21/3/20267 min readFR

Mengapa Thariqah Tijani Melarang Mengunjungi Wali Lain untuk Mencari Tujuan Spiritual

Skiredj Library of Tijani Studies

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Salah seorang saudara Tijani kami mengajukan sebuah pertanyaan penting tentang salah satu dari tiga syarat mengikat yang masyhur dalam thariqah Ahmadi Tijani: larangan mengunjungi wali lain untuk tujuan pencarian spiritual. Ia sudah mengetahui syarat itu sendiri, namun ia ingin memahami sesuatu yang lebih dalam: mengapa thariqah Tijani menyatakan syarat ini dengan begitu tegas, dan bukti apa yang mendukungnya dalam nash-nash otoritatif?

Ini pertanyaan penting karena banyak orang mengira bahwa thariqah Tijani itu unik dalam hal ini. Padahal, prinsip tersebut jauh lebih tua dan jauh lebih luas. Thariqah Tijani tidak menciptakannya. Sebaliknya, ia menegaskannya dengan jelas dan menyatakan secara eksplisit apa yang sejak dulu telah diperlakukan oleh para masyayikh sufi agung sebagai sesuatu yang sudah terang-benderang.

Sebuah Prinsip yang Ditemukan di Seluruh Tradisi Sufi

Larangan itu bukanlah kekhususan Tijani yang terisolasi. Ia berakar pada logika spiritual dari proses pemuridan itu sendiri.

Di kalangan para masyayikh sufi dari awal hingga akhir, kaidah ini dipahami dengan baik: seorang murid yang telah mengaitkan dirinya kepada satu syekh untuk تربية rohani dan dukungan spiritual tidak dimaksudkan untuk berpaling kepada syekh lain demi mencari jenis manfaat batin yang sama. Karena itu, banyak syekh terdahulu tidak merasa perlu mencantumkannya sebagai syarat formal, sebab mereka menganggapnya sesuatu yang jelas.

Seorang murid dituntut menampakkan ketulusan dan orientasi yang eksklusif kepada syekhnya dalam perkara تربية rohani. Ia tidak seharusnya membagi ketergantungan batinnya, perhatian spiritualnya, atau pencariannya di antara banyak guru. Dalam bahasa thariqah, pembagian semacam itu berujung pada kerugian.

Hal ini terkait erat dengan seruan Al-Qur’an kepada ketulusan dan pengabdian yang eksklusif. Allah Ta‘ala berfirman:

“Sembahlah Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya semata. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”

Dan Dia berfirman:

“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.”

Jalan spiritual dibangun di atas ikhlas, ketulusan. Dalam relasi antara murid dan syekh, ketulusan ini menuntut kesetiaan batin dan kebulatan hati.

Mengapa Syarat Ini Begitu Penting

Seorang murid bukan sekadar pengunjung di hadapan syekhnya. Ia adalah seseorang yang menerima pelatihan, pendisiplinan, dan dukungan spiritual. Dalam relasi semacam ini, bahkan berpaling sejenak pun dapat merusak secara spiritual.

Para masyayikh thariqah sejak lama mengajarkan bahwa seorang murid bisa kehilangan, dalam satu saat orientasi yang terbagi, sesuatu yang tidak akan dapat ia pulihkan kembali sepanjang hidup. Karena itu, mereka memandang ketidaktaatan terhadap tatanan spiritual thariqah sebagai perkara yang amat serius.

Sebuah riwayat yang terpelihara dalam al-Ifada al-Ahmadiyya menyebutkan bahwa junjungan kita Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, berkata bahwa Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bersabda kepadanya:

“Ada suatu perkara yang dilalaikan para syekh: barang siapa mengambil dari satu syekh lalu mengunjungi yang lain di antara para awliya, ia tidak akan memperoleh manfaat dari yang pertama maupun dari yang kedua.”

Pernyataan ini langsung menyentuh inti persoalan. Masalahnya bukanlah adab, cinta, atau penghormatan kepada para wali Allah. Masalahnya ialah pengambilan spiritual yang terbagi.

Dua Kategori Murid dalam Thariqah-Thariqah Lain

Jika seseorang menelaah dengan cermat tradisi sufi yang lebih luas, ia akan mendapati bahwa banyak thariqah pada hakikatnya membedakan antara dua macam murid.

Kategori pertama terdiri dari mereka yang mencari keberkahan, kasih sayang, ilham umum, atau baraka. Bagi orang-orang semacam ini, banyak syekh tidak terlalu keberatan apabila mereka bertemu wali-wali lain.

Kategori kedua terdiri dari mereka yang mengambil dukungan spiritual, pelatihan, dan pembentukan batin secara langsung dari seorang syekh tertentu. Mereka ini adalah orang-orang istimdad, penerimaan spiritual. Untuk kategori kedua ini, para masyayikh jauh lebih tegas. Mereka sering melarangnya duduk bersama syekh-syekh lain dengan cara yang memasukkan jalur penerimaan batin yang lain.

Pembedaan ini membantu menjelaskan syarat Tijani. Thariqah Tijani adalah thariqah komitmen, bukan keterikatan yang santai. Ia mengeluarkan murid dari gerak spiritual yang tercerai-berai dan menempatkannya dalam sebuah perjanjian yang terdefinisi.

Sebuah Peringatan Keras dari Para Masyayikh

Keseriusan kaidah ini tercermin dalam ungkapan yang mencolok yang dinisbahkan kepada junjungan kita Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya:

“Dosa-dosa yang dilakukan terhadap para syekh tidak diampuni.”

Maksudnya bukan bahwa rahmat Allah itu terbatas. Melainkan, ia menunjuk pada beratnya pelanggaran terhadap kesucian perjanjian spiritual dan bahaya ketidaktaatan dalam perkara تربية.

Prinsip ini dijelaskan oleh sebuah kisah penting yang diriwayatkan oleh Sidi al-Hajj Lahcen Fetouaki Demnati.

Sebuah Kisah yang Menjelaskan Hakikat Kaidah Ini

Sidi al-Hajj Lahcen Fetouaki Demnati pernah menceritakan tentang seorang lelaki yang, pada masa mudanya, bertemu salah seorang wali besar di Marrakesh. Ia mengambil darinya, mengikutinya, dan sangat mengambil manfaat dari kebersamaannya. Kelak, keadaan membawanya jauh, ke sebuah wilayah Sahara. Di sana ia tinggal lebih dari setahun dan berkenalan dengan syekh lain yang dikenal karena kesalehannya. Setiap kali bertemu dengannya, ia menampakkan adab dan penghormatan.

Namun selama masa itu, keadaan batinnya memburuk. Ia melakukan banyak dosa, kehilangan banyak kejernihan batinnya, dan tidak lagi mendapati ketenteraman yang dahulu ia kenal ketika terikat kepada syekh pertamanya di Marrakesh.

Akhirnya ia bepergian kembali untuk mengunjungi syekh pertamanya, meski ia datang dipenuhi rasa takut dan malu karena banyaknya dosa. Ketika ia tiba, sang syekh berpaling darinya sepenuhnya dan bertindak seolah-olah ia tidak ada. Lelaki itu pun sangat gelisah dan mengira penyebabnya pasti dosa-dosanya yang banyak dan berat.

Keesokan harinya ia maju dan meminta ampunan. Syekh itu berkata kepadanya: Aku telah memaafkanmu atas dosa ini dan dosa itu, bahkan menyebutkan beberapa dosa besar yang paling menakutkannya. Namun ketika lelaki itu bertanya apa yang masih belum diampuni, syekh itu menjawab:

“Aku memaafkanmu atas segala sesuatu kecuali pertemuanmu dengan selain kami dan berpalingmu dari hadirat kami. ”XXXXX

Itu yang tidak aku maafkan. Dosa-dosa terhadap para syekh tidak diampuni. Janganlah engkau menyekutukan siapa pun dalam cinta kami jika engkau ingin dihitung termasuk orang-orang lelaki.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa persoalan pokoknya bukan semata-mata dosa lahiriah, melainkan pecahnya kesetiaan rohaniah.

Dalil Al-Qur’an atas Larangan

Adapun dalil dari Al-Qur’an, teks-teksnya banyak, tetapi salah satu yang paling jelas dikemukakan oleh syarif yang diberkahi dan wali Malāmati, Sidi M’hammed ibn Abi Nasr al-‘Alawi al-Sijilmasi, salah seorang sahabat pilihan Syekh kami.

Ia dikenal karena kadang-kadang menjawab hanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Suatu ketika, seorang ahli fikih datang kepadanya dan menanyakan makna serta dalil larangan ini di dalam Al-Qur’an. Ia segera menjawab dengan ayat:

“Allah membuat perumpamaan: seorang laki-laki yang dimiliki bersama oleh beberapa sekutu yang saling bertengkar, dan seorang laki-laki lain yang sepenuhnya menjadi milik satu tuan. Apakah keduanya sama dalam perbandingan? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Ayat ini dengan indah menangkap makna rohaniah dari syarat tersebut. Hati yang terbagi di antara klaim-klaim rohaniah yang saling bersaing tidaklah seperti hati yang sepenuhnya diarahkan melalui satu garis تربية. Murid yang secara batin menjadi milik satu guru rohani tidaklah seperti orang yang membagi dirinya di antara beberapa orang. Yang pertama memiliki kesatuan, yang kedua kebingungan.

Itulah sebabnya ayat ini begitu kuat dalam menjelaskan syarat Tijani: persoalannya bukan permusuhan terhadap para awliya, melainkan penjagaan atas kesatuan dan kejernihan rohaniah.

Jalan Tijani dan Eksklusivitas Spiritual

Jalan Ahmadi Tijani menyatakan syarat ini secara tegas karena ia merupakan jalan perjanjian, disiplin, dan transmisi yang terarah. Ia tidak mengizinkan murid mengembara secara rohani di antara para guru, dengan harapan menghimpun cahaya dari segala arah.

Ini bukan ketidakhormatan terhadap para wali yang lain. Justru sebaliknya, jalan Tijani memuliakan para awliya Allah. Namun ia membedakan antara memuliakan mereka dan berpaling kepada mereka untuk mengambil secara rohani setelah seseorang telah memasuki perjanjian yang mengikat.

Pembedaan itu bersifat esensial.

Kesimpulan

Larangan mengunjungi para wali lain untuk tujuan pencarian rohani bukanlah suatu bid‘ah yang asing dari jalan Tijani. Ia merupakan prinsip yang berakar kuat dalam disiplin tasawuf. Jalan Tijani hanya menjadikannya eksplisit sebagai suatu syarat formal karena kejernihan dan keteguhan perjanjiannya.

Landasannya terletak pada keikhlasan, eksklusivitas arah, dan penjagaan ikatan batin antara murid dan syekh. Ia didukung oleh tradisi Sufi yang lebih luas, oleh ucapan-ucapan

para guru, oleh pengalaman hidup, dan oleh perumpamaan Qur’ani tentang hamba yang terbagi di antara banyak pihak berbanding dengan hamba yang sepenuhnya terikat kepada satu tuan.

Pada akhirnya, hikmahnya jelas: hati maju dengan keterhimpunan, bukan dengan keterpecahan.

Wa al-salam ‘alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.

++++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul Why the Tijani Path Prohibits Visiting Other Saints for Spiritual Seeking