21/3/20268 min readFR

Ketika Seorang Murid Tijani Tidak Pernah Mempelajari Syarat-Syarat Jalan — dan Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya

Skiredj Library of Tijani Studies

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Semoga Allah melimpahkan salawat, salam, dan berkah kepada junjungan dan tuan kami Sayyidina Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Dari waktu ke waktu, pertanyaan-pertanyaan penting muncul di kalangan para murid Tijani tentang syarat-syarat dasar jalan Tijani, terutama ketika syarat-syarat itu tidak dijelaskan dengan semestinya pada saat baiat. Dua keadaan nyata menggambarkan masalah ini dengan jelas.

Seorang saudara menjelaskan bahwa ia telah berafiliasi dengan jalan Tijani selama sepuluh tahun, namun tidak pernah diajari syarat yang melarang kunjungan kepada para wali untuk pengambilan rohani. Yang lain mengatakan bahwa ia telah mengambil wird Tijani delapan tahun sebelumnya dan, karena kecintaannya kepada zikir Allah yang melimpah serta banyaknya waktu luang yang ia miliki, ia menambahkan ke dalam wird Tijani-nya sebuah wird lain dari jalan Sufi yang berbeda dan telah membaca keduanya bersamaan selama lebih dari dua tahun.

Dua keadaan ini serius, namun juga menyingkap persoalan yang lebih luas: banyak murid tidaklah bersalah pada diri mereka sendiri. Kesalahan sering kali terletak pada orang-orang yang menyampaikan jalan Tijani tanpa menjelaskan syarat-syaratnya yang mengikat dengan semestinya.

Tiga Syarat Esensial Jalan Tijani

Jalan Tijani berdiri di atas tiga syarat yang sudah masyhur. Ini bukan rincian yang boleh dipilih. Ini bersifat mendasar.

Yang pertama adalah ketekunan dalam wird Tijani hingga wafat.

Yang kedua adalah tidak mengambil wird lain dari jalan lain dan menambahkannya ke dalam wird Tijani.

Yang ketiga adalah tidak mengunjungi para wali untuk pengambilan rohani, sembari tetap memelihara sepenuhnya rasa hormat, takzim, dan pemuliaan terhadap seluruh kekasih Allah, semoga Allah meridai mereka semua.

Tiga syarat ini harus disampaikan dengan jelas kepada murid sebelum perjanjian itu disempurnakan. Tidak ada muqaddam yang bertanggung jawab yang patut menaruh wird Tijani ke tangan seseorang tanpa terlebih dahulu memperkenalkan syarat-syarat ini.

Jika Anda Tidak Pernah Diberi Tahu Syarat-Syarat Ini

Jika seorang murid memasuki jalan itu tanpa pernah diberi tahu tentang شروط ini, maka murid tersebut bukan pihak pertama yang patut disalahkan. Kesalahan utama ada pada orang yang menyampaikan jalan itu dengan serampangan dan gagal menjelaskan apa yang tidak dapat ditinggalkan.

Dalam keadaan seperti ini, murid itu hendaknya terlebih dahulu mempelajari syarat-syarat tersebut dengan jelas, lalu bertekad untuk menegakkannya. Setelah itu, ia hendaknya memperbarui perjanjiannya melalui muqaddam lain yang memenuhi syarat—seorang yang mengetahui urusan-urusan jalan dengan baik dan berpengalaman dalam kaidah serta kewajiban-kewajibannya.

Pembaharuan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan murid. Ia dimaksudkan untuk memulihkan perjanjian di atas pengetahuan yang benar dan komitmen yang tepat.

Dapatkah Seorang Murid Tijani Menggabungkan Dua Wird?

Jawabannya: tidak.

Seorang murid Tijani tidak dapat membaca wird Tijani bersamaan dengan wird dari jalan Sufi yang lain. Junjungan kami Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, bersabda:

“Meterai kami turun di atas setiap meterai, dan tidak ada meterai yang turun di atasnya.”

Pernyataan ini mengungkap salah satu realitas yang menjadi ciri jalan kami. Wird Tijani tidak dimaksudkan untuk digabungkan dengan komitmen harian formal jalan yang lain. Itulah sebabnya syarat kedua itu ada.

Seorang muqaddam tidak boleh memulai seseorang ke dalam jalan Tijani tanpa terlebih dahulu menjadikan syarat ini tegas dan memperoleh penerimaan murid atasnya.

Kesalahpahaman Umum tentang Zikir yang Melimpah

Sebagian murid mengira bahwa menambahkan wird kedua adalah tanda semangat dalam zikir, dan bahwa hal itu termasuk ke dalam seruan Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Namun ini adalah kesalahpahaman.

Ya, zikir yang melimpah itu dicintai. Tetapi zikir yang melimpah tidak berarti mencampur perjanjian-perjanjian rohani yang mengikat dari jalan-jalan yang berbeda. Persoalan di sini bukan zikir secara umum. Persoalannya adalah komitmen kepada suatu jalan tertentu yang syarat-syaratnya diketahui dan mengikat.

Murid yang menggabungkan wird Tijani dengan wird jalan lain mungkin mengira ia melakukan lebih banyak, tetapi sesungguhnya ia telah melanggar salah satu syarat esensial jalan Tijani.

Tanggung Jawab yang SebenarnyaXXXXX

Dalam banyak kasus, murid semacam itu bukanlah pihak yang terutama patut disalahkan. Masalah yang lebih dalam ialah bahwa sebagian orang menyampaikan tarekat Tijani dengan ringan, menawarkannya kepada orang lain tanpa mengajarkan tiga syaratnya yang mengikat. Hal ini melemahkan tarekat, membahayakan para murid, dan menimbulkan kebingungan di tempat yang semestinya ada kejelasan.

Tarekat Tijani bukanlah lencana sosial. Ia adalah sebuah perjanjian.

Ia tidak boleh diserahkan dengan cara serampangan, tidak pula disesuaikan dengan kemudahan pribadi, dan tidak pula dicampuradukkan dengan perjanjian-perjanjian lain.

Satu Contoh yang Menggetarkan: Mimpi Gelang Emas

Salah satu peristiwa yang paling menyingkap keadaan menyangkut seorang lelaki yang dahulu biasa melantunkan Wazifa bersama para ikhwan secara teratur di zawiya Tijani Youssoufia di Rabat. Kemudian, karena kelalaian dan sikap ceroboh—bukan karena pengingkaran atau penolakan—ia menjauh perlahan dari tarekat. Setelah beberapa waktu, ia bertemu para pengikut tarekat Sufi yang lain, menjadi dekat dengan mereka, dan pada akhirnya mengambil wird mereka pula.

Ia tetap berada dalam keadaan itu selama beberapa bulan.

Lalu ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelang dari emas murni di tangannya. Namun di atasnya ia memasang gelang lain dari tembaga, yang menutupi emas itu. Ia sangat tidak menyukai hal ini, karena kemuliaan, keindahan, dan nilai emas. Tidak ada bandingan antara emas dan tembaga. Ia mencoba membalik urutannya dan menempatkan emas di atas tembaga, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Mimpi ini berulang lebih dari empat kali.

Kemudian, secara kebetulan, ia bertemu salah seorang ikhwan dan menyebutkan mimpi tersebut, sambil menyembunyikan fakta bahwa ia telah mengaitkan dirinya dengan tarekat lain. Ia disuruh pergi kepada muqaddam, Sidi al-Hajj Lahcen Fetouaki, yang dikenal karena kejernihan firasatnya dalam menakwil mimpi.

Ketika ia menceritakan mimpi itu kepada muqaddam, muqaddam segera berkata kepadanya: sekarang aku mengerti mengapa engkau menghilang dari zawiya selama sekian bulan ini. Engkau meninggalkan tarekat Tijani dan mengaitkan dirimu dengan tarekat lain.

Lelaki itu tercengang dan bertanya siapa yang telah memberitahunya tentang hal itu. Muqaddam menjawab: mimpimu telah memberitahuku.

Lalu ia menjelaskan kepadanya bahwa gelang emas itu melambangkan cap penutup yang unik dari tarekat kita, sebagaimana yang diungkapkan dalam ucapan junjungan kita:

“Cap penutup kami turun di atas setiap cap penutup, dan tidak ada cap penutup yang turun di atasnya.”

Pada saat itu, lelaki tersebut mulai menangis. Ia berkata bahwa ia tidak meninggalkan tarekat Tijani karena penolakan, melainkan semata karena kelalaian, dan bahwa cintanya kepada junjungan kita Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridai beliau, tidak pernah bergeser dari hatinya walau sehelai rambut.

Muqaddam kemudian mengatakan kepadanya bahwa cinta itulah yang menjadi perantara baginya dan mengembalikannya kepada pemahaman yang lurus. Lelaki itu meminta pembaruan, bertobat kepada Allah, berjanji tidak akan kembali kepada kesalahan itu, dan muqaddam pun membarukan tarekat untuknya.

Apa yang Diajarkan Kisah Ini

Peristiwa ini memuat beberapa pelajaran.

Pertama, hati seorang murid masih dapat memelihara cinta kepada junjungan kita bahkan setelah jatuh ke dalam kekeliruan.

Kedua, kelalaian itu berbahaya. Seseorang dapat terhanyut tanpa menyadari beratnya apa yang sedang ia lakukan.

Ketiga, tarekat dapat dibarui setelah tobat, tetapi tidak tanpa meninggalkan pelanggaran itu dan kembali dengan tulus.

Keempat, bahasa simbolik mimpi kadang-kadang menyingkap kontradiksi spiritual dengan lebih jelas daripada الكلام biasa.

Emas tetaplah emas, tetapi ia telah tertutupi. Itulah intinya. Murid itu tidak mengingkari nilai tarekat Tijani, tetapi ia telah mengaburkannya dengan melapiskan perjanjian lain di atasnya.

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Murid dalam Keadaan Seperti Ini

Jika seorang murid belum pernah diajarkan tiga syarat pokok, ia harus mempelajarinya sekarang dan membarui perjanjiannya dengan benar.

Jika ia telah menambahkan wird lain di samping wird Tijani, ia harus menghentikan pembacaan wird kedua itu jika ia ingin tetap setia kepada tarekat Tijani.

Kemudian ia hendaknya membarui perjanjiannya melalui muqaddam yang berilmu dan berpengalaman serta bertobat kepada Allah Ta‘ala atas kekurangan yang memengaruhi amalannya selama bertahun-tahun.

Inilah jalan maju yang lurus: bukan putus asa, melainkan perbaikan.

Peran Muqaddam

Muqaddam bukan sekadar orang yang memberikan formula-formula untuk dibaca. Ia bertanggung jawab menransmisikan tarekat dengan kejujuran dan ketelitian.

Ia harus menjelaskan syarat-syarat itu dengan terang.

Ia tidak boleh menyembunyikannya.

Ia tidak boleh mereduksi tarekat menjadi semata perasaan atau kepemilikan sosial.

Dan ia tidak boleh menginisiasi orang dengan sembarangan, lalu membiarkan mereka bingung selama bertahun-tahun.

Kewibawaan tarekat Tijani menuntut kejelasan sejak awal, bukan perbaikan setelah kerusakan.

Pengingat Penutup

Tarekat Tijani kita adalah tarekat perjanjian, keikhlasan, dan kesetiaan. Tiga syaratnya bukan perkara sampingan. Ia merupakan bagian dari struktur tarekat itu sendiri.

Siapa pun yang masuk tarekat tanpa mengetahuinya hendaknya mempelajarinya dan memperbaiki keadaannya.

Siapa pun yang menggabungkan wird Tijani dengan wird tarekat lain hendaknya meninggalkan yang kedua dan membarui perjanjiannya.

Dan siapa pun yang menransmisikan tarekat harus bertakwa kepada Allah terkait amanah yang diletakkan di tangannya.

Perkaranya sederhana, tetapi serius: wird Tijani tidak untuk digabungkan, dan perjanjian tidak untuk diperlakukan dengan ringan.

Wa al-salam ‘alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.

+++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul When a Tijani Disciple Never Learned the Conditions of the Path — and What to Do Next