: كشف الحجاب، لدى ترجمة العباس بن كيران

View book
42Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Minimal yang mencukupi bagi penghafal Al-Qur’an pada setiap hari adalah dua ḥizb. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 10)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 10

View book
43Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Aku tidak melihat dunia kecuali seperti laut; dari arah mana pun engkau mendatanginya, engkau akan mendapati rasanya pahit. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 32)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 32

View book
44Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Apabila engkau membelinya karena Allah, maka segala yang ada padanya—batu, pepohonan, dan tumbuh-tumbuhan—senantiasa bertasbih kepada Allah Ta‘ālā, dan pahala semua itu tercatat dalam lembaran amalmu. Beliau mengatakan ini kepada seorang lelaki yang hendak membeli sebuah kebun; ia meminta pertimbangan beliau tentang pembeliannya, lalu beliau mengingatkannya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 40)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 40

View book
45Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Minimal yang mencukupi dalam rukuk dan sujud adalah kadar tiga tasbih dengan tenang, atau enam tasbih dengan cepat. Beliau mengatakannya ketika ditanya tentang batas minimal yang dengannya tercapai kecukupan dalam rukuk dan sujud—yang disebut ṭuma’nīnah. Dan pada suatu kali beliau berkata: siapa yang tidak mendapatkan itu bersama imam, maka janganlah ia menghitung rakaat itu. Hal itu karena si penanya berkata kepadanya: bagaimana jika seseorang mendapatkan dua (tasbih) bersama imam? Beliau berkata kepadanya: janganlah ia menghitung rakaat itu. Lafal tasbih dalam rukuk ialah: سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ. Dan dalam sujud: سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 44)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 44

View book
46Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Berkah makanan adalah salat di tempat makanan itu dimakan—maksudnya makanan jamuan dan penghormatan. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 48)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 48

View book
47Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Berjalanlah mengikuti laju zamanmu. Dari makna ini: tidaklah tersisa sedikit pun dari kebodohan pada orang yang hendak mengada-adakan, pada suatu waktu, selain apa yang Allah tampakkan padanya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 49)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 49

View book
48Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Sebagian pemburu menangkap tiga ekor burung ḥajlah; ia mengikat dua ekor, menyembelih yang ketiga, lalu mencabut bulunya. Kedua matanya berair karena suatu penyakit pada keduanya. Maka salah satu (yang terikat) memandang kepadanya dan berkata kepada yang lain: orang ini kasihan, hatinya telah luluh kepada kita; barangkali ia akan melepaskan kita. Yang lain berkata kepadanya: dari mana engkau mengetahuinya? Ia berkata: aku melihat kedua matanya berair. Yang lain berkata kepadanya: lihatlah kedua tangannya, jangan melihat kedua matanya. Beliau mengatakan ini tentang seorang lelaki yang mengaku cinta dengan lisannya, namun melakukan kebalikan dari apa yang ia akui. Sebagaimana kedua mata si pemburu berair karena suatu penyakit, demikian pula lisan si pengaku ini—dengan bagusnya pengakuan di lisannya—karena adanya penyakit batin dalam dirinya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 53)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 53

View book
49Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Demi kebenaran, para tetanggaku—kami tidak dapat melampaui mereka di dunia dan tidak pula di akhirat. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 54)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 54

View book
50Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Sebagian imam dahulu mengambil upah atas salat (imam), lalu menyedekahkannya. Ketika ia wafat dan dua malaikat penanya datang kepadanya, ia terguncang oleh kedahsyatan keadaan itu, dan ia tidak diilhamkan hujjah hingga ia mengalami kesulitan yang sangat besar. Kemudian setelah itu datang kepadanya seorang lelaki dalam rupa yang bagus, lalu menalqinkannya jawaban. Setelah kedua malaikat itu pergi, ia bertanya kepadanya: demi Allah, siapa engkau? Ia menjawab: aku adalah amal salehmu. Ia berkata kepadanya: ke mana engkau menghilang dariku? Ia menjawab: engkau mengambil upah atas imam. Ia berkata kepadanya: demi Allah, seumur hidup aku tidak pernah memakannya; aku hanya menyedekahkannya. Ia berkata: seandainya engkau memakannya, niscaya engkau tidak akan melihatku sama sekali. Sebabnya: karena ia dahulu berbicara tentang buruknya mengambil upah atas salat dan selainnya dari amal kebajikan, seperti azan, persaksian, mengajar ilmu, dan fatwa. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 55)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 55

View book
51Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Akan datang sebuah fayḍah atas para sahabatku, hingga manusia masuk ke jalan (ṭarīqah) kami berbondong-bondong. Fayḍah ini datang sementara manusia berada pada puncak kesempitan dan kesulitan. Yang beliau maksud dengan fayḍah ini ialah bahwa akan dibukakan (ketersingkapan) bagi sejumlah besar sahabat beliau raḍiyallāhu ‘anhu. Dan beliau tidak menganggap jauh waktunya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 58)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 58

View book
52Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Perempuan haid diberi pilihan dalam berdzikir dengan wirid. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 73)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 73

View book
53Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Segala puji bagi Allah yang tidak mengakhirkan bagi kami Zuhur dan tidak pula Asar. Sebabnya: bahwa suatu kaum dari orang-orang Arab Badui menyerbu unta-untanya, kira-kira sekitar enam ratus ekor unta; maka ketika beliau diberi kabar tentang itu, beliau menyebutkannya. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 74)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 74

View book
54Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Rumah yang diberkahi ialah rumah yang di dalamnya ada seorang yang diberkahi dan seorang perempuan yang diberkahi. Sebabnya: bahwa dikatakan kepada beliau: sesungguhnya sebagian masyāyikh berkata, “Rumah yang diberkahi tidak ada di dalamnya seorang yang diberkahi dan tidak pula seorang perempuan yang diberkahi,” maka beliau menyebutkannya. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 80)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 80

View book
55Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Dzikir pada malam Jumat seratus kali Ṣalāt al-Fātiḥ limā ughliqa إلخ setelah manusia tidur menghapus dosa empat ratus tahun. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 81)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 81

View book
56Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Dzikir dalam barisan lebih utama daripada menyendiri, berdasarkan firman-Nya Ta‘ālā { Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan, seakan-akan mereka bangunan yang tersusun rapat }. Sebabnya: bahwa mereka enggan masuk ke dalam halaqah pada hari Jumat, dan beliau—raḍiya Allāhu ‘anhu—senantiasa mendorong mereka kepada hal itu dan menggemari mereka padanya, karena di dalamnya terdapat kecintaan Allah Ta‘ālā kepada pelakunya. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 84)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 84

View book
57Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Aku melihat beliau—ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam—mengulang al-Fātiḥah dalam shaf‘ dan witir. Sebabnya: beliau—raḍiya Allāhu ‘anhu—ditanya tentang pengulangan beliau terhadapnya pada keduanya, maka beliau menyebutkannya. Dan beliau—raḍiya Allāhu ‘anhu—mengulangnya sebelas kali. Demikian pula Sūrah al-Qadr sebelas kali; dan itu dalam shaf‘ dan witir, pada setiap rakaat dari keduanya. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 90)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 90

View book
58Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Pergilah ke zawiyah; bershalawatlah atas Nabi—ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam. Dan ini beliau ucapkan pada hari-hari maulid beliau—ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 95)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 95

View book
59Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Pergilah, wahai orang miskin, belajarlah suatu keterampilan selagi engkau masih kecil. Dan ini beliau ucapkan kepada seorang penuntut ilmu yang mengambil wirid darinya lalu tetap duduk; maka beliau berkata kepadanya, “Berdirilah untuk urusanmu.” Ia berkata, “Aku tidak punya urusan; aku ini seorang penuntut.” Maka beliau menyebutkannya. Dan termasuk kebiasaan beliau—raḍiya Allāhu ‘anhu—mendorong para sahabatnya agar mengajarkan keterampilan kepada anak-anak mereka, setelah mengajarkan apa yang dimudahkan dari al-Qur’an dan mengajarkan tulis-menulis, agar mereka tidak terlantar. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 97)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 97

View book
60Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Orang sempurna di antara kaum lelaki berada bersama Allah Ta‘ālā tanpa “di mana”, maka ia tidak dikenal dengan suatu maqām, tidak pula terikat olehnya; dan kesempurnaannya mengembalikannya kepada manusia seperti kembalinya seorang muqallid, sehingga ia kembali seperti salah seorang dari manusia. Sebabnya: bahwa beliau ditanya tentang perkataan al-Būṣīrī—raḥimahu Allāh—dalam Dāliyyah-nya, ketika ia berkata: Barangsiapa tidak memiliki maqām, maka sesungguhnya kesempurnaannya = mengembalikannya kepada manusia, seperti kembalinya seorang muqallid Maka beliau menyebutkannya. (Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah, maqālah nomor 125)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 125

View book
61The Pearls of Meanings, Vol. I
Adapun pada hamparan syariat—yakni “Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya”—dengan rasa takut kepada-Nya dan tidak merasa aman dari makar-Nya dalam seluruh anugerah nikmat-Nya kepada kalian, dan dalam penolakan segala mudarat dari kalian berupa berbagai bencana, serta dalam pelapangan hal itu atas kalian sepanjang berlalunya malam dan siang; maka waspadalah terhadap makar-Nya dalam keadaan demikian itu, karena tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang yang telah pasti atasnya azab Dzat Yang Mahaagung. Dan adapun pada hamparan hakikat—“Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya”—yakni dari meneliti, menyingkap, dan menuntut hakikat (kunh) Dzat; karena hal itu tidak layak bagi kalian, sebab kalian tidak sanggup menanggung perkara tersebut. Maka waspadalah terhadap terjadinya turunnya cobaan atas kalian karena tuntutan kalian terhadap perkara itu; dan berhentilah pada batas yang telah ditetapkan bagi kalian dari urusan Sang Pensyariat—ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam. (Jawāhir al-Ma‘ānī 1: 429)

Source: جواهر المعاني 1: 429

View book
62Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Hibah tidaklah gugur bagi orang yang diberi hibah apabila ia melakukan sesuatu dari pembatal amal selain syirik kepada Allah, karena hibah itu bukanlah berada pada amal-amalnya.إungguhnya, (hibah pahala itu) gugur hanya apabila gugur amal orang yang menghibahkannya kepadanya. Sebabnya: bahwa seorang lelaki bertanya kepadanya tentang seseorang yang menghadiahkan kepadanya pahala, kemudian ia melakukan sesuatu dari perkara-perkara yang membatalkan amal; apakah gugur baginya hibah itu? Maka beliau menyebutkan hal itu. Lalu lelaki itu memintanya agar menghibahkan kepadanya pahala satu kali dari Shalāt al-Fātiḥ li-mā Ughliq, untuk sesuatu yang tertutup; maka beliau pun melakukannya—raḍiya Allāhu ‘anhu. Dan lelaki itu bermaksud bahwa sang Quṭb memiliki ‘iṣmah seperti ‘iṣmah kenabian. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 135)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 135

View book
63Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Ia tidak bermaksud duduk di tempat yang lebih tinggi dan tidak pula yang lebih rendah; ia duduk di mana saja ia mendapatinya. Sebabnya: bahwa seorang lelaki berselisih dengan yang lain tentang suatu tempat dalam الوظيفة, salah seorang dari keduanya biasa duduk di situ. Maka beliau mendengar tentang itu lalu berkata: Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman: [Itulah negeri akhirat Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di bumi dan tidak (pula) kerusakan; dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa]. Maka sebagian mereka berkata: “Orang itu ialah yang duduk di bawah,” maka beliau menyebutkannya. Lalu beliau ditanya: “Apakah itu termasuk ‘uluw (ketinggian/sikap ingin lebih tinggi)?” Beliau menjawab: “Itu adalah ‘uluw.” (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 141)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 141

View book
64Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Allah akan menghentikanmu di hadapan-Nya dengan suatu berdiri yang murni Beliau mengatakannya kepada seorang lelaki yang membelanjakan harta untuk membangun tempat bersuci (maṭharah) zāwiyah (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 149)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 149

View book
65Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa ragu tentang adanya tambahan atau kekurangan dalam wirid, maka hendaklah ia berpegang pada yang yakin, dan menambah seratus kali istighfar, serta meniatkan dengannya sebagai penambal (al-jabr). (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 156)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 156

View book
66Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa luput dari shaf‘ dan witir karena keluarnya waktu keduanya setelah terbit matahari, maka hendaklah ia mengqadha keduanya, dan membaca al-Jawharah tiga kali, serta meniatkan dengannya sebagai penambal; karena keduanya tertambal, dan mengangkat (nilai) shalat hari sebelumnya selain shalat ‘Ashar, karena shalat ‘Ashar terangkat dengan sendirinya, sebab ia adalah shalat wustha. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 157)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 157

View book
67Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa luput dari kehadiran (ḥuḍūr) dalam suatu amal, maka hendaklah ia membaca Jawharat al-Kamāl sesudahnya dengan kehadiran pada waktu mendatang, serta meniatkan dengannya sebagai penambal; karena amal itu dituliskan baginya disertai kehadiran. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 158)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 158

View book
68Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa menguburkan bersama mayit suatu nama dari Nama-nama-Nya Ta‘ālā atau al-Qur’an, maka ia kafir. Karena mayit itu niscaya akan kembali menjadi darah dan nanah. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 159)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 159

View book
69Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa melemparkan Nama-nama-Nya Ta‘ālā atau Kalām-Nya ke dalam najis, maka ia kafir. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 160)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 160

View book
70Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa hendak mendahulukan wirid pagi, maka hendaklah ia mendahulukannya setelah ‘Isyā’ dengan jarak satu jam, sekadar waktu seorang pembaca membaca lima ḥizb dan orang-orang tidur. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 162)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 162

View book
71Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa tidak mendapatkan orang bersama siapa ia dapat melaksanakan zikir Jumat, maka hendaklah ia melakukannya sendirian dari seribu sampai seribu enam ratus kali hailalah. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 164)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 164

View book
72Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Barangsiapa luput darinya dua rakaat yang datang (dianjurkan) antara Magrib, maka hendaklah ia bershalawat atas Nabi ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam lima puluh kali dengan Shalāt al-Fātiḥ li-mā Ughliq. Dst.. ia akan memperoleh keutamaannya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 172)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 172

View book
73Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Makna lā ilāha illā Allāh ialah: Dia yang kepada-Nya seluruh wujud menghadap dengan pengagungan, pemuliaan, ketundukan, dan perendahan diri. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 178)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 178

View book
74Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Orang miskin yang dimaksud oleh sabda beliau ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam: “Allāhumma aḥyinī miskīnan...” dst., ialah محلُّ نظرِ Allah dari makhluk-Nya; bukan yang dimaksud orang-orang fakir yang serba sedikit. Al-‘Allāmah al-Ḥajūjī berkata pada tepi (catatan pinggir) maqālah ini dalam naskah tulis tangannya dari kitab yang mubarak ini: bukan yang dimaksud darinya adalah meminta kefakiran dan sedikitnya harta, melainkan yang dimaksud adalah tawaduk di hadapan Allah dan merasa butuh kepada-Nya, meneladani hadis kakeknya Rasulullah ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba; aku makan sebagaimana hamba makan dan aku duduk sebagaimana hamba duduk.” Dan juga karena sabda beliau ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam kepada orang Arab Badui yang gemetar karena kewibawaannya: “Tenangkan dirimu, karena aku adalah anak seorang perempuan yang dahulu makan dendeng (al-qadīd) di Mekah.” Dan juga karena sabda beliau ṣallā Allāhu ‘alayhi wa sallam: “Allāhumma aḥyinī miskīnan wa amitnī miskīnan, waḥshurnī fī zumrat al-masākīn.” (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 190)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 190

View book
75Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Orang sakit diberi pilihan dalam membaca wirid hingga ia mampu. Beliau mengatakannya kepada seorang penanya yang bertanya kepadanya tentang orang yang demam: apakah ia membaca wirid? Maka beliau menyebutkannya. (الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 191) ++++Kami ini orang-orang miskin; tiada yang kami miliki selain Allah dan Nabi ﷺ dalam wujud (keberadaan). (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 198)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 191

View book
76Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Manusia hari ini seperti ayam; berilah mereka, niscaya mereka tidak mendapatkan apa pun di mulut mereka, dan mereka pun tidak peduli darimana mereka datang dan ke mana mereka akan berakhir. Dan ia mengatakan hal itu dengan menunjuk pada bahwa yang lebih utama bagi seseorang ialah menghisab dirinya dan mengoreknya dalam setiap perkara kecil maupun besar, serta berusaha menyucikannya, mensucikan (menumbuhkan)nya, dan membersihkannya; sebagai ganti menyia-nyiakan waktu dan lalai dari ketaatan. Jika tidak, maka ia bertanggung jawab atas seluruh gerak-geriknya. Telah datang dalam hadis: “Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; dan tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya.” (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 200) Dan lihat pula kitab al-‘Ibrah bi-Ṭūl al-‘Ibrah

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 198

View book
77The Pearls of Meanings, Vol. I
Demi hidupku, kami tidak pernah meninggalkan basmalah tersambung dengan al-Fātiḥah, tidak dalam salat dan tidak pula di luar salat, karena hadis yang datang tentang keutamaannya yang ditegaskan dengan sumpah. Al-Ghāfiqī menyebutkannya dalam Faḍl al-Qur’ān. Ucapannya “tersambung” maksudnya: tanpa pemisah berupa berhenti (waqf). Dan junjungan kami—raḍiyallāhu ‘anhu—pernah mengatakan sekali lagi tentang sebab hal itu, yang bunyinya: “Demi hidupku, kami tidak pernah meninggalkan basmalah tersambung dengan al-Fātiḥah, tidak dalam salat dan tidak pula di luar salat; karena hadis yang datang tentang keutamaannya yang ditegaskan dengan sumpah.” Dan teks hadis itu adalah sabda beliau ﷺ: “Allah Ta‘ālā berfirman: ‘Wahai Isrāfīl, demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kemurahan pemberian-Ku, dan kedermawanan-Ku: siapa yang membaca Bismillāh al-Raḥmān al-Raḥīm tersambung dengan Fātiḥat al-Kitāb sekali saja, maka bersaksilah atas-Ku bahwa Aku sungguh telah mengampuninya, Aku menerima darinya kebaikan-kebaikan, Aku memaafkan baginya keburukan-keburukan, Aku tidak membakar lidahnya dengan api, dan Aku melindunginya dari azab kubur, azab neraka, azab hari Kiamat, dan ketakutan yang paling besar.’” Dan seterusnya.. Dan sungguh aku telah menyebutkan sanadnya dalam kitab kami Nūr al-Sirāj. Dan pemilik (pengarang) al-Rimāḥ juga menyebutkannya. Maka hendaklah melihatnya siapa yang menghendaki. (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 204) (Lihat kitab Nūr al-Sirāj) (Dan lihat kitab al-Rimāḥ)
78Rimāḥ — The Lances of the Party of the Merciful
Orang awam tidak mengenal amal untuk Allah Ta‘ālā Maksudnya: seluruh amal mereka itu bersebab (tidak murni) dan tercampuri (cacat). Dan bahwa amal untuk Allah tidak dikerjakan kecuali oleh صاحب الفتح (pemilik al-fatḥ/pembukaan), dan Ṣadaq—raḍiyallāhu ‘anhu—benar (dalam ucapannya). Yang ia maksud dengan “orang awam” ialah أهل الحجاب (orang-orang yang terhijab), yang tidak memiliki fatḥ. (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 207)

Source: وانظر كتاب الرماح

View book
79Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Ini adalah masjid yang terhinakan; wajib atas kita untuk meninggalkannya. Sebabnya: karena disebutkan di hadapannya pada malam dua puluh tujuh Ramadan bahwa para perempuan menginap di al-Qarawiyyīn dan berzaghrīd (ululasi) ketika khatam al-Qur’an. Maka ia bertanya berapa banyak yang menginap, lalu dikatakan: tiga ratus atau kurang. Ia berkata: “Apakah semuanya akan dalam keadaan suci, dan tidak ada di antara mereka yang menyusui?” Maka dikatakan kepadanya: “Mereka datang membawa sesuatu yang mereka gunakan untuk kotoran bayi,” lalu ia menyebutkannya. Kemudian ia menghentikan salat di sana, demikian pula para sahabatnya, selama kira-kira empat bulan. Kemudian Allah Ta‘ālā mengilhamkan pemimpin negeri itu dan memerintahkan agar diplester (dikapur) serta diperbarui alas/hamparannya. Tatkala ia mendengar hal itu, ia pun mulai turun (datang) melaksanakan salat Jumat di sana sebagaimana kebiasaannya—raḍiyallāhu ‘anhu. (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 243)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 207

View book
80Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Demi Allah, tidak ada yang lebih dibenci di sisi Allah daripada mereka di muka bumi. Dan ia mengatakan hal itu tentang para ulama yang sombong. Kelengkapannya: [Allah melaknat mereka dan melaknat orang yang membesarkan (mengagungkan) mereka]. Dikatakan kepadanya: “Mencium tangan mereka itu bentuk pengagungan?” Ia menjawab: [Pengagungan], lalu ia membaca firman-Nya Ta‘ālā {Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang} dan firman-Nya {Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri}. (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 259)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 243

View book
81Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
Beliau ﷺ bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah.” Sebabnya: karena seorang lelaki dari para sahabat beliau diberi amanah menjaga harta, lalu ia membelanjakannya untuk kepentingannya, tanpa izin pemiliknya. Maka pemiliknya mengadukannya; lalu beliau menegur (mencela) dengan hadis mulia ini. (Al-Ifādah al-Ahmadiyyah, artikel nomor 261)

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 259

View book
82Al-Ifādah al-Aḥmadiyyah for the Seeker of Eternal Felicity
يَقُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ سَبَبُهُ: أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ ائْتُمِنَ عَلَى مَالٍ فَصَرَفَهُ فِي مَصْلَحَتِهِ، بِغَيْرِ إِذْنِ صَاحِبِهِ، فَشَكَى عَلَيْهِ، فَجَعَلَ يَزْجُرُ بِهَذَا الحَدِيثِ الشَّرِيفِ.

Source: الإفادة الأحمدية، المقالة رقم 261

View book