Skiredj Library of Tijani Studies
Keagungan basmalah, Nama Yang Mahatinggi, salawat atas Nabi, ilmu yang suci, ketulusan dalam doa, dan ajaran-ajaran ruhani lainnya
Dalam seri keempat Mutiara Hikmah Para Ulama Tijani ini, kita melanjutkan penghimpunan ajaran-ajaran yang ringkas namun mendalam, yang dipetik dari otoritas-otoritas besar Tijani, khususnya Sidi Ahmad Skiredj. Petikan-petikan ini menyentuh keagungan Bismillah al-Rahman al-Rahim, rahasia Nama Yang Mahatinggi, adab berdzikir, kedudukan salawat atas Nabi, tujuan ilmu yang suci, kehidupan barzakh, serta ketulusan yang dituntut dalam permohonan.
Sebagaimana diminta, setiap mutiara ditampilkan sebagai subjudul tersendiri, dan redaksinya dipertahankan setia semaksimal mungkin kepada makna-makna aslinya sambil dituangkan dalam bahasa Inggris yang jelas.
Keagungan Bismillah al-Rahman al-Rahim
Diriwayatkan dari Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bahwa siapa pun yang menulis Bismillah al-Rahman al-Rahim dan menuliskannya dengan indah karena pengagungan kepada Allah, niscaya akan diampuni.
Riwayat lain menyebutkan bahwa ketika seorang hamba mengucapkan Bismillah al-Rahman al-Rahim, para malaikat menjawab: “Kami memenuhi panggilan-Mu dan semoga keberuntungan bagi-Mu. Ya Allah, hamba-Mu si fulan telah mengucapkan Bismillah al-Rahman al-Rahim; jauhkanlah ia dari Neraka dan masukkanlah ia ke dalam Surga.”
Imam al-Ghazali juga dinukil mengatakan bahwa siapa pun yang membaca basmalah dua belas ribu kali, dan setelah setiap seribu kali ia menunaikan dua rakaat lalu memohon kepada Allah kebutuhan dirinya, kemudian kembali kepada bacaan dan mengulang pola ini hingga jumlahnya sempurna, maka kebutuhannya akan dipenuhi dengan izin Allah.
Manfaat-manfaat lain juga disebutkan dalam literatur yang dinukil: membacanya 113 kali ketika khatib berada di mimbar, sambil berdoa bersama khatib, dikatakan membantu memperoleh permintaan; membacanya lima puluh kali sebelum tidur mendatangkan perlindungan dari hal-hal yang membahayakan; membacanya empat puluh satu kali ke telinga seseorang yang tertimpa gangguan dapat membantu memulihkannya; dan menuliskannya pada pintu suatu tempat dikatakan menjaga orang-orang di dalamnya dari bahaya selama tulisan itu tetap tertulis di sana.
Nama Allah Yang Mahatinggi
Sīdī Aḥmad al-Tijānī berkata bahwa Penguasa Seluruh Wujud, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, telah memberitahunya bahwa Nama Yang Mahatinggi itu terhijab, dan tidak seorang pun diizinkan mengaksesnya kecuali orang yang Allah pilih secara khusus dengan cinta.
Para ulama menjelaskan bahwa Allah dapat memuliakan siapa pun yang Dia kehendaki dengan menganugerahkan pengetahuan tentang Nama mulia ini melalui berbagai cara: melalui penemuan ruhani (wijdan), melalui dituntun kepada salah seorang ‘arif billah yang mengenalnya, atau melalui menerimanya dalam mimpi—sebagaimana terjadi pada banyak hamba yang dicintai, yang niat tulusnya mengantarkan kepada karunia semacam itu.
Diriwayatkan pula dari Sidi al-‘Abdalawi bahwa siapa pun yang diajari sesuatu oleh Sang Syekh dalam mimpi, maka ia diberi wewenang atasnya dengan suatu izin khusus.
Para ulama menambahkan bahwa Allah memberi Surat al-Fatiha suatu keistimewaan yang tidak diberikan kepada bagian-bagian lain, yaitu bahwa huruf-huruf Nama Yang Mahatinggi ini terkandung lengkap di dalamnya bagi orang yang meyakini hal itu tanpa ragu atau bimbang.
Sidi Ahmad Skiredj lebih lanjut menegaskan bahwa dengan prinsip-prinsip matematis seseorang dapat membedakan kebenaran dari kekeliruan dengan cara yang paling jelas. Ia mengisyaratkan perhitungan-perhitungan amat besar yang terkait dengan keutamaan satu kali bacaan al-Fatiha dalam shalat fardhu yang ditunaikan dengan berdiri dalam jamaah. Kesimpulannya sederhana dan praktis: bagaimana mungkin seorang mukmin yang memikul tanggung jawab lalai menjaga shalat berjamaah demi meraih keutamaan yang begitu besar? Ia memuji Allah atas karunia tasdiq, yang dengannya seseorang menjadi termasuk golongan penerima anugerah khusus ini.
Doa-doa dan Munajat Orang-orang Saleh
Di antara wirid indah yang dikutip para ulama adalah doa:
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada junjungan kami Muhammad, Sang Pembuka bagi apa yang tertutup, Sang Penutup bagi apa yang telah lalu, Sang Penolong bagi Kebenaran dengan Kebenaran, Sang Penunjuk menuju jalan-Mu yang lurus, serta kepada keluarganya sesuai kadar nilainya yang sejati dan derajatnya yang agung. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tipu daya-Mu yang halus. Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau.”
Doa lain berbunyi:
“Ya Allah, berilah aku penguasaan atas diriku dengan cara yang menyucikanku dari setiap sifat tercela, dan tuntunlah aku kepada-Mu, wahai Sang Pemberi Petunjuk, tempat segala sesuatu kembali, dan Engkau meliputi segala sesuatu.”
Permohonan lain mengatakan:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang di hadapannya semua wajah tunduk, dan dengan cahaya-Mu yang kepadanya semua mata memandang, agar Engkau menuntunku kepada jalan-Mu yang khusus dengan suatu petunjuk yang memalingkan wajahku dari setiap sesuatu yang dicari selain Engkau. Tariklah aku pada ubun-ubun menuju-Mu dengan genggaman pemeliharaan, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Para ulama juga memelihara permohonan ini:
“Kami memohon kepada Allah—Mahabesar keagungan-Nya—agar Dia menuliskan kami dalam catatan golongan yang berbahagia, yang di dalamnya tidak dituliskan kecuali para wali-Nya yang paling agung dan orang-orang yang memiliki karunia khusus dari-Nya, dengan penulisan yang tidak menerima penghapusan maupun penggantian; dan agar Dia melapisi penglihatan batin kami dengan cahaya-Nya, cahaya yang Dia tebarkan kepada ruh-ruh pada pra-keabadian; dan agar Dia memandang kami dengan mata rahmat-Nya, karena siapa pun yang dipandang-Nya dengan pandangan itu akan dijaga dari cobaan dunia dan akhirat.”
Sebuah zikir singkat yang tertera pada stempel Sidi Mahmud berbunyi:
“Wahai Yang Mengetahui hal-hal yang tersembunyi, wahai Pemberi rezeki kepada makhluk dengan anugerah, ampunilah dosa-dosa kami.”
Skiredj juga menuturkan bahwa ayahnya, ketika berhaji, memohon kepada Allah di maqam yang mulia agar Dia menjadikan urusan-urusan makhluk mengalir melalui tangannya dalam khidmah, menganugerahkan kepadanya anak-anak yang saleh, dan menjadikan di antara mereka seorang wali yang dianugerahi karunia nadhra, seorang yang melaluinya Allah memberi manfaat kepada makhluk-Nya.
Kemudian para ulama mengatakan bahwa melihat Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, adalah karamah yang paling agung bagi orang yang Allah anugerahkan kepadanya. Ia adalah nikmat terbesar yang dapat diharapkan oleh para ‘arif di dunia dan akhirat, dan tiada sesuatu pun melampauinya selain memandang Wajah Allah sendiri.
Perbedaan antara Nama-nama Takhalluq dan Nama-nama Ta‘alluq
Para ulama menjelaskan bahwa Nama-nama Ilahi secara garis besar terbagi menjadi dua kategori: Nama-nama yang melaluinya seseorang mengambil pada dirinya suatu sifat akhlaki yang sepadan, dan Nama-nama yang melaluinya seseorang tetap bergantung dalam doa dan kebutuhan namun tidak meniru maknanya pada dirinya.
Kategori pertama mencakup Nama-nama seperti Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Lembut, dan Yang Maha Mencintai.XXXXX
Orang yang mengingat Nama-Nama ini semestinya niscaya mengambil bagian dari sebagian maknanya: rahmat, kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian penuh cinta.
Kategori kedua mencakup Nama-Nama yang menunjukkan keagungan yang mengalahkan atau perbuatan ilahi yang khusus, seperti Yang Menundukkan, Yang Mahamulia, Sang Pencipta, Sang Pemberi Hidup, dan Sang Pencabut Hidup. Seorang hamba tidak meniru makna-makna ini pada dirinya. Sebaliknya, ia melekatkan diri pada hakikatnya yang lebih tinggi untuk memohon kemenangan atas musuh-musuh batinnya, seperti nafs dan setan, atau musuh-musuh lahiriah, serta untuk memohon dihidupkannya hatinya dan diciptakannya kekuatan dalam ketaatan.
Gerak Ekstatis dan Zikir kepada Allah dalam Keadaan Berdiri
Skiredj bertanya: bagaimana mungkin zikir kepada Allah dalam keadaan berdiri diingkari, padahal Allah sendiri berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring di atas sisi-sisi mereka”?
Ia juga mengutip riwayat dari ‘A’isyah—semoga Allah meridhainya—bahwa Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, dahulu mengingat Allah dalam seluruh keadaan beliau.
Kemudian ia mengatakan bahwa apabila berdiri dalam zikir disertai gerak atau ekstase, tidak ada dasar untuk mengecamnya, karena perkara semacam itu dapat muncul dari kenikmatan penyaksian rohani dan keadaan-keadaan batin. Ia mencatat bahwa dalam sebagian riwayat, Ja‘far ibn Abi Talib bergerak di hadapan Rasulullah ketika Nabi berkata kepadanya, “Engkau menyerupaiku dalam rupa dan akhlak,” dan bahwa Nabi tidak mengecam reaksi ini; dengan demikian, hal itu menjadi dasar secara umum bagi gerak dan ekstase kaum Sufi ketika disentuh oleh kemanisan rohani.
Lalu ia mengutip bait-bait yang masyhur—yang secara makna dinisbatkan kepada Abu Madyan—bahwa: janganlah engkau mengecam orang-orang yang berada dalam ekstase jika engkau belum pernah mengecap anggur cinta; ketika ruh-ruh bergetar karena rindu untuk berjumpa, tubuh-tubuh pun bergerak; bahkan burung dalam sangkar bergetar ketika tanah air disebut-sebut; demikian pula, ruh-ruh para pecinta diguncang oleh kerinduan kepada alam yang tertinggi.
Beberapa Rumusan Shalawat atas Nabi yang Disusun oleh Sidi Ahmad Skiredj
Para ulama menegaskan bahwa bershalawat atas Nabi dengan lafaz apa pun yang sah adalah bentuk ketaatan langsung kepada perintah Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Sidi Ahmad Skiredj menyusun sejumlah bentuk shalawat yang indah atas Nabi tanpa upaya yang dibuat-buat, sesuai dengan apa yang datang kepadanya secara ruhani.
Di antaranya ada shalawat yang maknanya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada yang paling sempurna di antara para rasul, pembawa Panji Pujian, sumber setiap kesempurnaan, dan mata air setiap مدد dan rezeki ruhani, ruh seluruh ciptaan; seandainya bukan karena beliau, niscaya tidak ada rahasia yang mengalir bagi mereka. Dan ya Allah, limpahkanlah salam atas ruh beliau yang disucikan, dan atas keluarganya senantiasa, dan atas seluruh para rasul serta setiap Muslim yang menaati Allah selama-lamanya.”
Yang lain berbunyi secara makna:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan limpahkanlah salam atas ruh beliau di tengah ruh-ruh. Sampaikanlah kepada kedudukan beliau yang luhur kehormatan terpuji yang paling sempurna di hamparan-hamparan kedermawanan dan keselamatan yang sempurna; dan (juga) atas keluarganya serta seluruh ahlul-Lah.”
Yang lain lagi berbunyi secara makna:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas ruh Sang Rasul, sumber setiap مدد, setiap rahasia yang terputus maupun yang tersambung, akar rahmat dan tempat bersemayamnya hikmah, Rasul Allah yang mulia selama-lamanya, jalan yang mengantarkan ke Darussalam. Limpahkanlah shalawat dan salam atas keluarganya, anak-anaknya, para besannya, dan semua yang mencintainya selama kerajaan Allah tetap berlangsung.”
Yang lain berbunyi secara makna:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas asal ruh-ruh dan (atas) dia yang meluaskan kepada mereka مدد yang sempurna yang sampai kepada orang-orang saleh, serta rahasia yang Allah anugerahkan kepada para rasul. Seandainya bukan karena beliau—salam atas ruh beliau—niscaya Allah tidak akan memberikan kepada para rasul apa yang mereka mohon, dan yang selain mereka lebih tidak layak lagi. Ya Allah, jadikanlah salam tetap atas ruh beliau, hantarkanlah beliau ke maqam yang dijanjikan, dan limpahkanlah salam atas keluarga beliau yang mulia dan setiap orang yang berwala’ kepada mereka selama-lamanya.”
Dan yang lain lagi berbunyi secara makna:
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas kedermawanan yang Engkau anugerahkan kepada semulia-mulia para rasul, Muhammad al-Mahmud, pembawa Panji Pujian, imam kaum ahlul-Lah. Limpahkanlah shalawat atas ruh beliau yang disucikan, limpahkanlah salam atas rahasia beliau yang tersuci, limpahkanlah shalawat dan salam atas keluarga beliau yang mulia, dan rahmatilah semua yang mencintainya dan menapaki jalan beliau selama-lamanya; dan (rahmatilah pula) anak-anaknya, para besannya, dan orang-orang yang menaruh kasih kepada mereka, serta seluruh ahlul-Lah selama kerajaan Allah tetap ada.”
Pentingnya Melihat Nabi, Shalawat dan Salam Semoga Tercurah Kepadanya
Para ulama mengatakan bahwa Nabi adalah tajalli Nama Ilahi al-Hadi, Sang Pemberi Petunjuk, dan mereka mengutip ayat Al-Qur’an: “Sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus.”
Lalu mereka menukil (نقل) suatu riwayat yang terdapat dalam literatur devosional bahwa siapa pun yang melihat Nabi dalam mimpi diberi kabar gembira tentang husnul khatimah, syafaat beliau, surga, ampunan baginya dan bagi kedua orang tuanya yang Muslim, pahala seolah-olah ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an dua belas kali, kemudahan
pada sakaratul maut, kelapangan dari azab kubur, keselamatan dari kengerian Hari Kiamat, dan dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan dunianya dan akhiratnya dengan kelembutan dan kedermawanan Ilahi.
Mereka menambahkan bahwa termasuk karunia-khusus yang paling agung dan paling teguh terkait dengan hal ini ialah bahwa siapa pun yang melihat beliau dalam mimpi menerima kabar gembira akan melihat beliau dalam keadaan terjaga.
Dan apabila seseorang melihat beliau tersenyum, maka betapa besar kabar gembira itu mengenai ketaatan dan keterikatan pada sunnah Nabawiyyah yang telah dipraktikkan orang tersebut dalam kehidupan jaganya.
Seorang Wali Tidak Patut Dicari Demi Kebutuhan Duniawi Semata
Para ulama sangat tegas dalam perkara ini: para wali tidak patut dicari semata-mata untuk urusan dunia. Siapa pun yang mendatangi mereka hanya untuk tujuan demikian berada dalam bahaya besar, dan ia beruntung bila selamat tanpa mudarat.
Seluruh tujuan ziarah, jelas mereka, adalah pengagungan kepada Allah melalui pengagungan kepada orang-orang yang telah Dia muliakan. Adapun orang yang menziarahi mereka hanya demi kepentingan pribadi sambil membayangkan bahwa ia sedang memuliakan mereka, maka klaimnya adalah batil di mata siapa pun yang berpikiran adil.
Sebuah Contoh Mata Rantai Keilmuan yang Sakral
Skiredj memberikan sebuah contoh dari para gurunya sendiri, dengan menyebut syekhnya, wali yang saleh dan syarif yang mulia, Mawlay ‘Abd Allah ibn Idris al-Wudghiri, yang dikenal sebagai al-Badrawi al-Hasani. Ia mengatakan bahwa syekh ini termasuk orang-orang yang diberi pembukaan (fath) dan yang berpegang pada kesalehan, dikenal di kalangan ahlul-Lah karena kewalian dan kasyf yang jelas.
Skiredj mempelajari nahwu, fikih, dan hadis bersamanya. Kemudian ia mencatat dengan saksama sanad-sanad dalam fikih melalui para ulama besar Maroko, sampai kembali melalui Malik, Nafi‘, Ibnu ‘Umar, dan akhirnya Nabi, shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya.
Ia juga mencatat bahwa melalui syekh yang sama ini ia membaca Shahih al-Bukhari lebih dari sekali dari awal hingga akhir, baik sebagai pelajaran maupun dalam pembacaan berkesinambungan; dan ia menelusuri isnad itu melalui mata rantai yang panjang hingga sampai kepada Imam al-Bukhari sendiri.
Maksud dari mutiara ini bukan sekadar rincian historis. Ia bertujuan menunjukkan kesungguhan dengan mana ilmu yang autentik ditransmisikan: melalui guru-guru yang hidup, pembelajaran yang berdisiplin, dan mata rantai yang dipelihara dengan saksama.
Berbagai Jenis Ilmu
Sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Sayyiduna ‘Ali menyatakan bahwa ilmu ada empat macam: ilmu yang sedikit maupun banyaknya sama-sama bermanfaat, dan itulah fikih; ilmu yang banyaknya bermanfaat,
dan itulah nahwu; ilmu yang sedikitnya bermanfaat, dan itulah astronomi; dan ilmu yang sedikit maupun banyaknya sama-sama tidak berguna, dan itulah sihir.XXXXX
Skiredj juga meriwayatkan dari syekhnya al-‘Abdalawi, dari al-Qutb al-Hajj ‘Ali al-Tamassini, sebuah penggolongan lanjutan yang dinisbatkan kepada Sang Syekh: ilmu itu ada empat macam. Satu macam mengeraskan hati, yakni fiqh apabila seseorang membeku di dalamnya. Yang lain menjerumuskan kepada kesombongan, yakni nahwu dan yang serupa dengannya. Yang lain membuat seseorang melepaskan dunia, yakni sejarah dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Yang lain menerangi hati, yakni hadits dan apa yang berhubungan dengannya. Yang terakhir ini, katanya, adalah ilmu yang untuknya sanad sangat diperlukan, dan sanad adalah bagian dari agama.
Para ulama kemudian menambahkan sebuah peringatan etis: siapa pun yang dijadikan layak untuk mengajar dan menulis, janganlah sekali-kali memandang ilmunya atau amalnya dengan mata rasa puas diri dan kesempurnaan. Sejauh apa pun ia melangkah, ia harus tetap rendah hati dan meninggalkan klaim-klaim bagi dirinya. Skiredj berkata: jadilah berilmu demi dirimu sendiri, dan jika engkau banyak belajar, anggaplah itu sedikit, dan ucapkan, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” Ajarkan manusia agar mereka ditempatkan dalam timbanganmu, bukan agar engkau ditempatkan dalam timbangan mereka.
Ia juga memperingatkan agar tidak mengklaim kecukupan dalam ilmu tanpa membutuhkan orang lain. Sejauh apa pun seseorang mencapai, modalnya dalam ilmu tetap kecil. Ulama yang suka mengklaim bagi dirinya akan menuai kejengkelan jiwa-jiwa dan membuat orang mencatat kekeliruannya.
Ia mengutip Ibn ‘Abbas: ilmu itu terlalu besar untuk dilingkupi sepenuhnya, maka ambillah yang terbaik dari setiap cabang. Ia mengutip Abu Hurayra: mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih aku cintai daripada tujuh puluh peperangan di jalan Allah.
Mereka juga mengulang kaidah: siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah mewariskannya pengetahuan tentang apa yang belum ia ketahui. Dengan cara ini ia naik pada maqam-maqam ilmu yang hanya dapat dicapai oleh ahlinya.
Dan mereka mengutip bait yang masyhur: katakan kepada orang yang mengaku menguasai ilmu — engkau telah mempelajari sesuatu, tetapi banyak hal luput darimu.
Kehidupan Barzakh
Sidi al-‘Arabi ibn al-Sa’ih ditanya apakah ruh, setelah meninggalkan jasad dan menetap di barzakh, kembali kepada jasad, ataukah kembalinya itu hanya bagi orang-orang kebajikan, dan bagaimana terjadinya kembali itu jika memang ditetapkan.
Ia menjawab bahwa ketika ruh meninggalkan jasad, ia tidak kembali kepadanya secara harfiah, dan tidak pula keluar dari barzakh. Yang ditetapkan tentang semacam “kembali” hanyalah sebuah keterhubungan halus yang memanjang dari ruh kepada jasad, dengan perantara itulah jasad diberi kehidupan. Ini, katanya, hanya milik orang-orang yakin, seperti para syuhada dan mereka yang tetap menunaikan pengaruh ruhani setelah wafat.
Adapun orang-orang kafir, keterhubungan halus itu tidak kembali kepada jasad-jasad mereka kecuali pada saat penanyangan oleh dua malaikat, setelah itu ia kembali ke tempatnya di barzakh.
Kemudian ia menyebut hadits, “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku membalas salamnya,” dan ia mengatakan bahwa banyak pembahasan seputar perkara ini telah ditandai oleh kekacauan, sedangkan petunjuk yang benar adalah sebagaimana yang ia ringkaskan.
Riwayat lain menyebutkan bahwa Jibril memberitahukan Nabi bahwa La ilaha illa Allah adalah sumber keakraban bagi seorang Muslim saat sakarat, di dalam kubur, dan ketika bangkit dari kubur. Orang-orang beriman keluar sambil menepuk-nepuk debu dari kepala mereka; sebagian mengucapkan La ilaha illa Allah dengan wajah yang berseri, sementara yang lain berteriak dalam penyesalan.
Sebuah Doa Khusus yang Disisipkan ke dalam Salat al-Fatih
Para ulama menyebut seorang lelaki saleh, al-Hajj al-Ghali ibn al-Mu‘allim al-Sayyid al-Mukhtar ibn al-Hajj Hammadi Lahlu, yang biasa menyisipkan sebuah doa ke dalam Salat al-Fatih dengan makna sebagai berikut:
“Ya Allah, demi kedudukan ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad, Sang Pembuka bagi apa yang tertutup,’ bukakan untukku pintu-pintu keridaan dan kemudahan, dan tutuplah terhadapku pintu-pintu keburukan dan kesulitan. Demi kedudukan ‘Sang Penutup bagi apa yang terdahulu,’ tutuplah aku dengan pembukaan yang tertinggi, dengan kehadiran junjungan kami Muhammad, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, pada saat yang paling Engkau cintai. Cabutlah ruhku dengan Tangan-Mu sendiri ketika aku sedang bersujud kepada-Mu dan Engkau ridha kepadaku, pada hari aku datang kepada-Mu, dikelilingi oleh tasbih para malaikat-Mu yang dekat, para nabi dan rasul-Mu, dan seluruh hamba-hamba-Mu yang saleh. Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai secara khusus, yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring miring, dalam hidup mereka dan dalam kubur mereka, merasakan kelezatan dalam rahmat-Mu dan keakraban dalam kemurahan-Mu...”
Riwayat itu menambahkan bahwa lelaki ini wafat dalam keadaan sujud pada hari Kamis, 21 Ramadan, 1341 H.
Al-Fatiha dengan Niat Nama Yang Mahatinggi Tidak Disebutkan Kecuali pada Siang Hari
Sebuah surat dari Sidi al-Hajj ‘Abd al-Wahhab ibn al-Ahmar kepada faqih Sidi Muhammad Akansus menjelaskan mengapa al-Fatiha dengan suatu niat khusus tertentu tidak dibaca kecuali pada siang hari.
Ia mengatakan bahwa perkara itu kembali kepada kedudukan al-Fatiha yang amat agung dan besarnya ganjarannya. Bahkan al-Fatiha tanpa niat khusus itu pun memuat keutamaan yang luas. Jika demikian halnya al-Fatiha dalam bacaannya yang biasa, maka bagaimana lagi bila ia dibaca dengan niat tersebut?
Ia menjelaskan bahwa semua adhkar dilipatgandakan pahalanya pada malam hari, tetapi al-Fatiha dengan niat khusus ini tetap dibatasi pada siang hari karena beratnya maqamnya. Ia menuturkan bahwa salah seorang sahabat bertanya kepada Sīdī Aḥmad al-Tijānī apakah ia boleh membacanya seratus kali. Sang Syekh menolak dan berkata bahwa urusannya sangat besar dan pahalanya amat dahsyat, serta tidak boleh dibaca kecuali pada siang hari. Ia menambahkan bahwa siapa yang membacanya seratus kali menjadi kekasih Allah secara khusus. Ketika orang itu menjawab, “Jika Allah mengasihiku
secara khusus, tidak masalah,” Sang Syekh menjawab: “Kasihan engkau — bila Allah mencintai seseorang dengan cinta yang khusus, Dia mengujinya.”
Surat itu ditutup dengan keterangan bahwa menjelang akhir hayatnya, Sang Syekh berhenti memberikan izin mengenainya secara luas karena orang-orang mendengar keutamaannya lalu mengira perkaranya mudah dan dekat dalam jangkauan, sementara beliau mengkhawatirkan bagi mereka fitnah dan kefakiran.
Keikhlasan dalam Berpaling kepada Allah Melalui Doa
Sebuah petikan dari surat Sidi Akansus mengatakan bahwa siapa pun yang benar-benar mencari Allah harus ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan tidak mencampurkannya dengan tujuan-tujuan pribadi; karena di sisi orang-orang yang benar, campuran ini dihitung sebagai suatu bentuk kesyirikan yang halus, dan Allah tidak menerima kesyirikan.
Kemudian ia mengomentari ungkapan: amal-amal adalah bentuk-bentuk lahir, dan ruhnya adalah rahasia keikhlasan di dalamnya.
Ia menjelaskan bahwa doa, dzikir, dan ibadah pada dirinya tidak mengubah takdir atau mengganti putusan Ilahi. Ia hanyalah bentuk-bentuk kehambaan yang terikat pada sebab-sebab, sebagaimana shalat terikat pada waktunya, terbakar terikat pada api, dan kenyang terikat pada makan. Terkabulnya doa itu seperti pahala shalat: ia diserahkan kepada pilihan Allah. Jika Dia menghendaki, Dia mengabulkan orang yang berdoa dan memberi ganjaran kepada orang yang beribadah; jika Dia menghendaki, Dia membiarkannya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.
Namun demikian, doa bermanfaat dalam setiap keadaan apabila Wajah Allah yang dimaksud. Ia tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Entah ia mendatangkan persis apa yang diminta, atau ia mendatangkan kelembutan tersembunyi ke dalam tersingkapnya takdir, memudahkan perkara bagi jiwa hingga panasnya kebutuhan dan perihnya desakan menjadi sejuk — dan itulah sendiri tujuan yang sejati.
Maka orang yang berdoa hendaknya berdoa dengan meniatkan ibadah, menampakkan kefakiran, kelemahan, ketidakmampuan, dan kerendahan hati, seraya menyerahkan urusan kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya, dan membiarkan harap mendominasi terkait permintaan itu. Siapa yang menyempurnakan niat ini dalam doa, kata Akansus, sungguh ia telah berhasil, dengan kehendak Allah.
Pentingnya Merujuk Kitab-kitab Thariqah dan Catatan Rahasia yang Terverifikasi
Poin terakhir ini singkat namun penting. Para ulama menyebut sebuah pernyataan yang disaksikan, bahwa suatu keutamaan yang amat besar yang berkaitan dengan Salat al-Fatih tetap terhijab dari orang yang tidak mengetahui kedudukannya. Siapa yang membacanya tanpa kesadaran akan maqam itu, ia tidak mencapai keutamaan yang amat besar tersebut, sekalipun ia membacanya dalam waktu yang sangat lama.
Pelajarannya bukan bahwa bacaan semata tidak berguna. Melainkan bahwa ilmu itu berperan. Kitab-kitab thariqah yang terverifikasi dan catatan-catatan para ulama yang telah ditashih penting karena ia menjaga bukan hanya teks, tetapi juga maqam, niat, nuansa, izin, dan makna, yang tanpanya banyak hakikat tetap tersembunyi.
XXXXX
Renungan Penutup
Mutiara-mutiara ini memperlihatkan keluasan warisan keilmuan Tijani. Ia tidak terbatas pada formula-formula zikir, dan tidak pula pada semangat devosi yang terlepas dari pengetahuan. Ia memadukan keutamaan yang ditransmisikan dengan disiplin yang cermat, pengagungan dengan kehati-hatian, aspirasi ruhani dengan kerendahan hati, serta harapan yang melimpah dengan kepasrahan yang tulus.
Dalam ajaran-ajaran ini, basmala menjadi gerbang rahmat, Nama Yang Mahatinggi tetap menjadi rahasia cinta yang terjaga, salawat atas Nabi menjadi jalan hidup pencerahan, ilmu menjadi amanah alih-alih klaim, dan doa permohonan menjadi penghambaan yang murni alih-alih tawar-menawar.
Itulah salah satu ciri khas tradisi Tijani pada puncak terbaiknya: bukan sekadar memperbanyak amalan-amalan devosi, melainkan memperdalam ketulusan.
+++++