Skiredj Library of Tijani Studies
Mengapa Menyakiti Sesama Tijani Merupakan Perkara Spiritual yang Serius
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad, kepada keluarga beliau, dan kepada para sahabat beliau.
Di antara nasihat penting yang ditransmisikan dalam thariqah Tijani ialah sabda yang disampaikan oleh Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, kepada Shaykh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya:
“Katakan kepada para sahabatmu agar mereka tidak saling menyakiti, karena apa yang menyakiti mereka menyakiti aku.”
Pernyataan ini bukanlah anjuran moral yang remeh. Ini adalah sebuah peringatan yang mendalam. Ia menunjukkan kedudukan yang amat tinggi dari para murid thariqah ini, beratnya saling menyakiti di antara mereka, dan kebutuhan yang mendesak untuk menjaga persaudaraan, penghormatan, dan solidaritas spiritual di dalam komunitas Tijani.
Artikel ini menjelaskan makna ajaran tersebut, mengapa ia penting, dan pelajaran-pelajaran praktis apa yang seharusnya dipetik oleh setiap murid darinya.
Sebuah kehormatan khusus dalam thariqah Tijani
Shaykh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, berbicara di banyak tempat tentang keutamaan-keutamaan, anugerah-anugerah, dan karunia-karunia pembeda dari thariqah Tijani. Semua itu banyak dan luar biasa. Menurut kesaksian yang dipelihara oleh para ulama generasi kemudian, keutamaan-keutamaan yang terkait dengan thariqah ini sangat melimpah, baik dari segi jumlah maupun dari segi mutu spiritual.
Pokok pembicaraan di sini bukan semata-mata menyusun daftar keutamaan. Pokok yang lebih dalam adalah ini: para murid thariqah Tijani dipanggil kepada derajat kedekatan, kemuliaan, dan perlindungan yang tinggi dari Allah dan Rasul-Nya, shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau.
Kedudukan yang tinggi ini membantu menjelaskan mengapa bahaya yang terjadi di antara para murid diperlakukan dengan begitu serius.
Siapa pun yang diterima ke dalam suatu perjanjian rohaniah yang mulia tidak dibiarkan berada dalam keadaan biasa. Ia memasuki maqam kehormatan, tanggung jawab, dan amanah yang suci. Seorang murid dituntut menjaga amanah itu, bukan merusaknya melalui persaingan, kedengkian, ghibah, kebencian, atau meremehkan saudara-saudaranya.
Makna “apa yang menyakiti mereka menyakiti aku”
Ketika Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, mengatakan kepada Sīdī Aḥmad al-Tijānī:
“Katakan kepada para sahabatmu agar mereka tidak saling menyakiti, karena apa yang menyakiti mereka menyakiti aku,”
maknanya jelas dan berbobot.
Ini berarti bahwa menyakiti sesama murid bukanlah perkara ringan. Ia bukan sekadar kekeliruan sosial atau perselisihan pribadi. Ia menjadi pelanggaran terhadap ikatan yang disucikan. Murid yang menyakiti saudaranya menyingkapkan dirinya kepada sesuatu yang berbahaya secara spiritual, karena gangguan itu naik melampaui tingkat konflik biasa dan menyentuh kehormatan Nabi sendiri, shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau.
Ini menjelaskan mengapa para masyayikh thariqah berbicara begitu tegas tentang bahaya perpecahan di antara para murid.
Mengapa peringatan ini ada
Para ulama menjelaskan bahwa ajaran ini harus dipahami dalam cakrawala kemuliaan yang lebih luas yang dianugerahkan kepada para murid thariqah. Banyak pernyataan yang ditransmisikan dari Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, menampilkan murid Tijani sebagai orang yang memasuki suatu medan khusus dari rahmat, perlindungan, dan karunia Ilahi.
Intinya bukan kebanggaan. Intinya adalah tanggung jawab.
Semakin besar kehormatan, semakin besar kewajiban untuk menjaganya.
Jika seorang murid termasuk dalam thariqah yang ditandai oleh anugerah Ilahi, perhatian Nabi, dan perjanjian spiritual, maka ia tidak boleh mengubah keberkahan itu menjadi lahan pertikaian. Ia tidak boleh mengotori persaudaraan dengan kecemburuan, cercaan, fitnah, prasangka, atau ego yang terluka.
Itulah sebabnya peringatan Nabi ini begitu serius.
Penjelasan Sidi al-‘Arabi ibn al-Sa’ih
Ulama terpelajar Sidi Muhammad al-‘Arabi ibn al-Sa’ih, dalam Bughyat al-Mustafid, menjelaskan perkara ini dengan menyebutkan bahwa keutamaan ini ditransmisikan secara kokoh dari Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya.
Beliau menuturkan bahwa pernah muncul perselisihan antara dua orang murid sedemikian rupa hingga menimbulkan keterasingan di antara keduanya. Sīdī Aḥmad al-Tijānī lalu memerintahkan agar dilakukan ishlah (rekonsiliasi) di antara mereka dan menjelaskan bahwa Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, telah memerintahkan beliau untuk melakukan hal itu, seraya bersabda:
“Katakan kepada para sahabatmu agar mereka tidak saling menyakiti, karena apa yang menyakiti mereka menyakiti aku.”
Ini menjadikan perkara tersebut tak terbantahkan. Kewajiban seorang murid bukan hanya menghindari kezaliman yang tampak. Ia adalah menjaga kesucian persaudaraan itu sendiri.
Menyakiti seorang murid bukanlah dosa kecil
Jika menyakiti sesama murid mencapai derajat yang digambarkan di atas, maka konsekuensi-konsekuensinya menakutkan.
Al-Qur’an memperingatkan agar tidak menyakiti Allah dan Rasul-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya—Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.”(Qur’an 33:57)
Dan ia juga memperingatkan agar tidak menyakiti kaum mukminin laki-laki dan mukminin perempuan secara zalim:
“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin laki-laki dan kaum mukminin perempuan tanpa (kesalahan) yang mereka perbuat, sungguh mereka telah memikul (tuduhan) dusta dan dosa yang nyata.”(Qur’an 33:58)XXXXX
Ketika dua ayat ini dibaca berdampingan dengan sabda, “apa yang menyakiti mereka menyakiti aku,” sang murid mulai memahami keseriusan perkara ini.
Inilah sebabnya para ahli ilmu menegaskan bahwa murid yang tulus harus takut terjatuh ke dalam permusuhan, kedengkian, atau pertikaian yang merusak dengan saudara-saudaranya.
Kisah yang mencolok dari para sahabat jalan (ṭarīq)
Sidi al-‘Arabi ibn al-Sa’ih juga menukil sebuah kisah yang mencolok tentang dua murid dekat Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridai beliau, yang keduanya dikenal memiliki fath (keterbukaan) rohani.
Keduanya bepergian bersama menuju Hijaz. Dalam perjalanan itu, timbul ketegangan di antara mereka, dan salah seorang di antara keduanya secara batin memperlakukan yang lain dengan buruk. Kemudian, ketika para musafir sampai di sebuah sumur dalam panas yang sangat menyengat, murid yang telah melakukan pelanggaran itu turun melalui jalan sempit yang hanya memungkinkan satu orang lewat. Tiba-tiba seekor unta menerjang menuju sumur, dan tampak pasti bahwa lelaki itu akan terinjak atau terhimpit.
Pada saat putus asa itu, ia memanggil Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridai beliau. Lalu, dengan campur tangan yang bersifat mukjizat, sang Syekh tampak berdiri di antara dirinya dan unta itu, lalu menghalaunya.
Setelah menyelamatkannya, sang Syekh menoleh kepadanya dan berkata:
“Takutlah kepada Allah dalam urusan para sahabatku.”
Dengan kata lain: bagaimana mungkin engkau menyakiti para sahabatku?
Kemudian beliau menghilang. Sang murid seketika memahami bahwa bahaya yang menimpanya itu terkait dengan perlakuan buruknya terhadap sesama murid. Ia segera mendatangi saudara yang telah ia zalimi, meminta maaf, dan keduanya pun berdamai.
Kisah ini kuat karena menunjukkan bahwa perselisihan di antara para murid bukanlah persoalan moral yang abstrak. Ia memiliki konsekuensi rohani yang nyata.
Jenis-jenis bahaya apa saja yang termasuk?
Peringatan itu tidak terbatas pada luka fisik. Bahkan, banyak bentuk bahaya yang menghancurkan persaudaraan justru lebih halus dan lebih lazim.
Di antara bentuk-bentuk yang paling berbahaya adalah:
ghibah
fitnah (tuduhan dusta)
adu domba yang berniat jahat
iri
kebencian
meremehkan
dendam
menjauh secara dingin
kedengkian tersembunyi
pertengkaran yang terus-menerus
penghinaan lisan
upaya tersembunyi untuk merusak reputasi seorang saudara
Inilah tepatnya sifat-sifat yang meracuni komunitas dari dalam. Seorang murid mungkin tetap melanggengkan wirid-wiridnya dan amalan-amalan lahiriahnya, sementara di batin ia membusukkan ikatan persaudaraan. Ini merupakan bencana rohani.
Ujian sejati ketulusan bukan semata seberapa banyak dzikir yang dilakukan seseorang, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang terikat dengannya melalui jalan (ṭarīq).
Kewajiban berdamai
Jika memang terjadi perselisihan, murid tidak boleh membiarkannya menjadi permanen.
Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutuskan (hubungan) dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu; yang ini berpaling dan yang itu berpaling; dan yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai dengan السلام.”
Hadis ini tegas. Orang yang memulai perdamaian adalah yang lebih baik. Kedewasaan rohani tidak ditampakkan dengan memenangkan perdebatan, melainkan dengan menjaga hati.
Murid tidak boleh berkata: “Aku benar, maka biarkan dia yang datang dulu.”Ia seharusnya berkata: “Biarkan aku menyelamatkan hatiku, menyelamatkan adabku, dan menyelamatkan kedudukanku di hadapan Allah.”
Mengapa permusuhan yang tidak terselesaikan begitu berbahaya
Ajaran Nabi yang lain membuat perkara ini lebih serius lagi. Dalam hadis sahih, Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bersabda bahwa amal-amal dipersembahkan pada hari Senin dan Kamis, dan Allah mengampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya—kecuali dua orang yang di antara keduanya ada permusuhan. Dikatakan:
“Tangguhkan dua ini sampai mereka berdamai.”
Dalam riwayat lain:
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, dan setiap hamba yang tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah diampuni, kecuali seorang lelaki yang antara dirinya dan saudaranya ada kedengkian. Dikatakan: Tangguhkan dua ini sampai mereka berdamai. Tangguhkan dua ini sampai mereka berdamai. Tangguhkan dua ini sampai mereka berdamai.”
Ini adalah peringatan yang amat besar.
Seorang murid bisa saja menyangka bahwa shalatnya, wirid-wiridnya, dan amalan-amalan rohaninya sedang mengangkatnya, sementara kebencian yang belum terselesaikan menahannya pekan demi pekan.
Persaudaraan bukan sesuatu yang opsional dalam jalan (ṭarīq)
Jalan Tijani bukan hanya seperangkat bacaan harian. Ia juga merupakan disiplin adab, cinta, dan suluk rohani.
Tidak ada murid yang dapat mengaku sungguh-sungguh dalam jalan ini sementara ia melukai kehormatan saudara-saudaranya.
Tidak ada murid yang dapat berbicara tentang cinta kepada Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, sementara ia dengan sadar menyakiti orang-orang yang—menurut sabda—menyakiti mereka berarti menyakiti beliau.
Tidak ada murid yang dapat mencari fath sementara ia memelihara kedengkian.
Inilah sebabnya persaudaraan bukanlah perhiasan dalam jalan ini. Ia adalah fondasi.
Pelajaran praktis bagi setiap murid
Setiap Tijani yang tulus hendaknya memandang pelajaran-pelajaran berikut dengan serius.
1. Jangan pernah menormalkan konflik
Perdebatan, prasangka, dan ketegangan pribadi tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang normal. Murid hendaknya takut kepadanya dan berusaha memadamkannya sejak awal.
2. Jaga lisan
Sebagian besar kerusakan bermula dari ucapan. Sebuah kata yang sembrono dapat melahirkan kepahitan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
3. Jangan menyebut seorang saudara kecuali dengan خير
Bahkan dalam perselisihan, sebutlah dia dengan adil dan menahan diri.
4. Berdamailah dengan cepat
Jangan biarkan kesombongan menunda السلام, permintaan maaf, atau penjelasan.
5. Carikan uzur bagi orang lain
Kesalahan seorang saudara tidak semestinya segera ditafsirkan dengan cara yang paling buruk.
6. Takutlah menyakiti para kekasih jalan (ṭarīq)
Sekalipun seseorang memiliki kekurangan, menzaliminya dengan menyakitinya bukan perkara kecil.
7.Mintalah kepada Allah hati yang bersih
Seorang murid harus senantiasa memohon kepada Allah agar disingkirkan dari dirinya iri, kedengkian, dan kebencian yang tersembunyi.
Cinta, bukan persaingan, adalah tanda seorang murid yang sejati
Bahaya besar dalam banyak komunitas spiritual ialah bahwa orang-orang menjadi terpaut pada bentuk-bentuk lahiriah seraya kehilangan ruhnya. Mereka mempertahankan pertemuan, ungkapan-ungkapan, gelar-gelar, dan rutinitas yang tampak, tetapi di batin justru jatuh ke dalam persaingan, perpecahan, dan perilaku yang digerakkan oleh ego.
Itu bukanlah jalan orang-orang yang tulus.
Murid yang sejati dikenali melalui kerendahan hati, kelembutan, sikap menahan diri, dan kepedulian terhadap saudara-saudaranya. Ia menginginkan kebaikan bagi mereka. Ia mendoakan mereka. Ia tidak bergembira atas kehinaan mereka. Ia tidak berlomba dalam kesia-siaan. Ia tidak mengubah perbedaan pendapat menjadi medan pertempuran.
Ia ingat bahwa melukai seorang mukmin saja sudah merupakan perkara yang berat, dan melukai sesama murid di sebuah jalan yang ditandai oleh kepedulian Nabawi adalah lebih berat lagi.
Kesimpulan
Ungkapan, “Katakan kepada para sahabatmu agar tidak saling menyakiti, karena apa yang menyakiti mereka menyakiti aku,” adalah salah satu ajaran yang paling serius mengenai kehidupan di dalam jalan Tijani.
Ia mengajarkan bahwa persaudaraan itu suci, bahwa saling menyakiti merupakan bahaya secara ruhani, dan bahwa konflik di antara para murid bukanlah perkara sepele. Ia juga mengajarkan bahwa murid Tijani harus menjaga lisannya, menyucikan hatinya, dan bersegera menuju perdamaian setiap kali ketegangan muncul.
Jalan ini tidak dibangun hanya di atas dzikir. Ia juga dibangun di atas adab, rahmat, dan penjagaan hati.
Siapa pun yang ingin menempuh jalan ini dengan tulus harus belajar takut menyakiti saudara-saudaranya sebagaimana ia takut menyakiti dirinya sendiri.
++++