Skiredj Library of Tijani Studies
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Di antara karya-karya awal yang dicintai dari ulama besar dan arif billah, Sidi Ahmed ibn al-Hajj al-Ayyashi Skiredj al-Khazraji al-Ansari, terdapat sebuah teks Mawlid yang istimewa berjudul Kamal al-Farah wa al-Surur bi-Mawlid Mazhar al-Nur. Buku ini menempati kedudukan khusus dalam warisan devosional tradisi Tijani dan dalam kultur yang lebih luas dari pembacaan Mawlid di Maroko.
Bagi para pembaca yang mencari buku-buku Sidi Ahmed Skiredj, teks-teks Mawlid Tijani, atau karya-karya klasik tentang kelahiran Nabi Muhammad, judul ini termasuk salah satu yang paling penting untuk diketahui.
Sebuah Karya Awal oleh Sidi Ahmed Skiredj
Mawlid ini termasuk di antara tulisan-tulisan awal Sidi Ahmed Skiredj. Beliau menyelesaikannya pada Muharram 1326 H / 1908 M, meskipun baru diserahkan untuk dicetak pada 1333 H / 1915 M.
Penanggalan itu penting. Ia menunjukkan bahwa sejak tahap awal kehidupan keilmuannya, Skiredj sudah memberikan perhatian besar kepada sastra devosional yang berpusat pada Rasulullah, semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau. Karena itu, karya ini bukan hanya sebuah puisi pujian. Ia juga merupakan jendela yang menyingkap pembentukan spiritual dan kesusastraan penulisnya pada masa awal.
Salah Satu Teks Mawlid yang Paling Dikenal di Maroko
Sumber tersebut menyajikan karya ini sebagai salah satu komposisi Mawlid yang paling menonjol, yang sejak lama dirawat, dihafal, dan dilantunkan dari ingatan. Ia berdiri sejajar dengan sebuah Mawlid masyhur lainnya karya sang faqih Sidi Muhammad al-Hajjouji, berjudul Bulugh al-Qasd wa al-Maram fi Qira'at Mawlid Khayr al-Anam.
Bersama-sama, kedua teks ini menjadi di antara bacaan Mawlid yang paling luas tersebar dalam kehidupan keagamaan populer.
Hal ini memberi tahu kita sesuatu yang esensial tentang Kamal al-Farah wa al-Surur: ia bukan latihan sastra yang samar dan terasing. Ia adalah teks devosional yang hidup, dibacakan dalam majelis-majelis, dihargai oleh kaum beriman, dan dipelihara melalui hafalan sekaligus manuskrip dan cetakan.
Mengapa Mawlid Penting dalam Kehidupan Devosional Tijani
Sumber itu menjelaskan bahwa setiap kali peringatan kelahiran Nabi kembali datang, kaum Muslimin secara umum, dan para Tijani secara khusus, bergembira dalam memuliakan peristiwa mulia ini. Ia adalah momen kegembiraan, syukur, dan penghormatan karena ia berhubungan langsung dengan makhluk yang paling mulia: Nabi yang ummi yang membawa umat manusia keluar dari kebodohan menuju pengetahuan dan cahaya.
Dalam tradisi Tijani yang digambarkan di sini, Mawlid tidak diperlakukan sebagai peristiwa formal semata. Ia ditandai dengan berbagai amal devosi dan kedermawanan, termasuk:
memperbanyak doa
lebih banyak ibadah dan zikir
membagikan manisan dan minuman
menyuguhkan teh
melantunkan syair-syair pujian kenabian
Di antara syair yang dilantunkan dalam suasana semacam itu adalah karya-karya masyhur seperti Burda dan Hamziyya, dan Mawlid Skiredj secara alami berada dalam atmosfer devosional tersebut.
Pembukaan Mawlid
Sidi Ahmed Skiredj memulai Mawlid ini dengan sebuah qasidah pada huruf ha, dibuka dengan bait-bait yang maknanya dapat direnderkan sebagai berikut:
Melalui kelahiran sebaik-baik makhluk, kegembiraan kami menjadi sempurna.Dan mengapa tidak, ketika dada orang-orang beriman dilapangkan olehnya?Wahai penyeru para pecinta, serulah mereka kepada pujiannya,Sebab siapa yang memujinya di antara seluruh makhluk sungguh telah meraih keberuntungan.
Bait-bait ini menangkap ruh seluruh karya. Ini bukan sekadar penuturan sejarah. Ini adalah teks cinta, penghormatan, dan perayaan, yang berakar pada keyakinan bahwa memuji Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, pada dirinya sendiri merupakan jalan menuju keberhasilan spiritual.
Berakar pada Al-Qur'an dan Sunnah
Sumber tersebut dengan tepat mencatat bahwa Skiredj memiliki alasan yang kuat untuk menulis dengan cara demikian, karena Al-Qur'an dan ajaran Islam yang sahih menegaskan keagungan akhlak Nabi serta kewajiban mencintai dan mengikutinya.
Di antara landasan nash yang dikutip adalah:
“Dan sungguh, engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku; niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni kalian.”
Hadis yang masyhur: “Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman dengan sebenar-benarnya hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.”
Kerangka ini esensial untuk memahami Mawlid tersebut. Bagi Skiredj, bergembira atas kelahiran Nabi bukanlah sentimen kosong. Ia adalah respons devosional yang berakar pada wahyu, cinta, dan keterikatan yang setia kepada Rasulullah.
Sebuah Mawlid Utama di Zawiya Tijani Besar di Fez
Sumber tersebut menegaskan bahwa Kamal al-Farah wa al-Surur menjadi salah satu teks Mawlid yang paling dikenal dan paling dirayakan secara keseluruhan.Sering kali ia dibacakan di Zawiyah Tijaniyah Agung di Fez, dan juga di zawiyah-zawiyah Tijaniyah di berbagai kota Maroko utara, termasuk Tetouan dan Tangier.
Penyebaran geografis ini penting. Ia menunjukkan jangkauan teks tersebut dan penerimaannya di kalangan para pecinta (devotees). Ia tidak terbatas pada lingkaran sempit para ulama. Ia menjadi bagian dari kehidupan keagamaan kolektif.
Yang lebih mencolok lagi adalah catatan bahwa sebagian saudara di wilayah-wilayah itu terus menghafalnya secara utuh dan membacakannya dari hafalan. Kehadiran lisan yang bertahan itu merupakan salah satu tanda paling jelas dari pengaruh ruhani sebuah teks.
Sebuah Karya tentang Sukacita, Pujian, dan Kenangan Suci
Judulnya sendiri mengungkapkan banyak hal: Kamal al-Farah wa al-Surur berarti “Kesempurnaan Sukacita dan Kebahagiaan”, sedangkan Mawlid Mazhar al-Nur menunjuk kepada kelahiran sosok yang melaluinya cahaya Ilahi menjadi tampak bagi ciptaan.
Ini menjadikan tujuan buku itu terang. Ia adalah sebuah karya yang dimaksudkan untuk membangkitkan:
sukacita kepada Nabi
cinta kepada pribadi beliau
syukur atas risalah beliau
kerinduan akan kedekatan dengan beliau
pengagungan terhadap kedudukan beliau
Fungsi devosionalnya tak terpisahkan dari keindahan sastranya.
Mengapa Buku Ini Masih Penting
Pada hari ini, Mawlid ini tetap penting karena beberapa alasan.
Pertama, ia memelihara salah satu ungkapan besar cinta Tijaniyah kepada Nabi Muhammad.
Kedua, ia mencerminkan kejeniusaan sastra dan ruhani Sidi Ahmed Skiredj, salah seorang ulama terbesar dalam warisan Tijaniyah.
Ketiga, ia termasuk dalam tradisi hidup pembacaan devosional dan peringatan umum di Maroko.
Keempat, ia mengingatkan para pembaca bahwa Mawlid, dalam tradisi ini, tidak direduksi menjadi seremoni belaka. Ia terikat dengan salat, permohonan (supplication), pujian, kedermawanan, dan sukacita bersama.
Akhirnya, ia menawarkan sebuah teks yang bernilai bagi siapa pun yang meneliti pujian kepada Nabi di Afrika Utara, khazanah devosional Tijaniyah, atau komposisi Mawlid klasik dalam bahasa Arab.
Sebuah Teks yang Patut Dibaca dan Dilestarikan
Sumber tersebut menutup dengan mencatat bahwa Mawlid ini telah disunting, dicetak, dan diterbitkan agar manusia dapat terus mengambil manfaat darinya, dengan harapan memperoleh doa yang tulus dari seorang mukmin yang saleh.
Semangat penutup itu tepat adanya. Kamal al-Farah wa al-Surur bi-Mawlid Mazhar al-Nur lebih daripada sekadar teks lama. Ia adalah sebuah warisan devosional—yang membawa sukacita, penghormatan, dan ingatan kepada Nabi ke setiap generasi yang membacanya.
Bagi siapa pun yang menaruh minat pada warisan Sidi Ahmed Skiredj, budaya devosional Tijaniyah, atau kesusastraan yang bertahan tentang kelahiran Sang Nabi, buku ini adalah tempat permulaan yang mulia dan bercahaya.
++++