21/3/20268 min readFR

Mutiara-Mutiara Hikmah Para Ulama Tijani (6)

Skiredj Library of Tijani Studies

Seruan untuk Menulis dan Mengarang Kitab

Seorang sālik tidak sepatutnya meninggalkan kegiatan menulis dan menyusun karya, sekalipun ilmunya terbatas, selama ia menghindari penyimpangan. Kepengarangan bagi seseorang laksana seorang anak saleh.

Sebagian ulama telah menyebutkan bahwa hal itu termasuk dalam sabda Nabi:

“Apabila anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang terus disebarkan, dan anak saleh yang mendoakan dirinya.”

Menurut pandangan saya, menulis termasuk ke dalam ketiga kategori ini.

Ia termasuk penyebaran ilmu, dan itu jelas.

Ia juga termasuk sedekah jariyah, karena Nabi bersabda bahwa kata-kata yang baik adalah sedekah; dan ucapan apakah yang lebih baik daripada tulisan ilmu yang bermanfaat? Tulisan semacam itu tetap menjadi sedekah dari penulisnya yang berlanjut di tengah manusia setelah wafatnya.

Ia juga menyerupai anak saleh, karena sebuah karya tulis, dari segi makna, adalah anak bagi penulisnya. Ia memberi syafaat baginya melalui doa-doa orang yang membacanya, terutama bila penulisnya ikhlas dalam menuliskannya.

Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan taufik dalam hal-hal yang diridai-Nya.

(Sumber: The Zaydani Journey)

Sebuah Rumusan Selawat atas Nabi yang Mengantarkan kepada Melihat Beliau dalam Keadaan Terjaga dan dalam Mimpi

Rumusan ini ditransmisikan oleh perantara mulia Sidi Muhammad ibn al-‘Arabi al-Damrawi, yang mengabarkan kepada sang Syekh bahwa Nabi telah memberinya izin (ijāzah) untuk doa ini.

Kami menyebutkannya di sini demi kemaslahatan saudara-saudara yang tulus, dengan mengetahui bahwa orang-orang yang memendam permusuhan tidak akan mengambil manfaat darinya.

Rumusan itu adalah:

“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Muhammad, hamba-Mu, Nabi-Mu, Rasul-Mu, Nabi yang ummi, dan limpahkanlah selawat kepada keluarga dan para sahabatnya serta karuniakanlah kepada mereka salam yang melimpah.”

Ia dibaca dua puluh lima ribu kali, dan pahalanya dihadiahkan kepada ruh Nabi.XXXXX

Lalu orang itu berkata:

“Wahai Rasul Allah, aku mempersembahkan kepadamu apa yang engkau ketahui tentang keagungan dan kebesaran Allah, dan aku memohon kepadamu demi Allah agar engkau menganugerahkan kepadaku izin dan dukungan ruhani dalam seluruh wirid, zikir, dan doa yang aku baca atasmu. Aku persembahkan kepadamu Wajah Allah, keagungan dan kebesaran-Nya, agar engkau tidak mengembalikanku dalam keadaan kecewa.”

Sang pencari harus meyakini di dalam hatinya bahwa Nabi telah menganugerahkan kepadanya izin dan dukungan ruhani.

Kemudian ia membaca doa itu lagi sebanyak dua puluh lima ribu kali, dengan niat untuk melihat Nabi.

Jika ia melihat beliau, maka sungguh ia telah melihat beliau.

Jika ia tidak melihat beliau, maka Nabi telah melihatnya. Dan apabila Nabi telah melihatnya dan cahaya beliau telah menangkap keberadaan sang pencari, maka seakan-akan sang pencari telah melihat beliau melalui cahaya itu.

Penglihatan ini disebut penglihatan kesempurnaan, yang menarik hati menuju cinta kepada Penghulu manusia.

Sejak hari karunia ini terjadi, hati menjadi terikat pada cinta kepada Nabi, dan seluruh wujud berpaling menuju cinta itu.

Apabila cinta ini mencapai titik ketika hati tidak sanggup menanggung perpisahan dan terbakar oleh kerinduan seperti orang yang demam yang hilang selera makan dan tidur, maka ketahuilah bahwa penglihatan itu telah terjadi.

Sesudah itu, penglihatan itu dapat pula terjadi dalam keadaan terjaga.

Inilah isyaratku — pemahamannya adalah milikmu.

(Sumber: Rafʿ al-Niqab, Bagian Keempat)

Ragam Shalawat atas Nabi yang Diriwayatkan dari Junjungan Kami Abu al-‘Abbas al-Tijani

Yang pertama adalah doa masyhur yang diriwayatkan melalui Sidi Muhammad al-Bakri al-Siddiqi, yang dimakamkan di Mesir:

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad, Sang Pembuka atas apa yang tertutup, Sang Penutup bagi apa yang telah terdahulu, sang penolong kebenaran dengan kebenaran, sang pemberi petunjuk ke jalan-Mu yang lurus; dan limpahkanlah shalawat kepada keluarganya sesuai dengan kedudukan dan ukurannya yang amat agung.”

Doa kedua didiktekan oleh Nabi sendiri kepada syekh kami dalam keadaan terjaga:

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas Mata rahmat Ilahi, permata yang terwujud yang meliputi pusat pemahaman dan makna-makna, cahaya alam-alam, insan yang mengemban kebenaran Ilahi...”

(Teks berlanjut dengan permohonan mistik yang mendalam, yang menggambarkan hakikat ruhani Nabi dan memohonkan shalawat atas beliau.)

Doa ketiga juga didiktekan oleh Nabi kepada syekh dalam keadaan terjaga dan dimulai:

“Allah, Allah, Allah.Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada tuhan selain Engkau...”

Ia adalah seruan panjang yang menggambarkan penampakan cahaya Ilahi, penciptaan hakikat-hakikat, dan martabat tertinggi Nabi di antara makhluk.

(Sumber: Rafʿ al-Niqab, Bagian Keempat)

Faedah Bershalawat atas Nabi

Di antara faedah mengirim shalawat kepada Nabi terdapat banyak keutamaan yang mulia.

Ulama Ibn Farhun al-Qurtubi menyebutkan sepuluh kemuliaan besar yang dihasilkan darinya:

Doa Sang Raja Yang Mahatinggi atas orang yang bershalawat kepada Nabi.

Syafaat Nabi yang terpilih.

Mengikuti teladan para malaikat yang mulia.

Berlawanan dengan kaum munafik dan orang-orang kafir.

Terhapusnya dosa-dosa dan beban-beban.

Pertolongan dalam menunaikan kebutuhan-kebutuhan.

Penerangan atas lahir dan batin.

Keselamatan dari negeri kebinasaan.

Masuk ke negeri yang kekal.

Salam dari Sang Pengampun Yang Mahamulia.

Ulama lain berkata:

Shalawat atas Nabi dapat menjadi tangga dan jalan menuju Allah, bahkan bagi sang pencari yang belum menemukan pembimbing ruhani.

Syekh Zarruq mengatakan bahwa bershalawat atas Nabi mengangkat himmah (cita ruhani) sang pencari, sekalipun ia berada dalam keadaan kebingungan.

Ibn ʿAbbad mengatakan bahwa ia menguatkan keyakinan (yaqin).

Sebagian guru jalan ruhani menyatakan:

“Jika seseorang tidak memiliki pembimbing ruhani, hendaklah ia memperbanyak shalawat atas Nabi, niscaya ia akan sampai kepada pembukaan yang terang.”

Sebagian bahkan berkata:

“Shalawat atas Nabi adalah al-Qur’an dari al-Qur’an dan al-Furqan dari al-Furqan.”

Yang lain berkata:

“Ia membuka penyaksian atas Zat Ilahi dan hakikat-hakikat sifat-sifat Ilahi.”

Ulama besar Ibn Hajar menulis bahwa shalawat atas Nabi membuka pintu-pintu kebahagiaan ruhani yang tidak dapat dibuka oleh apa pun selainnya, dan ia mendatangkan manfaat duniawi dan ruhani.

Karena itu, seorang hamba hendaknya terus-menerus bershalawat atas Nabi siang dan malam, tidak menghendaki apa pun selain cinta, pengagungan, dan pemuliaan bagi beliau.

(Sumber: Rafʿ al-Niqab, Bagian Keempat)

Asal-usul Cahaya Muhammadi

Ini adalah penjelasan oleh ulama besar Sidi Ahmed Skiredj al-Khazraji al-Ansari tentang riwayat masyhur dari Jabir ibn Abdullah.

Jabir bertanya kepada Nabi:

“Wahai Rasul Allah, kabarkan kepadaku tentang hal pertama yang Allah ciptakan.”

Nabi menjawab:

“Wahai Jabir, Allah menciptakan cahaya Nabimu dari cahaya-Nya sebelum segala sesuatu yang lain.”

Para ulama menjelaskan bahwa ini berarti cahaya Nabi adalah asal-muasal yang darinya seluruh cahaya yang lain memperoleh pancarannya.

Seluruh hakikat yang diciptakan muncul melalui cahaya itu menurut ketetapan Ilahi.

Sidi Ahmed Skiredj meriwayatkan sebuah penglihatan ruhani di mana ia menyaksikan sebuah bola kosmik yang amat luas, dikelilingi oleh lapisan-lapisan seperti lapisan-lapisan bawang.

Cahaya Muhammadi menyinari lapisan-lapisan itu, dan melalui celah-celah di dalamnya cahaya itu menyebar ke seluruh ciptaan.

Di mana cahaya itu sampai, tampaklah petunjuk, iman, dan kebahagiaan.

Di mana cahaya itu terhijab, tampaklah kegelapan dan kesesatan.

Demikianlah iman dan kufur tampak di dunia sesuai dengan bagaimana ciptaan menerima cahaya azali itu.

Penglihatan ini menjelaskan baginya bagaimana hakikat-hakikat wujud bersumber dari cahaya Muhammadi.XXXXX

(Sumber: The Skiredjian Illuminations)

Mutiara-Mutiara Tambahan

Kapan Ibadah Sah?

Ibadah tidak sah kecuali melalui tujuh unsur:

niat

ilmu

pemahaman

hakikat ruhani

syariat

sunnah Nabi

seorang pembimbing ruhani

Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan niat tetapi tanpa ilmu, maka ia jahil dalam kaitannya dengan ilmu.

Barangsiapa beribadah dengan niat dan ilmu tetapi tanpa pemahaman, maka ia jahil dalam kaitannya dengan pemahaman.

Barangsiapa beribadah dengan niat, ilmu, dan pemahaman tetapi tanpa syariat, maka ia jahil mengenai syariat.

Barangsiapa beribadah dengan niat, ilmu, pemahaman, dan syariat tetapi tanpa hakikat ruhani, maka ia jahil mengenai hakikat.

Barangsiapa beribadah dengan niat, ilmu, pemahaman, syariat, dan hakikat tetapi tanpa sunnah Nabi, maka ia jahil mengenai sunnah.

Barangsiapa beribadah dengan semua itu tetapi tanpa seorang pembimbing ruhani, maka ia jahil mengenai pembimbing.

Namun barangsiapa beribadah dengan ketujuh-tujuhnya, maka ia berdiri di atas bukti yang jelas dari Tuhannya.

Inilah jalan yang lurus, metode para ‘arif billah, jalan orang-orang saleh, dan mata air tempat para pecinta Allah minum.

(Sumber: Rafʿ al-Niqab, Bagian Keempat)

Makna dan Keabsahan Memohon Tawassul melalui Para Wali

Setiap mukmin wajib berkeyakinan teguh bahwa tidak ada pelaku yang hakiki kecuali Allah. Dia semata yang mencipta, menghidupkan, dan mematikan.

Tidak seorang pun berbagi dalam kerajaan-Nya.

Namun, Allah membolehkan perbuatan dinisbatkan kepada hamba-hamba-Nya melalui sebab-sebab sekunder.

Maka orang berkata:

"Zayd membunuh si fulan,""Penguasa mengangkat seseorang,""Pemimpin menurunkan seseorang."

Padahal pelaku yang sejati di balik seluruh peristiwa adalah Allah.

Demikian pula, diperbolehkan menisbatkan perbuatan kepada para wali apabila dipahami bahwa mereka bertindak dengan izin Allah, bukan secara mandiri.

Para wali bertindak melalui himmah (tekad ruhani) mereka dan melalui izin Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka.

Prinsip ini dijelaskan oleh kisah Asif ibn Barkhiya, yang mendatangkan singgasana Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman sekejap mata.

Perbuatan-perbuatan semacam itu terjadi hanya dengan izin Ilahi.

Karena itu, kaum beriman boleh memohon kepada Allah melalui perantaraan para wali, seraya menjaga akidah yang benar bahwa Allah semata adalah pelaku yang sejati.

(Sumber: Sidi Ahmed ibn al-Ayyashi Skiredj)

Suatu Amalan untuk Mengqadha Salat yang Terlewat

Di antara amalan yang disebutkan oleh para ulama:

Jika seseorang mengerjakan salat empat rakaat pada hari Jumat sebelum salat Asar, dengan membaca pada setiap rakaat:

Al-Fatiha sekali

Ayat al-Kursi sekali

Surah al-Kawthar lima belas kali

Kemudian setelah selesai ia beristighfar sepuluh kali dan berselawat kepada Nabi lima belas kali.

Diriwayatkan bahwa salat ini menjadi kafarat bagi salat-salat yang terlewat, meskipun bertahun-tahun lamanya.

Dzikir-dzikir dan doa-doa lain juga diriwayatkan untuk tujuan yang sama.

Makna Bertambahnya Rezeki

Rezeki yang ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya tidak bertambah dan tidak berkurang.

Namun, apabila seseorang memohon kepada Allah akan karunia-Nya tiga kali setiap hari, terjadilah suatu pertambahan.

Pertambahan ini tidak berarti perubahan pada bagian asal.

Melainkan, Allah menganugerahkan tambahan khazanah dari gudang-gudang luas kemurahan-Nya, melampaui apa yang semula dialokasikan.

Dia menganugerahkannya semata-mata karena karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

(Sumber: Nayl al-Amani karya Sidi Ahmed ibn al-Ayyashi Skiredj)

+++++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul Pearls of Wisdom of the Tijani Scholars (6)