21/3/20269 min readFR

Membela Thariqah Tijani dengan Ilmu, Adab, dan Metode yang Kokoh

Skiredj Library of Tijani Studies

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah. Semoga salawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Dari waktu ke waktu, keberatan-keberatan diajukan terhadap sebagian ajaran, ungkapan, dan otoritas-otoritas historis thariqah Tijani. Sebagian keberatan ini lahir dari kebingungan yang tulus. Sebagian lainnya muncul dari sikap yang lebih keras kepala yang meragukan keterandalan kitab-kitab dasar thariqah ini, mempertanyakan integritas para ulama besarnya, dan tergesa-gesa dalam memutuskan sebelum terlebih dahulu merujuk kepada mereka yang paling berkompeten dalam perkara tersebut.

Artikel ini tidak bertujuan menyerang siapa pun. Tujuannya lebih baik dan lebih bermanfaat: membela thariqah Tijani melalui hujjah, metode, dan adab, serta menjelaskan mengapa pembahasan yang serius tentang doktrin Tijani harus dimulai dari sumber-sumber yang diakui, keilmuan yang diwarisi, dan disiplin ilmiah yang semestinya.

Pembahasan yang sehat dimulai dengan metode yang tepat

Tidak ada pembahasan agama yang serius dapat dibangun di atas kecurigaan, ejekan, atau pembacaan selektif. Jika tujuannya benar-benar mencapai kebenaran, maka jalannya jelas:

mengembalikan perkara-perkara kepada al-Qur’an dan Sunnah,

merujuk kepada teks-teks otoritatif thariqah Tijani,

membedakan antara sumber-sumber fondasional dan tulisan-tulisan sekunder belakangan,

bertanya kepada أهل العلم dalam bidang mereka yang semestinya,

dan menjaga adab dalam perbedaan pendapat.

Allah berfirman:

“Tanyalah kepada أهل الذكر jika kamu tidak mengetahui.”XXXXX

Prinsip ini bersifat menentukan. Apabila suatu perkara menyangkut ajaran-ajaran internal, nash-nash yang ditransmisikan, dan pendirian-pendirian yang terdokumentasi dari ṭarīqah Tijānīyah, maka orang-orang pertama yang patut dimintai rujukan ialah mereka yang mengetahui sumber-sumbernya yang diakui, manuskrip-manuskripnya, mata rantai periwayatannya, dan fikihnya.

Mengapa kitab-kitab dasar Tijani itu penting

Salah satu persoalan sentral dalam banyak keberatan modern adalah cara memperlakukan karya-karya rujukan utama ṭarīqah ini, khususnya:

Jawahir al-Ma‘ani

al-Jami‘

Rawd al-Muhibb al-Fani

Ini bukanlah kitab-kitab biasa dalam tradisi Tijani. Ia adalah karya-karya rujukan mendasar yang kandungannya ditransmisikan, dihimpun, dan dijaga dalam otoritas hidup ṭarīqah. Karena itu, ia tidak boleh diperlakukan secara serampangan, seakan-akan seseorang dapat menata ulang, menolak, atau menakwilkannya sesuka hati menurut selera pribadi.

Masalah bermula ketika seseorang mendekati kitab-kitab ini dengan keraguan atas kredibilitasnya sejak awal, lalu menundukkannya pada pembacaan yang tidak berlandaskan pemahaman transmisional, melainkan pada sangkaan pribadi, logika yang selektif, atau dokumen-dokumen sejarah yang terpisah dan terisolasi dari korpus Tijani yang lebih luas.

Itu bukanlah kesarjanaan. Itu adalah ketidakstabilan metodologis.

Bahaya bersandar pada dokumen-dokumen parsial atau awal semata

Salah satu penyebab utama kekacauan adalah penggunaan dokumen-dokumen yang lebih tua dari fase awal, sambil mengabaikan teks-teks eksplisit yang lebih kemudian yang menjelaskan ajaran yang telah mapan dari Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya.

Seseorang dapat membangun argumen di atas dokumen-dokumen yang mendahului rumusan final dan eksplisit Sang Syaikh selama puluhan tahun. Jika ia melakukan itu sambil mengabaikan penjelasan-penjelasan otoritatif yang datang kemudian, hampir pasti ia akan terjerumus ke dalam kekeliruan.

Inilah sebabnya ketelitian itu esensial. Dalam perkara akidah, transmisi, martabat, metode ruhani, dan rumusan-rumusan khas Tijani, seseorang harus bertanya:

Apakah teks ini awal atau akhir?

Apakah ia bersifat umum atau dijelaskan di tempat lain?

Adakah pernyataan eksplisit yang lebih kemudian dari Sang Syaikh?

Bagaimana para ulama ṭarīqah yang diakui memahaminya?

Apakah ia termasuk kitab dasar atau dokumen pinggiran?

Tanpa disiplin ini, banyak kesimpulan palsu tampak meyakinkan hanya karena konteks yang lebih luas telah diabaikan.

Tidak setiap teks dapat diperlakukan dengan cara yang sama

Penting pula untuk membedakan antara kategori-kategori teks.

1. Teks-teks dasar ṭarīqah

Teks-teks ini menempati kedudukan khusus karena dihimpun di bawah otoritas yang diakui dan diterima dalam ṭarīqah sebagai rujukan-rujukan fundamental.

2. Tulisan-tulisan kemudian oleh para ulama ṭarīqah

Ini bernilai—sering kali amat besar nilainya—namun tidak semuanya berada pada tingkat yang sama dengan kitab-kitab dasar inti. Ia dapat dipelajari, dianalisis, dibandingkan, dan didiskusikan dengan lebih terbuka, karena tidak seorang pun setelah para Nabi bersifat ma‘ṣūm.

Pembedaan ini penting. Ia menjaga sekaligus penghormatan dan ketepatan.

Posisi Tijani bukanlah bahwa para ulama kemudian itu ma‘ṣūm. Melainkan, bahwa mereka berhak mendapatkan keadilan, penghormatan, dan pembacaan yang kompeten. Perkataan mereka tidak boleh dicabut dari konteks lalu dijadikan senjata untuk menyerang mereka.

Penghormatan kepada ulama bukanlah pensakralan buta

Kekeliruan lain yang berulang adalah klaim bahwa memuliakan para ulama besar dan para wali ṭarīqah sama artinya dengan memberi mereka kemaksuman.

Itu keliru.

Tradisi Tijani tidak mengajarkan bahwa para wali adalah para nabi, atau bahwa mereka berada di luar kemungkinan salah dalam pengertian kenabian, atau bahwa mereka berbagi derajat para Sahabat, atau bahwa mereka harus diperlakukan sebagai sumber independen di samping al-Qur’an dan Sunnah.

Namun ia mengajarkan bahwa para ulama besar dan awliya’ ṭarīqah berhak atas:

penghormatan,

rasa terima kasih,

حسن الظن,

penakwilan yang cermat atas perkataan mereka,

dan perlindungan dari tuduhan yang serampangan.

Ada perbedaan besar antara takzim dan pendeifikasian, antara memuliakan ulama dan mengklaim kemaksuman kenabian bagi mereka.

Siapa yang tidak mampu membedakan keduanya, berarti telah salah memahami persoalannya sejak awal.

Mengapa niat dan makna penting dalam ungkapan-ungkapan yang diperselisihkan

Banyak perselisihan muncul karena mengambil sebagian ungkapan secara harfiah, sambil mengabaikan bahasa orang-orang yang mengucapkannya, konteks ketika mereka berbicara, dan kemajemukan makna dalam bahasa devosional Arab.

Hal ini terutama berbahaya dalam teks-teks sufi, di mana pernyataan singkat bisa bersifat:

simbolik,

eliptis,

ekstatik,

teknis,

atau bergantung pada konteks ruhani.

Seseorang dapat mendengar sebuah frasa, mengisolasi satu makna harfiah, lalu menuduh penuturnya melakukan pelanggaran berat. Tetapi para ahlul ‘ilmi mengetahui bahwa kata-kata dinilai bukan hanya dari redaksi lahiriahnya, melainkan juga dari:

makna yang diniatkan,

pemakaian yang diakui,

wacana yang lebih luas,

dan akidah yang diketahui dari sang penutur.

Ini adalah keadilan yang mendasar. Dan tanpa keadilan, pembacaan berubah menjadi tuduhan, bukan pemahaman.

Tidak boleh tergesa-gesa menuduh tokoh-tokoh besar ṭarīqah

Seorang pengkritik yang keras kepala bisa berpindah dari satu nama ke nama lain, menuduh tokoh-tokoh utama ṭarīqah Tijani secara beruntun, seakan-akan tradisi ini dibangun di atas kekacauan dan ketidakhormatan. Namun pendekatan semacam ini runtuh oleh beratnya sendiri.

Apa sebenarnya yang diminta untuk kita percayai?

Bahwa generasi demi generasi ulama, fuqaha, para periwayat, para pembaca, dan para murid di seluruh dunia Muslim semuanya membaca karya-karya ini, mengajarkannya, menukilkannya, mengambil manfaat darinya, dan menerimanya—namun seorang pembaca belakangan, bersenjatakan kecurigaan dan metode parsial, tiba-tiba menemukan apa yang luput dari mereka semua?

Klaim semacam itu tidak menguatkan dirinya melalui pengulangan. Ia melemahkan dirinya melalui berlebih-lebihan.

Pendekatan yang benar terhadap perbedaan

Perbedaan itu sendiri bukanlah cacat. Namun perbedaan harus diatur oleh adab.

Perbedaan yang membangun mengupayakan:

penjernihan,

tersambungnya kembali hati,

pelurusan kesalahpahaman,

dan kembali kepada kebenaran.

Ia tidak mengupayakan:XXXXX

penghinaan di muka umum,

bahasa yang menghina,

prasangka,

sensasionalisme,

atau merusak reputasi para ulama yang dihormati.

Tujuan seharusnya adalah taqrib al-nazar—mendekatkan sudut pandang sejauh mungkin—bukan memperlebar perpecahan demi keterlihatan atau kontroversi.

Jalan Tijani dan batas-batas ketelitian teologis

Jalan Tijani menegaskan kedudukan para wali, nilai warisan ruhani, dan realitas futuhat ilahiah. Pada saat yang sama, ia tetap berakar pada prinsip pusat bahwa tidak ada wali, betapapun agungnya, yang mencapai derajat seorang nabi, dan tidak seorang pun di antara para awliya yang berada di atas para Sahabat mulia Rasul Allah, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya.

Ini adalah penegasan yang penting, karena sebagian keberatan dibangun di atas asumsi-asumsi yang keliru. Menghormati para wali besar tidak berarti mencampuradukkan tingkatan. Para Sahabat tetap Sahabat. Para Nabi tetap Nabi. Para awliya tetap awliya.

Tradisi ini jelas mengenai pembedaan ini.

Cinta kepada para ulama jalan ini adalah bagian dari rasa syukur

Para ulama besar jalan Tijani menjaga ajaran-ajarannya, menjelaskan istilah-istilahnya, menjawab keberatan-keberatan, menyalurkan kitab-kitabnya, mengajar para muridnya, dan melindungi warisannya. Mencintai mereka dan menyebut mereka dengan baik bukanlah fanatisme. Itu adalah rasa syukur.

Nabi, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, mengajarkan rasa syukur kepada orang-orang yang berbuat baik. Beliau juga mengajarkan penghormatan kepada yang lebih tua, kasih sayang kepada yang muda, dan pengakuan atas hak para ulama.

Maka ketika para pengamal jalan ini menyebut dengan cinta para imam besar dan para perawinya, itu bukanlah sikap berlebih-lebihan. Itu adalah kesetiaan, adab, dan pengakuan atas jasa.

Masalahnya bukan emosi, melainkan tanggung jawab

Masalah yang sesungguhnya bukanlah bahwa keberatan-keberatan itu ada. Masalah yang sesungguhnya adalah ketika keberatan-keberatan itu dilontarkan sebagai vonis publik tanpa:

pengetahuan yang utuh tentang sumber-sumber,

kesadaran yang utuh tentang kronologi,

musyawarah dengan para spesialis,

atau pengekangan lisan yang semestinya.

Seseorang yang mengeluarkan penilaian dalam perkara-perkara semacam ini berdasarkan bahan yang terpecah-pecah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya. Ucapan keagamaan adalah amanah. Kata-kata tentang perkara-perkara suci bukanlah hal yang ringan.

Allah berfirman:

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati—tentang semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ayat ini saja semestinya menjadikan setiap Muslim yang bersungguh-sungguh bersikap hati-hati ketika berbicara tentang teks-teks agama yang diwariskan dan para ulama besar.

Bagaimana jalan Tijani seharusnya dibela hari ini

Pembelaan terhadap jalan ini tidak seharusnya dibangun di atas celaan. Ia seharusnya dibangun di atas:

dokumentasi,

ketelitian tekstual,

kesadaran historis,

penafsiran yang lurus,

pengagungan terhadap sumber-sumber,

dan akhlak yang indah.

Tidak ada kebutuhan untuk turun ke dalam makian. Kebenaran tidak memerlukan kekasaran agar dapat menang. Jawaban yang bermartabat lebih kuat daripada reaksi yang gaduh.

Jalan ke depan jelas:

Kembali kepada sumber-sumber yang diakui.

Membedakan teks-teks dasar dari tulisan-tulisan yang datang kemudian.

Membaca teks-teks dalam konteks, bukan dalam potongan-potongan.

Bermusyawarah dengan أهل الشأن sebelum menjatuhkan penilaian.

Menghormati para ulama jalan ini tanpa berlebih-lebihan.

Menolak tuduhan-tuduhan sembrono terhadap tokoh-tokoh besar tradisi.

Menjaga persaudaraan bahkan dalam perbedaan pendapat.

Penutup

Jalan Tijani tidak dibela oleh kemarahan, juga bukan oleh personalitas, juga bukan oleh slogan-slogan. Ia dibela oleh ilmu, adab, dokumentasi, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Ketika sebuah pembacaan yang membangkang menyerang jalan ini, jawabannya bukanlah membalas kekerasan dengan kekerasan. Jawabannya adalah memulihkan metode di tempat ada kekacauan, mengembalikan penghormatan di tempat ada kesembronoan, dan menghadirkan bukti di tempat ada kegaduhan.

Para ulama besar jalan ini berhak atas keadilan. Kitab-kitab dasarnya berhak atas pembacaan yang cakap. Doktrin-doktrinnya berhak dijelaskan melalui sumber-sumbernya yang semestinya. Dan siapa pun yang sungguh-sungguh mencari kebenaran hendaknya selalu lebih mengutamakan musyawarah, kerendahan hati, dan disiplin daripada tergesa-gesa dan prasangka.

Semoga Allah menghimpun hati di atas kebenaran, menjaga lisan dari kezaliman, dan memelihara para ahli ilmu, keikhlasan, dan adab.

Wa al-salam alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

+++++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul Defending the Tijani Path with Knowledge, Etiquette, and Sound Method