Skiredj Library of Tijani Studies
Keindahan, adab, keyakinan, dzikir Ilahi, dan kejernihan rohani dalam tradisi Tijani
Warisan keilmuan Tijani kaya bukan hanya dalam karya-karya doktrinal besar dan biografi, melainkan juga dalam ajaran-ajaran rohani yang ringkas yang menerangi logika batin jalan tersebut. Petikan-petikan pendek ini kerap menjelaskan apa sebenarnya Tariqa itu, bagaimana ia seharusnya diamalkan, bagaimana para mukmin sepatutnya berbicara tentang para wali Allah, dan bagaimana menjaga adab baik dalam pengabdian maupun dalam doktrin.
Bagian kedua dari Mutiara Hikmah Para Ulama Tijani ini menyajikan terjemahan Inggris yang setia atas ajaran-ajaran terpilih dari ulama seperti Sidi Ahmad Skiredj dan otoritas-otoritas lain dari tradisi Tijani. Setiap mutiara ditampilkan di sini sebagai judul tersendiri agar pembaca dapat merenungkannya secara perlahan dan jernih.
Jalan Tijani Adalah Jalan Keindahan
Jalan Muhammadiyah Tijani kita didirikan di atas takwa dan keridaan Ilahi, melalui apa yang Allah anugerahkan kepada pendirinya berupa keikhlasan dalam muamalahnya dengan Tuhannya dan kesempurnaan dalam cintanya kepada Rasul Allah, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya.
Rukun-rukunnya yang telah mapan ialah menjaga secara teratur Wird, Wazifa, dan dzikir Jumat, setelah memelihara shalat-shalat yang diwajibkan pada waktunya, menunaikan apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang sesuai dengan kemampuan.
Adapun mengenai karamah Syekh—semoga Allah meridhainya—dan keunggulan jalan beliau, maka itu berada di luar syarat-syarat formal dari jalan itu sendiri. Jalan pada hakikatnya yang sebenar ialah dzikir. Apa pun yang melampaui itu, maka ia entah merupakan keutamaan atau kelebihan yang berlebih-lebihan. Keutamaan hanya patut disebutkan di hadapan orang-orang yang layak menerimanya, sedangkan sikap berlebih-lebihan tampak ketika urusan-urusan ditangani oleh mereka yang tidak cakap untuknya.
Para ulama juga menegaskan bahwa Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī tidak memerintahkan para sahabatnya untuk meyakini sesuatu yang bertentangan dengan akidah Ahl al-Haqq. Sebaliknya, beliau mengarahkan mereka untuk menimbang segala sesuatu yang dinisbahkan kepada beliau dengan timbangan Syariat: apa yang selaras dengan syariat diterima, dan apa yang bertentangan dengannya ditinggalkan.
Para ulama yang sama menjelaskan bahwa jalan Tijani adalah jalan keindahan, dan bahwa seluruh wiridnya berakar pada keindahan. Mereka membuat pengecualian untuk sebagian invokasi yang berkaitan dengan keagungan (jalal), yang dampak-dampak menggetarkannya tidak sesuai bagi murid jalan ini. Inilah sebabnya jalan Tijani tidak dibangun di atas pencarian pengaruh-pengaruh luar biasa atau kekuatan-kekuatan rohani. Ia tidak didirikan di atas corak pelatihan yang ditempuh dalam sebagian jalan sufi yang lain. Melainkan, ia adalah jalan syukur, sebagaimana telah dikenal di kalangan ahlinya.
Pada saat yang sama, ia tetap merupakan jalan futuhat Ilahiah, maqam-maqam ihsan, dan kasyf-kasyf rohani yang dicurahkan kepada para sahabatnya dari Hadrah Muhammadiyah melalui barakah
Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī.Para ulama bahkan mengatakan bahwa kewaliannya telah begitu dekat menjadi suatu perkara yang nyaris pasti, sehingga ia diakui bukan hanya oleh para pengikutnya, melainkan juga oleh banyak orang di luar mereka.
Meneguhkan Para Kekasih Allah Itu Sendiri Merupakan Suatu Bentuk Kewalian
Para ulama menyatakan bahwa meneguhkan para kekasih Allah itu sendiri merupakan suatu bentuk kewalian, dan bahwa orang yang melakukannya dilindungi dari bahaya, karena ia memasuki lingkup penjagaan Ilahi dan dihitung termasuk golongan ahli Allah.
Barang siapa sungguh-sungguh meneguhkan mereka berarti ia telah memberikan pengakuan yang semestinya kepada rububiyyah Ilahi dan kepada keluasan karunia Allah. Karena itu, bila seseorang menganggap berlebihan bahwa ganjaran besar dijanjikan bagi para penempuh jalan Tijani ini, maka sesungguhnya orang itu sedang mengecilkan anugerah Ilahi, yang tidak memiliki batas dan tidak bertepi.
Para ulama memperingatkan dengan keras terhadap orang-orang yang tergesa-gesa menyanggah para kekasih Allah tanpa meliputi seluruh dalil Syariat dan tanpa menguasai seluruh keluasan bahasa Arab yang dengannya wahyu disampaikan. Orang semacam ini berada dalam bahaya besar; sebab siapa pun yang memusuhi seorang wali Allah, ia telah dinyatakan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya.
Mereka juga menyebutkan bahwa para wali Allah itu bersatu secara batin: apabila salah seorang dari mereka diserang, yang lain berdiri bersamanya dan si penyerang disingkirkan dari kebersamaan mereka. Ini, kata mereka, selalu demikian dan akan tetap demikian.
Seorang penyair mengungkapkan perkara ini dengan indah: apabila pemahamanmu sendiri melemparkanmu ke jurang-jurang kebinasaan, maka lebih baik bagimu seandainya engkau tidak pernah “memahami” dengan cara seperti itu sama sekali.
Namun para ulama tidak berhenti pada kecaman. Mereka menyeru kaum beriman agar tetap menaruh perhatian bahkan kepada kaum Muslim yang belum mengecap manisnya meneguhkan para kekasih Allah, dengan mendoakan agar mereka memperoleh tobat dan taufik Ilahi. Ini, kata mereka, termasuk akhlak Muhammadi yang sejati: menginginkan bagi kaum Muslim apa yang terpuji dan menyelamatkan.
Mereka menutup dengan doa agar Allah memberi manfaat kepada kami melalui seluruh para wali dan orang-orang arif billah, karena kami mencintai mereka dan beriman kepada mereka; dan “barang siapa mencintai suatu kaum, ia akan dikumpulkan bersama mereka.”
Landasan Kenabian bagi Menghamparkan Kain Putih
Para ulama menyebutkan bahwa telah sahih penetapannya bahwa Nabi, ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, menghamparkan selendang mulia beliau bagi saudari sesusuan beliau ketika ia datang bersama delegasi Hawazin. Mereka juga menyebutkan bahwa beliau menghamparkannya bagi Dihyah al-Kalbi ketika ia datang mencari Islam. Dihyah menangis, mencium selendang itu, dan meletakkannya di atas kepala dan kedua matanya.
Ini, jelas mereka, merupakan ungkapan yang nyata dari penghormatan dan pemuliaan. Karena Rasulullah adalah teladan terbaik bagi kita, maka seorang murid boleh menghamparkan kain putih sebagai penghormatan atas kehadiran Sang Tuan wujud, ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bahkan mereka sampai mengatakan bahwa seandainya seseorang menghamparkan dahi dirinya sendiri, atau bahkan kegelapan kedua matanya, untuk sebuah kedatangan semacam itu, maka hal itu pantas.
Mereka mengutip bait-bait syair yang mengungkapkan makna ini: seandainya kami mengetahui kedatanganmu, niscaya kami hamparkan pagi dari hati-hati kami, atau gelapnya mata-mata kami, dan kami jadikan jalan melintasi kelopak-kelopak mata kami, agar lintasanmu berada di atasnya.
Jangan Mengkafirkan Ahli Iman Karena Dosa
Nabi, ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, bersabda: “Tahanlah diri kalian mengenai orang-orang ‘Lā ilāha illā Allāh.’ Jangan kalian kafirkan mereka karena suatu dosa. Barang siapa mengkafirkan orang-orang ‘Lā ilāha illā Allāh,’ maka ia sendiri lebih dekat kepada kekufuran.”
Para ulama menambahkan bahwa ucapan para wali Allah itu halus, melampaui jangkauan pemahaman bahkan banyak orang alim, terlebih lagi orang awam. Karena itu, tidak setiap orang layak untuk menjawab sanggahan atau polemik mengenai para wali dan para ahli tahqiq rohani.
Mereka menyitir Imam Malik, yang pernah menjawab seorang lelaki yang hendak membantah para ahli bid‘ah secara tertulis. Malik memperingatkannya bahwa jika ia tidak kokoh pijakannya dan tidak sepenuhnya mampu, ia bisa tergelincir lalu binasa. Bantahan semacam itu, kata Malik, hanya patut dilakukan oleh seseorang yang begitu mapan sehingga para lawan tidak dapat menemukan celah terhadapnya.
Kaidah yang sama diterapkan di sini: siapa pun yang kurang kedalaman, keseimbangan, dan penguasaan bisa memasuki perdebatan dengan niat membela kebenaran, namun justru membuka pintu-pintu yang tidak sanggup ia tutup. Akibatnya mungkin hanya menambah permusuhan dan kebingungan.
Mereka juga mengutip nasihat Zakariyya al-Ansari: jangan tergesa-gesa mengecam ucapan seorang mujtahid atau menyatakannya keliru kecuali engkau telah meliputi seluruh dalil Syariat dan seluruh bahasa-bahasa serta makna-makna bahasa Arab yang dengannya Syariat datang. Barulah kemudian engkau boleh mengajukan keberatan. Dan betapa jauhnya manusia dari maqam semacam itu.
Di antara Kemuliaan yang Dianugerahkan kepada Kaum Tijani
Salah satu ajaran yang diriwayatkan dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī adalah bahwa para sahabatnya pada Hari Kiamat tidak akan berdiri bersama seluruh manusia di tempat penantian umum. Sebaliknya, mereka akan berada di bawah naungan ‘Arsy, di suatu tempat yang dikhususkan bagi mereka; dan tidak ada seorang pun yang mendahului mereka memasuki Surga kecuali para Sahabat Nabi, semoga Allah meridhai mereka.
Ketika beliau ditanya bagaimana mereka meraih kedudukan seperti itu, beliau menjawab: “Karena aku.”
Sidi Ahmad Skiredj memberi komentar bahwa rahasia hal itu terletak pada sabda yang ditujukan Nabi, ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada sang Syekh: “Orang-orang miskinmu adalah orang-orang miskinku, para muridmu adalah para muridku, dan para sahabatmu adalah para sahabatku.”
Dari sini, katanya, menjadi jelas bahwa terdapat kekerabatan ruhani yang sempurna antara para Sahabat Nabi dan para sahabat Syekh ini. Karena kekerabatan itu, mereka dihitung termasuk orang-orang besar di sisi Allah, meskipun secara lahiriah mereka tampak sebagai orang biasa.
Apa yang Dianjurkan Setelah Wazifa
Para ulama mengatakan bahwa apabila sekelompok saudara membaca Wazifa bersama-sama, dianjurkan agar masing-masing berjabat tangan dengan orang di sebelah kanannya dan orang di sebelah kirinya, mengikuti Sunnah Nabi.
Mereka juga menyebutkan bahwa tidak mengapa membaca Wazifa pada malam hari, baik karena suatu uzur maupun tanpa uzur, karena keutamaan malam.
Jawaban bagi Para Pengkritik: Kalam Ilahi Tidak Terbatas pada Apa yang Ada di Antara Sampul Mushaf
Sebagian pengkritik berpendapat bahwa apa pun yang tidak tertulis di antara dua sampul mushaf tidak dapat disebut sebagai bagian dari kalam Allah. Para ulama menjawab dengan bertanya: kalau begitu, di manakah suhuf yang diturunkan kepada Adam, kepada Syits, dan kepada nabi-nabi lainnya? Di manakah Taurat? Di manakah Injil? Di manakah Zabur?
Mereka menjelaskan bahwa kalam Allah yang azali tidak terbatas pada kitab-kitab yang diturunkan saja, karena Allah senantiasa berbicara secara azali tanpa terputus. Kalam-Nya berada di luar jangkauan akal yang terbatas, sebab yang temporal tidak dapat menangkap hakikat sejati Yang Azali. Allah Mahatinggi dalam Zat, sifat, dan nama-nama-Nya dari segala keserupaan. Apa pun yang terlintas dalam imajinasimu, Tuhanmu tidaklah seperti itu. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Jawaban bagi Para Pengkritik: Mengapa Para Wali Allah Memberi Kabar Gembira kepada Orang-Orang yang Mereka Cintai
Para ulama menjelaskan bahwa ketika para wali Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mereka cintai, mereka melakukannya agar kaum beriman itu bertambah iman di atas iman. Kabar gembira semacam itu melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggembirakan orang beriman dan memancing sang pengkritik.
Orang yang pertama dibukakan kepada makna yang semestinya.XXXXX
Ia menundukkan kepalanya dengan penuh takzim di hadapan mereka dan tidak melihat pada diri mereka selain kebenaran. Adapun yang kedua sama sekali tidak terbuka bagi mereka. سوء الظن menjadi penghalang antara dirinya dan sang pembicara, sehingga ia tidak mendengar kecuali apa yang meneguhkan prasangka-prasangkanya sendiri.
Seandainya ia turun sedikit dari penghargaan-diri yang begitu tinggi, niscaya ia akan mendengar apa yang didengar orang lain dan memahami apa yang akan mendatangkan manfaat baginya.
Para ulama kemudian memberikan contoh dari Jawahir al-Ma'ani, ketika sang Syekh berkata bahwa Sang Penguasa Wujud, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, telah berkata kepadanya dalam keadaan terjaga dan bukan tidur: “Engkau termasuk golongan yang aman, dan setiap orang yang melihatmu termasuk golongan yang aman, bila ia wafat di atas iman.” Syarat “bila ia wafat di atas iman” dengan jelas menunjukkan bahwa keamanan yang dijanjikan adalah keamanan di Akhirat, bukan keamanan duniawi dalam arti terbebas dari seluruh kesulitan di bumi.
Mereka juga mengingatkan para pembaca bahwa syarat pertama jalan ini adalah menunaikan salat-salat wajib dengan benar, dan siapa yang menunaikannya berarti telah masuk ke dalam cakupan janji Ilahi.
Akan tetapi sang pengkritik, ketika ia mempersoalkan apa yang telah Allah siapkan bagi para hamba pilihan-Nya, seakan-akan bersikap bahwa kemurahan Ilahi mesti dibatasi pada standar yang sempit dan terukur. Padahal Allah Mahatinggi melampaui prasangka-prasangka yang membelenggu dari akal-akal yang terbatas.
Jawaban bagi Para Pengkritik: Kepemimpinan Nabi, Shalawat dan Salam Semoga Tercurah Kepadanya
Para ulama memperingatkan orang-orang beriman agar tidak bergabung dengan golongan yang menolak menetapkan kepemimpinan Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya. Beliau sendiri bersabda dalam sebuah hadis sahih: “Aku adalah pemimpin anak-anak Adam, dan ini bukan kesombongan.”
Ini bukanlah berlebih-lebihan, melainkan kesetiaan kepada kata-kata Nabi sendiri yang tegas.
Jawaban bagi Para Pengkritik: Kemungkinan Ilham bagi Mereka yang Bukan Nabi
Para ulama mengingatkan para pembaca mereka bahwa ilham Ilahi tidak terbatas pada para nabi semata. Allah berfirman kepada Musa, ‘alaihis-salam, tentang ibunya: “Dan Kami mengilhamkan kepada ibumu apa yang diilhamkan.” Namun ibu Musa bukanlah seorang nabi. Seandainya ia tidak sepenuhnya mempercayai apa yang diilhamkan ke dalam dirinya, niscaya ia tidak akan melemparkan bayinya ke dalam sungai pada saat yang demikian genting dan berisiko. Tindakannya bertumpu pada ilham, dan ilham itu terbukti benar sesuai dengan janji Ilahi.
Mereka juga menyebut kasus al-Khidr bersama Musa. Menurut paparan di sini, al-Khidr bukan seorang nabi, namun ia bertindak berdasarkan ilham Ilahi. Ungkapan Qur’ani “Aku tidak melakukannya atas perintahku sendiri” dijadikan bukti bahwa yang menggerakkannya adalah sejenis petunjuk yang diwahyukan atau ilham. Musa tidak mengingkari prinsip itu sendiri.
Karena itu para ulama menyimpulkan bahwa ilham semacam ini memang terjadi bagi para wali, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang bodoh. Siapa pun yang membaca kitab-kitab para master ruhani akan mendapati kitab-kitab itu penuh dengan riwayat tentang khitab Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka. Mereka bahkan mengutip Abu al-Hasan al-Shadhili yang memohon dalam hizib agungnya “penyaksian yang disertai khitab langsung.”
Mereka juga mencatat bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah ilham dapat dianggap sebagai hujjah yang mengikat. Banyak fuqaha menolak bahwa ia mengikat secara hukum, sebab seseorang tidak dapat sepenuhnya mempercayai bisikan batin siapa pun yang tidak terpelihara dari kekeliruan. Akan tetapi kaum Sufi berpendapat bahwa ilham bersifat otoritatif bagi seseorang yang Allah pelihara keadaan lahir dan batinnya.
Meski demikian, adab yang baik tetaplah pokok. Seseorang tidak boleh tergesa-gesa mengingkari segala sesuatu, dan tidak pula menerima setiap klaim tanpa kritik. Para ulama menyebut kisah masyhur tentang ‘Abd al-Qadir al-Jilani, yang suatu kali mendengar suara dari langit mengatakan kepadanya bahwa hal-hal yang haram telah dijadikan halal baginya. Seketika ia menjawab: “Pergilah, wahai yang terkutuk. Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.” Bayangan yang menipu itu pun lenyap. Ia tidak tertipu, karena ia menimbang pengalaman itu dengan tolok ukur ilmu yang benar.
Rahasia Memulai Wird dengan Memohon Ampunan
Para ulama menjelaskan bahwa menempatkan istighfar pada permulaan Wird membersihkan hati dari noda dan beban, sehingga hati menjadi siap menerima cahaya-cahaya yang memancar dari dzikir-dzikir sesudahnya.
Kemudian datang shalawat atas Nabi sebelum pernyataan keesaan Ilahi. Dalam urutan itu, kata mereka, terdapat rahasia yang halus: shalawat atas Nabi menyapu sisa-sisa kotoran yang masih tertinggal di dalam hati, sehingga jiwa menjadi siap menanggung apa yang dihasilkan oleh pengulangan pernyataan keesaan Ilahi berupa hakikat-hakikat, kehalusan-kehalusan, rahasia-rahasia, dan pengetahuan-pengetahuan yang dicurahkan dari hadirat Ilahi melalui hakikat Muhammadiyah kepada ruh-ruh yang bercahaya dan bentuk-bentuk jasmani yang gelap.
Mereka menambahkan bahwa di dalam susunan ini terdapat kehalusan-kehalusan yang luhur dan rahasia-rahasia yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh para ahli dzauq, cinta, dan kerinduan.
Perbedaan antara خطاب yang Diberikan kepada Nabi dan خطاب yang Diberikan kepada Wali
Para ulama membedakan dengan jelas antara wahyu kenabian dan ilham yang dianugerahkan kepada para wali.
Adapun bagi nabi, komunikasi itu dapat datang melalui malaikat, tanpa perantara, melalui mimpi yang benar, atau sebagai penuangan langsung ke dalam hati. Semua itu disebut wahyu dan benar-benar dinisbatkan kepada Allah. Siapa yang mengingkari apa yang secara daruri diketahui tentang wahyu semacam itu, maka ia bersalah dalam kekufuran.
Adapun bagi wali, yang diberikan adalah sesuatu yang dilemparkan ke dalam hati, membawa ketenteraman dan kelapangan dada. Inilah yang disebut khitab batin atau ilham. Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, bersabda bahwa di antara umat-umat sebelum kita ada “orang-orang yang diajak bicara secara batin,” dan jika ada yang demikian dalam umat ini, maka ialah ‘Umar. Dalam riwayat lain, mereka digambarkan sebagai orang-orang yang diberi khitab tanpa menjadi nabi.
Inilah perbedaannya: wahyu adalah milik kenabian, sedangkan ilham adalah milik kewalian.
Sunnah Penggunaan Tasbih
Para ulama menegaskan keabsahan tasbih (butiran dzikir) dengan mengemukakan riwayat-riwayat awal.
Safiyya, Ummul Mukminin, meriwayatkan bahwa Nabi masuk menemuinya sementara di hadapannya ada empat ribu biji kurma yang dengannya ia bertasbih kepada Allah.
Juga diriwayatkan bahwa Sa‘d ibn Abi Waqqas memakai kerikil atau biji kurma untuk dzikir; bahwa Abu al-Darda’ memiliki kantong berisi biji kurma yang ia gunakan setiap pagi; bahwa Abu Hurayra menyimpan kantong kerikil atau biji kurma untuk tujuan yang sama; dan bahwa Fatima binti al-Husayn memakai tali bersimpul di tangannya untuk berdzikir.
Disebut pula sebuah riwayat dari ‘Ali, semoga Allah memuliakan wajahnya, yang berkata: “Sebaik-baik alat dzikir adalah tasbih.”
Dengan demikian, penggunaan sibha dipaparkan bukan sebagai bid‘ah yang berseberangan dengan Sunnah, melainkan sebagai sesuatu yang didukung oleh preseden dan amalan devosi.
Pentingnya Salat al-Fatih
Para ulama menyatakan bahwa Salat al-Fatih menjamin kebaikan dunia dan akhirat bagi siapa pun yang berkomitmen kepadanya secara terus-menerus, namun dengan ijazah yang sah.
Kedudukan lahiriahnya, jelas mereka, tersedia bagi siapa pun yang membacanya, dengan izin atau tanpa izin, karena penyampainya, Sidi al-Bakri, berkata tentang dirinya bahwa siapa pun yang membacanya sekali lalu masuk Neraka, maka ia boleh menggugatnya di hadapan Allah. Juga diriwayatkan bahwa satu kali pembacaannya setara dengan enam ratus ribu pembacaan formula-formula yang lain.
Namun Sīdī Aḥmad al-Tijānī menjelaskan dimensi-dimensi kedudukannya yang tidak dijelaskan oleh orang lain. Semua itu bergantung pada niat pembacanya. Seseorang boleh membacanya tanpa meniatkan sifat ruhani tertentu, sehingga ia memperoleh pahala umum, sebagaimana orang awam memperoleh pahala umum atas amal-amal baik. Tetapi kedudukan batin dan kedudukan yang paling batin memerlukan ijazah dan pengetahuan tentang keutamaan khusus yang melekat padanya. Dengan pengetahuan tentang keutamaan itu, derajat yang lebih tinggi diperoleh, dan ini merupakan salah satu sebab mengapa ibadah orang berilmu lebih utama.
Karena itu para ulama memperingatkan agar tidak seorang pun lancang menisbatkan atau men-transmisikan salawat ini pada salah satu dari kedudukan-kedudukan ruhaniahnya tanpa ijazah.XXXXX
Siapa pun yang melakukan hal itu berisiko mengklaim sesuatu yang tidak ia miliki izin atasnya, dan dengan demikian menempatkan dirinya termasuk golongan yang terhalang.
Perbedaan antara Ibadah, Penghambaan, dan Penghambaan Murni
Para ulama membedakan antara tiga konsep yang saling terkait namun berbeda.
Ibadah adalah pelaksanaan amal-amal saleh oleh seorang hamba dengan mengharap pahala.
Penghambaan adalah pelaksanaan amal-amal saleh semata-mata karena Allah, terbebas dari keinginan akan pahala dan dipersembahkan hanya kepada-Nya.
Penghambaan murni adalah bertindak melalui Allah. Ia adalah derajat tertinggi di antara tingkatan-tingkatan ini, dan karena itu, maqam penghambaan murni memiliki dominasi atas seluruh maqam yang lain.
Pembedaan ini singkat, namun mendalam. Ia menandai perbedaan antara berbuat baik demi manfaat, berbuat baik demi Allah, dan dibawa oleh Allah dalam perbuatan itu sendiri.
Perkara-perkara yang Memerlukan Izin Khusus
Para ulama mengatakan bahwa perkara-perkara tertentu secara mutlak memerlukan otorisasi yang khusus dan spesifik, baik dari Allah, dari Nabi, maupun dari Syaikh, dan baik diberikan dalam tidur maupun dalam keadaan terjaga.
Di antara perkara itu ialah membangun sebuah zawiya untuk pembacaan Wazifa. Tempat semacam itu tidak boleh didirikan tanpa izin khusus, karena jika tidak, bisa jadi di dalamnya terdapat bahaya besar dan penipuan yang serius.
Demikian pula, bila saudara-saudara di suatu kota, wilayah, atau desa ingin memulai pembacaan Wazifa secara berjamaah dan terbuka di suatu tempat yang sebelumnya belum pernah ditegakkan, langkah semacam itu juga memerlukan izin. Bila mereka berkumpul tanpa otorisasi tersebut, para ulama memperingatkan adanya bahaya yang sangat berat dan akibat-akibat yang merugikan, karena izin adalah perlindungan.
Mengenal Yang Sungguh-Sungguh Dicari
Sidi Ahmad Skiredj berkata: Allah lebih tinggi dan lebih agung daripada segala sesuatu, dan Dialah Yang dicari. Barang siapa mengetahui apa yang ia cari, ia akan mendapati mudah apa pun yang ia alami.
Pada baris lain dikatakan: Mahasuci Dia yang tidak pernah mengecewakan orang yang mencari-Nya; barang siapa mencari Allah dengan tulus, ia akan menemukan-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa bila suatu amal dilakukan murni demi Allah, maka Allah menerimanya dan menaruh kesiapan menerima amal itu di dalam hati para hamba-Nya. Mereka juga berkata: barang siapa melayani Sang Tuan, maka para hamba pun melayaninya.
Namun bagaimana seseorang maju menuju hadirat Allah? Mereka mengutip makna qudsi: “Aku bersama orang-orang yang hati mereka hancur demi-Ku.” Lalu mereka menarik pelajaran halus dari preposisi Arab “bi,” sebuah huruf yang berharakat kasra. Karena huruf ini tidak terpisahkan dari keadaan merendah, mereka mengatakan Allah meletakkannya di awal Basmala untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang maju memasuki hadirat-Nya kecuali orang-orang yang memiliki kehancuran batin.
Bagaimana Merelakan Ketetapan Ilahi
Para ulama membahas satu poin teologis yang halus mengenai bagaimana seseorang berhubungan dengan apa yang Allah tetapkan.
Mereka mengatakan bahwa kekufuran memiliki satu hubungan dengan Allah sejauh Dia menciptakan dan mengadakan segala sesuatu, dan hubungan lain dengan hamba sejauh ia menjadi sifat dan keadaan hamba. Ia ditolak dan dikecam menurut hubungan yang kedua, bukan yang pertama. Demikian pula, seseorang dapat berbicara tentang ridha terhadapnya menurut hubungan yang pertama, dalam arti menerima ketetapan dan hikmah Allah, namun tidak pernah menurut hubungan yang kedua, dalam arti menyetujui kekufuran itu sendiri.
Perbedaannya jelas: ridha bahwa sesuatu telah terbit dari ketetapan ilahi tidak berarti menyetujui sesuatu yang sama itu sebagai keadaan tercela pada makhluk. Andaikata demikian, niscaya seseorang harus menyetujui wafatnya para nabi hanya karena itu terjadi melalui ketetapan ilahi, dan ini batil menurut ijma’.
Mereka melanjutkan: apa pun yang tidak Allah ridhai tidak dapat pula diridhai pada dirinya. Allah berfirman bahwa Dia tidak ridha dengan kekufuran bagi hamba-hamba-Nya. Karena itu, tidak boleh ada hamba yang ridha dengan kekufuran sebagai kekufuran. Seseorang hanya boleh menerima ketetapan sejauh ia mencerminkan hikmah ilahi, keadilan, dan kesesuaian kehendak ilahi dengan pengetahuan ilahi.
Lalu mereka mengutip Ibn ‘Atha’ Allah: setiap kali Allah memberi kepadamu, Dia memperlihatkan kelembutan-Nya; setiap kali Dia menahan darimu, Dia memperlihatkan keperkasaan dan keagungan-Nya yang mengatasi. Dalam semua itu, Dia sedang memperkenalkan Diri-Nya kepadamu dan menghadapkan Diri kepadamu dengan pemeliharaan-Nya yang lembut.
Renungan Penutup
Mutiara-mutiara ini menawarkan gambaran yang sangat seimbang tentang jalan Tijani.
Ia adalah jalan keindahan, syukur, disiplin, dan syariat. Ia memuliakan para wali tanpa meninggalkan timbangan Syariat Suci. Ia menegaskan ilham sambil menolak delusi. Ia mengagungkan kepemimpinan Nabi seraya memperingatkan terhadap sikap ceroboh dalam kontroversi teologis. Ia menghargai wirid-wirid, otorisasi, kerendahan hati, dan kehancuran batin. Dan ia senantiasa mengembalikan sang pencari kepada kebenaran pusat: Allah adalah Yang dicari.
Dengan cara ini, para ulama Tijani mengajarkan suatu spiritualitas yang sekaligus luhur dan tenang, kaya cinta namun teguh dalam pembedaan, penuh pembukaan namun berjangkar pada adab. Ini bukan rincian pinggiran. Ia termasuk fondasi yang menjaga martabat batin dan koherensi jalan tersebut.
++++